-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 1
Expand file tree
/
Copy pathArticle about AI.txt
More file actions
100 lines (100 loc) · 313 KB
/
Article about AI.txt
File metadata and controls
100 lines (100 loc) · 313 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
Mesin "Artifical Intelligence" Sudah Bisa Membaca Lebih Baik dari Manusia KOMPAS.com Kemampuan program robot kecerdasan buatan ( artificial intelligence, AI) semakin berkembang dan menjadi makin pintar pula. Dalam salah satu perkembangan terbaru, program AI bikinan Alibaba dan Microsoft bahkan sudah bisa mengalahkan manusia dalam uji pemahaman membaca (reading comprehension) Universitas Standford, Amerika Serikat. Tes bernama Standford Question Answering Dataset (Squad) itu berupa 100.000 pertanyaan yang jawabannya terkait dengan 500 artikel dari Wikipeda. Menggunakan proses natural language processing (NLP) yang meniru pemahaman manusia terhadap katakata dan kalimat, sebuah program AI membaca artikel lalu menjawab pertanyaan mengenai terkait. Ragam tema dan pertanyaannya bermacammacam, mulai dari “Tahun berapa Genghis Khan meninggal?” hingga “Apa nama kapal luar angkasa (dari serial TV) Doctor Who?”. Jawaban AI lantas dibandingkan dengan skor ratarata Squad yang diraih subyek manusia sebesar 82.304 poin. Hasilnya, AI bikinan Alibaba berhasil mencetak nilai yang sedikit lebih tinggi, sebesar 82.304 poin. “Ini merupakan kali pertama mesin mengalahkan manusia dalam ujian (reading comprehension),” sebut Alibaba dalam sebuah pernyataan yang dirilis awal pekan, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari CNN Money, Rabu (17/1/2018). Sehari setelahnya, giliran AI buatan Microsoft yang mencetak skor miripmirip lebih tinggi lagi, sebesar 82.650 poin. Meski nilai kedua AI hanya berselisih sedikit dari ratarata subyek manusia, namun tetap saja pencapaian mereka terbilang luar biasa dalam hal machine reading oleh kecerdasan buatan. Di masa depan, teknologi ini diperkirakan bakal banyak diaplikasikan di beberapa sektor seperti customer service. Alibaba sendiri mengaku sudah mulai menggunakan AI dengan teknologi sejenis dalam ajang belanja online Singles’ Day di China, November lalu. AI Alibaba ketika itu dipakai untuk menjawab aneka macam pertanyaan dari konsumen secara otomatis, tanpa perlu melibatkan pekerja customer service. Perusahaanperusahaan teknologi di Silicon Valley sedang getol mengembangkan AI. China, negara asal Alibaba, pun tak mau ketinggalan dan mencanangkan bakal menjadi pemimpin dunia dalam hal kecerdasan buatan pada 2020. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Negeri Tirai Bambu bakal menggelontorkan dana senilai 150 miliar dollar AS untuk membangun industri AI domestik dalam beberapa tahun ke depan.
Mengenal Artificial Intelligence, Kecerdasan Teknologi yang Lebih Komprehensif Pernahkah sebelumnya manusia membayangkan bisa berbicara dengan komputer dan ponsel? Micorosoft menciptakan Cortana, sementara Apple mempunyai Siri, kemudian Google mengembangkan Google Talk. Ketika berbicara pada laptop atau ponsel, pemiliknya bisa mendapatkan jawaban. Entah jawaban berupa ucapan juga atau menghantarkan pengguna ponsel pada laman situs tertentu. Bahkan dengan suara seseorang mampu melakukan panggilan telepon tanpa haru menyentuh layar. Bahkan kinj juga berkembang sejenis chatbot atau robot percakapan dalam suatu layanan tertentu. Bila sebelumnya seorang pelanggan berbicara pada manusia melalui saluran telepon untuk menanyakan informasi pemesanan hotel, kini robot mewakili pekerjaan tersebut. Cukup lakukan percakapan melalui aplikasi chatting. Semua jenis informasi mengenai pelayanan hotel dengan mudah didapatkan. Bentuk teknologi tersebut dinamakan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam dunia teknologi, AI bukan hal baru. Keberadaannya sudah ada cukup lama hanya saja tidak kasat mata. AI sudah mulai diciptakan manusia sejak abad ke 17 oleh para ilmuwan matematika dunia. Namun gaung ketenaran teknologi tersebut baru mencuat sekitar 1950 silam. Christopher Strachey dari University of Manchester, United Kingdom, merupakan programmer yang pertama kali menuliskan AI pada mesin Ferranti Mark I. Mesin tersebut terdapat di dalam komputer dengan permainan naskah. Kemudian teknologi mulai dikembangkan secara luas, bahkan digunakan pada sistem pertahanan sebuah negara. Perdebatan mengenai AI memang masih tetap berlangsung. Beberapa ilmuwan menentang pernyataan kecerdasan buatan mampu mencapai titik kepintaran manusia. Namun bagi beberapa ilmuwan dunia, kecerdasan buatan bahkan bisa lebih canggih apabila terus dikembangkan. Tahun ini beberapa kecerdasan buatan akan membuat dunia terpana. Salah satunya Apple yang memberikan pernyataan akan mengembangkan AI dan merilisnya tahun ini. Pertengahan Desember 2016 lalu laman cnet.com mengabarkan, Apple mengambil langkah besar dalam pengembangan AI. Setelah menggandeng Ruslan Salakhutdinov sebagai Carnegie Mellon Profesor in Machine Learning pada Oktober lalu, Apple juga mengumumkan beberapa kerja sama lain. Apple menyatakan bahwa pengembangan AI akan dilakukan dengan berpartner bersama beberapa akademisi. Kolaborasi tersebut bukan secara sengaja dilakukan Apple. Selain meningkatkan hubungan kerja, jalan tersebut diambil untuk membuat prestasi dikalangan para pekerja. Langkah yang ditempuh Apple sedemikian serius karena berkaca pada rivalnya, Google dan Microsoft, yang juga secara agresif mengembangkan AI. Pada 22 Desember lalu Apple juga sudah mengeluarkan paper mengenai penelitian AI yang dikembangkan. Dalam paper tersebut Apple menjelaskan mengenai pengembangan teknis mengenai kemampuan algoritma salam mengenali gambar. Mesin tersebut memperlihatkan bahwa mengenali gambar menggunakan gambar buatan seperti pada video gim lebih efisien daripada menggunakan gambar realworld. Hal tersebut terjadi karena gambar buatan atau synthetic sudah memiliki ketentuan pasti. Sementara itu gambar realworld, seperti pohon atau hewan, tidak demikian. Algoritma mampu membacanya dengan mudah. Meski demikian gambar tiruan memang belum cukup sempurna. Pengembangan dan uji coba dilakukan Apple dengan menggunakan machine learning bernama Generative Adversarial Networks. Mesin tersebut juga sudah banyak digunakan untuk menyusun photorealistic. Di Indonesia, AI sudah berkembang dalam bentuk chatbot atau robot. Bots atau chatbots merupakan perangkat lunak berteknologi robot. Aplikasi tersebut mampu mewakili sebuah aktivitas obrolan. Bots memang belum populer. Namun dalam beberapa tahun ke depan platform tersebut akan menjadi tren bagi aplikasi ponsel pintar. Secara sederhana, bots atau chatbots memang tak bisa dilihat secara kasat mata. Namun penggunaannya sebenarnya sudah lama ditanam, di antaranya dalam aktivitas komputasi melayani pemesanan pengenapan. Bots mengubah pola percakapan langsung ke dalam aplikasi. Ketika seseorang memesan kamar hotel melalui sambungan telepon, maka pihak customer service yang akan melakukan perintah pada perangkat. Dengan menggunakan bots, aktivitas tersebut bisa dilakukan melalui percakapan teks melalui asisten robot. Bots atau chatbots tengah berkembang di Indonesia, salah satunya dalam meningkatkan layanan finansial. Perangkat lunak yang mewakili aktivitas obrolan berteknologi robot tersebut bisa ditemukan dalam aplikasi Delimabot besutan PT Finnet Indonesia. Untuk menggunakan Delimabot, pengguna harus memiliki akun Telegram terlebih dahulu. Sebab, Delimabot merupakan aplikasi mini yang terdapat di dalam Telegram. "Delimabot ini serupa dengan Delima Point yang kami miliki sebelumnya," ujar Direktur Utama PT Finnet Indonesia Niam Dzikri dalam acara peluncuran Delimabot di Jakarta, beberapa waktu lalu. Keduanya merupakan aplikasi ponsel pintar yang bisa diunduh melalui perangkat Android atau iOS. Hanya saja Delimabot berbasis teknologi robot sementara Delima Point tidak. Untuk mengaktifkan Delimabot, pengguna bisa mencari kata kunci @delimabot di dalam aplikasi Telegram. Kemudian akan muncul tombol 'start' untuk memulai registrasi. Pengguna cukup mengikuti instruksi dengan memasukkan Nama dan Nomor Ponsel. Kemudian sebuah notifikasi berbentuk nomor kode akan dikirimkan via pesan teks untuk proses registrasi. Setelah berhasil, pengguna akan mendapatkan ID Pass agar bisa masuk ke dalam platform Delimabot. Apabila ingin masuk Delimabot, pengguna cukup mengetik 'login' dan ketik ID Pass. Delimabot bisa digunakan dengan memasukkan perintah 'menu' pada layar ketik. Penggunaan Delimabot benarbenar berbeda dengan aplikasi mobile pada umumnya. Biasanya di dalam aplikasi pengguna bisa memilih menu dengan menekan fitur yang tersedia. Namun di dalam Delimabot, perintah diberikan dalam bentuk chatting. Di dalam aplikasi, pengguna bisa melakukan berbagai macam transaksi. Beberapa di antaranya, membeli pulsa dan token PLN. Sementara hanya dua layanan tersebut yang diberikan karena Finnet menyasar pengguna dari kalangan agen pembayaran keliling, transaksi di warung atau UKM, hingga bisnis komunitas. Namun ke depannya beberapa layanan juga akan ditambah, seperti membayar parkir. "Kami meluncurkan sistem untuk mempermudah transaksi online para pelanggan," lanjut Niam. Delimabot akan bekerja seperti seseorang tengah melakukan percakapan real time dengan lawan bicaranya melalui platform chatting. Hanya saja kali ini pengguna memiliki lawan bicara robot yang akan memberikan jawaban sesuai perintah. Dengan sistem tersebut para pelanggan di pelosok Indonesia tidak sulit beradaptasi dengan aplikasi karena dibuat sedemikian sederhana. Menggunakan Delimabot juga tidak memerlukan ponsel pintar mahal. Massachusetts Institute of Technology (MIT) melakukan prediksi terhadap perkembangan AI di 2017 dan beberapa tahun ke depan. Tahun lalu memang menjadi awal bagi AI dikenal dunia, begitu pula perkembangannya yang cukup besar. Namun 2017 akan mengantarkan lebih banyak lagi peningkatan. Akan banyak ekspektasi mengenai kemudahan berbahasa hingga AI Boom dari Cina. Berikut prediksi MIT yang dilansir melalui Technologyreview.com.
Apakah kecerdasan buatan adalah pembunuh pekerjaan? Akhirakhir ini peringatan soal bahaya kecerdasan buatan (artificial intelligence atau kerap dikenal AI) melimpah. Nabi modern, seperti fisikawan Stephen Hawking dan investor Elon Musk, meramalkan kejatuhan manusia yang akan segera terjadi. Dengan munculnya kecerdasan umum buatan dan program kecerdasan yang dirancang sendiri, AI jenis baru yang lebih cerdas akan lahir. AI canggih ini akan dengan cepat menciptakan mesin yang lebih cerdas yang pada akhirnya akan melampaui kemampuan manusia. Ketika kita mencapai yang disebut singularitas teknologi AI, pikiran dan tubuh kita akan menjadi usang. Manusia bisa bergabung dengan mesin dan terus berkembang sebagai cyborg. Apakah masa depan seperti ini yang benarbenar yang akan kita hadapi? Warnawarni AI pada masa lalu Tidak juga. AI, sebuah disiplin ilmiah yang berakar pada ilmu komputer, matematika, psikologi, dan ilmu saraf, bertujuan menciptakan mesin yang meniru fungsi kognitif manusia seperti pembelajaran dan pemecahan masalah. Sejak 1950an, robot telah memasuki imajinasi publik. Namun, dalam sejarahnya, keberhasilan AI sering diikuti oleh kekecewaanyang sebagian besar disebabkan oleh ramalan para visioner teknologi yang terlampau berlebihan. Pada 1960, salah satu pendiri bidang AI, Herbert Simon, meramalkan bahwa “mesin akan mampu, dalam dua puluh tahun, melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan seorang pria.” (Dia tidak mengatakan apa pun tentang perempuan) Marvin Minsky, pelopor jaringan saraf tiruan, lebih blakblakan, “dalam satu generasi,” kata dia, “… masalah bagaimana membuat ‘kecerdasan buatan’ secara substansial akan dapat dipecahkan”. Tapi ternyata Niels Bohr, fisikawan Denmark awal abad ke20, benar saat dia (dilaporkan) berkata, “Prediksi itu sangat sulit, apalagi tentang masa depan. Saat ini, kemampuan AI mencakup pengenalan suara, performa unggul di permainan strategi seperti catur dan Go, mobil berjalan sendiri (selfdriving cars), dan kemampuan menguak pola tersembunyi yang tertanam dalam data kompleks. Beragam kemampuan ini tak sampai membuat manusia jadi tidak relevan. Tapi AI sedang berkembang cepat. Euforia AI terbaru dipicu pada 2009 oleh pembelajaran jaringan saraf mendalam (learning of deep neural networks yang jauh lebih cepat. (Istilah deep learning mengacu pada melatih jaringan saraf buatan untuk mengidentifikasi pola dari sekumpulan data). Kecerdasan buatan terdiri dari kumpulan besar unit komputasi yang disebut neuron buatan yang saling terhubung. Mereka bisa secara bebas dianalogikan seperti kumpulan saraf di otak kita. Untuk melatih jaringan ini “berpikir”, para ilmuwan memberikan banyak masalah, yang sudah ada jawabannya, untuk dipecahkan. Salah satu contoh masalah sebagai berikut: kami menunjukkan sekumpulan gambar jaringan tubuh, masingmasing diberi catatan diagnosis kanker atau tanpa kanker, pada jaringan neuron buatan untuk menghitung probabilitas kanker. Respon jaringan neuron buatan itu kemudian kami bandingkan dengan jawaban yang benar, menyesuaikan hubungan antara “neuron” dengan setiap kecocokan yang gagal. Kami kemudian mengulangi prosesnya, menyempurnakan semuanya, sampai sebagian besar tanggapan sesuai dengan jawaban yang benar. Pada akhirnya, jaringan saraf buatan ini akan siap melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh ahli patologi: memeriksa gambar jaringan untuk memprediksi kemungkinan kanker. Ini mirip dengan cara seorang anak belajar memainkan alat musik: dia mempraktikkan dan mengulang lagu sampai sempurna. Pengetahuannya disimpan dalam jaringan saraf, tapi mekanisme bagaimana seorang anak belajar memainkan musik tak mudah dijelaskan. Jaringan dengan banyak lapisan “neuron” (karena itu disebut jaringan saraf “dalam”) berhasil diaplikasikan secara praktis hanya ketika para peneliti mulai menggunakan banyak prosesor paralel pada chip grafis untuk pelatihan mereka. Kondisi lain yang mendorong keberhasilan deep learning adalah banyaknya kumpulan soal untuk dipecahkan. Dengan menambang internet, jejaring sosial dan Wikipedia, para peneliti membuat koleksi gambar dan teks yang besar. Ini memungkinkan untuk melatih mesin mengelompokkan gambar, mengenali ucapan, dan menerjemahkan bahasa. Jaringan saraf mendalam sudah melakukan tugastugas ini hampir sama seperti manusia. Tapi performa bagus mereka hanya terbatas pada tugastugas tertentu. Para ilmuwan belum melihat peningkatan kemampuan AI dalam memahami makna dari gambar dan teks. Jika kita menunjukkan kartun Snoopy ke jaringan mendalam yang terlatih, dia dapat mengenali bentuk dan objek–seekor anjing di sini, anak lakilaki di sana–tapi tidak akan menguraikan makna (atau melihat humornya). Kami juga menggunakan jaringan saraf untuk meningkatkan gaya penulisan anakanak. Alat kami menyarankan perbaikan dalam bentuk, ejaan, dan tata bahasa dengan cukup baik, namun tidak berdaya bila menyangkut struktur logis, penalaran, dan alur gagasan. Model saat ini bahkan tidak memahami komposisi sederhana anak sekolah berusia 11 tahun. Kinerja AI juga dibatasi oleh jumlah data yang tersedia. Dalam penelitian AI saya sendiri, misalnya, saya menerapkan jaringan saraf mendalam ke diagnosa medis, yang terkadang menghasilkan diagnosis yang sedikit lebih baik daripada di masa lalu, tapi peningkatannya tidak luar biasa. Salah satu sebabnya adalah tidak tersedia koleksi data pasien yang besar untuk menyuapi mesin cerdas ini. Data rumah sakit yang ada saat ini tidak dapat menangkap interaksi yang kompleks antara psikologi dan fisik yang menyebabkan penyakit seperti jantung koroner, migrain atau kanker. Jadi, para manusia, tak perlu takut. Ramalan soal singularitas AI masih jauh dari kenyataan, kita tidak dalam bahaya menjadi tidak relevan. Kemampuan AI memperkaya karya fiksi ilmiah dalam bentuk novel dan film, serta menjadi bahan perdebatan filosofis yang menarik. Namun kita belum sampai pada tahap terciptanya mesin yang dapat meningkatkan kemampuannya secara mandiri yang mampu menghasilkan kecerdasan buatan secara keseluruhan. Selain itu tidak ada indikasi bahwa kecerdasan buatan bisa berkembang tanpa batas. Jaringan saraf mendalam, tak bisa dipungkiri, pasti mengotomatisasi banyak pekerjaan. AI akan mengambil pekerjaan kita, membahayakan keberadaan pekerja manual, ahli diagnosa medis, dan mungkin, pada suatu hari yang akan saya ratapi, juga para profesor ilmu komputer. Robot sudah menaklukkan Wall Street. Penelitian menunjukkan bahwa “agen kecerdasan buatan” dapat menyebabkan sekitar 230 ribu pekerjaan di sektor keuangan hilang pada 2025. Di tangan yang salah, kecerdasan buatan sangat berbahaya. Virus komputer baru dapat mendeteksi pemilih yang belum memutuskan pilihan dan membombardir mereka dengan berita yang disesuaikan untuk menggoyang pemilihan. Amerika Serikat, Cina, dan Rusia sudah berinvestasi dalam senjata otonom menggunakan AI di pesawat tak berawak, kendaraan tempur, dan robot tempur, yang menyebabkan perlombaan senjata berbahaya. Nah, itu sesuatu yang mungkin harus kita cemaskan.
AI dapat memprediksi kelanggengan cinta berdasarkan cara Anda bicara dengan pasangan Setiap anak (atau pasangan) yang pernah ditegur karena mereka berbicara dengan nada suara tertentu—seperti berteriak atau bersikap sarkastik tahu bahwa cara Anda berbicara kepada seseorang dapat sama pentingnya dengan katakata yang Anda gunakan. Aktor dan seniman suara memanfaatkannya dengan baik mereka terlatih menyampaikan makna melalui cara berbicara, terkadang dengan lebih efektif dari hanya katakata. Tapi seberapa banyak informasi yang dibawa oleh nada suara dan pola percakapan kita dan bagaimana hal itu mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain? Sistem komputasi sudah dapat mengenali orang dari suaranya. Jadi bisakah sistem komputasi memberi tahu kita tentang kehidupan cinta kita? Secara mengejutkan, tampaknya bisa. Penelitian baru, yang baru saja diterbitkan di jurnal PLOSONE, telah menganalisis karakteristik vokal 134 pasangan yang menjalani terapi. Peneliti dari University of Southern California menggunakan komputer untuk mengekstrak bahanbahan untuk menganalisis ucapan dari rekaman sesi terapi partisipan selama lebih dari dua tahun. Bahan itu—termasuk tinggi rendah suara (pitch), variasi tinggi rendah suara, dan intonasi—semuanya berhubungan dengan aspek suara seperti nada (tone) dan intensitas. Algoritme pembelajaran mesin (machinelearning) kemudian dilatih untuk mempelajari hubungan antara sifatsifat vokal tersebut dan hasil akhir terapi. Ini tidak sesederhana mendeteksi suara berteriak atau meninggi— algoritme bisa mendeteksi alur percakapan, siapa berbicara kapan dan untuk berapa lama, juga bunyi dari suara tersebut. Ternyata mengabaikan apa yang dikatakan dan mengingat hanya pola bicara ini saja cukup untuk memprediksi apakah pasangan akan tetap bersama atau tidak. Yang menarik, rekaman video lengkap dari sesi terapi kemudian diberikan kepada para ahli. Berbeda dengan artificial intelligent (AI), mereka membuat prediksi menggunakan penilaian psikologis berdasarkan atribut vokal (dan lainnya)—termasuk katakata yang diucapkan dan bahasa tubuh. Yang mengejutkan, prediksi mereka tentang kisah akhir para pasangan lebih rendah (mereka benar dalam 75,6% kasus) daripada prediksi yang dibuat oleh AI berdasarkan karakteristik vokal (79,3%). Jelas ada elemenelemen yang diterjemahkan menjadi kode dalam cara kita berbicara, yang bahkan para ahli pun tidak sadar. Tetapi gabungan penilaian mesin dengan penilaian ahli menghasilkan prediksi tepat yang paling tinggi (79,6% benar). Pentingnya temuan ini bukan tentang melibatkan AI dalam konseling perkawinan atau membuat pasangan berbicara lebih baik satu sama lain (walau itu manfaat yang akan terjadi). Arti pentingnya adalah mengungkapkan berapa banyak informasi tentang perasaan mendasar kita yang terbentuk menjadi kode dalam cara kita berbicara—beberapa di antaranya sama sekali tidak kita ketahui. Katakata yang tertulis di halaman atau layar memiliki makna leksikal yang berasal dari definisi kamus. Makna leksikal ini dimodifikasi dengan konteks katakata di sekitarnya, maka menulis pun bisa menjadi hal yang sungguh rumit. Tapi ketika katakata dibacakan dengan suara keras, maka katakata menjadi punya makna tambahan yang tersampaikan oleh tekanan kata, volume, kecepatan bicara, dan nada suara. Dalam percakapan biasa, ada juga makna dalam berapa lama setiap pembicara berbicara, dan seberapa cepat satu atau orang lain mungkin menyela. Pertimbangkan pertanyaan sederhana “Who are you?”. Cobalah berbicara dengan menekankan katakata yang berbeda; “ Who are you?”, “ Who are you?” Dan “Who are you?” Dengarkan ini—makna semantik dapat berubah berdasarkan bagaimana kita membaca bahkan saat katakatanya tetap sama. Apakah komputer membaca ‘indra yang bocor’? Tidak mengherankan bila katakata menyampaikan arti yang berbeda tergantung kepada bagaimana mereka disampaikan. Juga tidak mengejutkan bahwa komputer dapat menafsirkan beberapa makna di balik bagaimana kita memilih untuk berbicara (mungkin suatu hari nanti mereka bahkan bisa mengerti ironi). Tapi penelitian ini lebih penting daripada sekadar melihat makna yang disampaikan dengan sebuah kalimat. Ia juga mengungkapkan sikap dan pemikiran mendasar yang ada di balik kalimat tersebut. Ini adalah level pemahaman yang jauh lebih dalam. Peserta terapi tidak membaca katakata seperti aktor. Mereka hanya berbicara secara alami—atau sealami yang mereka bisa ketika bicara di ruang terapis. Tetapi analisis tersebut sanggup mengungkapkan informasi tentang perasaanperasaan yang oleh para pasangan tidak sengaja “dibocorkan” ke dalam percakapan. Riset ini mungkin salah satu langkah pertama dalam menggunakan komputer untuk menentukan apa yang sebenarnya sedang kita pikirkan atau rasakan. Coba bayangkan, apakah di masa depan kita bisa bercakapcakap dengan smartphone, akankah kita “membocorkan” informasi yang bisa mereka deteksi? Bagaimana tanggapan mereka? Bisakah komputer memberi tahu kita apakah kita akan langgeng dengan calon pacar kita dengan mendengarkan percakapan kami? Bisakah mereka mendeteksi kecenderungan terhadap perilaku antisosial, kekerasan, depresi, atau kondisi lainnya? Tidak sulit untuk membayangkan perangkat itu sendiri menjadi terapis di masa depan dan berinteraksi dengan kita untuk melacak apakah saransaran mereka efektif? Jangan khawatir, masa depan seperti itu masih jauh. Tapi hal ini memang memunculkan keprihatinan pada isu privasi, terutama ketika interaksi kita dengan komputer menjadi semakin dalam sejalan dengan meningkatnya kepandaian komputer dalam menganalisis dunia di sekitar mereka. Mari kita mundur sejenak dari indra suara (ucapan) dan memikirkan indra kita yang lain. Mungkin saja kita juga “membocorkan” informasi yang bisa dideteksi indra penglihatan (bahasa tubuh, muka memerah), indra peraba (suhu dan gerakan) atau bahkan indra penciuman (feromon). Jika perangkat cerdas dapat belajar banyak dengan mendengarkan bagaimana kita berbicara, maka berapa banyak lagi yang bisa mereka pelajari dari indra lainnya.
AI bisa saja memesan restoran atau buat janji dengan salon, tapi jangan harap bisa bicara fasih Google barubaru ini mengumumkan artificial intelligence (AI) wicara terbaru yang disebut Duplex. Duplex terdengar seperti orang beneran, dilengkapi dengan jeda sejenak, “umms” dan “ahhs”. Dalam rekaman pembicaraan yang dimainkan saat pengumuman Google, robot itu berbicara secara runtut dengan manusia sebagai pihak penerima, yang tampaknya sama sekali tidak menyadari bahwa mereka tidak sedang bicara dengan orang lain. Panggilan ini membuat pengunjung di acara Google riuh bersorak. Dalam satu contoh, AI bahkan mengerti ketika orang yang berbicara bercampur aduk, dan dapat terus mengikuti percakapan dan merespons dengan tepat ketika diberitahu bahwa tidak perlu melakukan pemesanan. Munculnya asisten AI. Bila Anda menggunakan asisten suara yang tersedia saat ini seperti Google Home, Sirinya Apple atau Amazon Echo, fleksibilitas ini mungkin mengejutkan Anda. Asisten ini sangat sulit untuk digunakan hal yang lain kecuali untuk permintaan standar seperti untuk menelepon kontak, memainkan sebuah lagu, melakukan satu pencarian web sederhana, atau menyetel pengingat. Ketika kita bicara kepada asisten generasi ini, kita selalu menyadari bahwa kita sedang berbicara dengan sebuah AI dan kita kerap menyesuaikan apa yang kita katakan, ini cara yang kami harapkan memaksimalkan kesempatan kami membuat AI ini bekerja. Tapi orangorang yang berbicara dengan Duplex tidak tahu. Mereka raguragu, menarik kembali, melewatkan katakata, dan bahkan mengubah fakta di tengahtengah sebuah kalimat. Duplex tidak ketinggalan sedikit pun. Sepertinya dia benarbenar memahami apa yang sedang terjadi. Jadi apakah masa depan telah tiba lebih awal dari yang diperkirakan? Apakah dunia akan dipenuhi oleh asisten AI online (dan di telepon) yang mengobrol dengan gembira dan melakukan segalanya untuk kita? Atau lebih buruk lagi, akankah kita tibatiba dikelilingi oleh AI cerdas dengan pikiran dan ide mereka sendiri yang mungkin melibatkan manusia atau tidak ? Jawabannya adalah jelas tidak. Untuk memahami mengapa, mari kita pahami apa yang mendorong AI seperti ini. Duplex: bagaimana cara kerjanya Seperti inilah sistem AI Duplex. Sistem mengambil “input” (ditampilkan di sebelah kiri) yang merupakan suara orang yang sedang berbicara di telepon. Suara melewati pengenalan suara otomatis (ASR) dan diubah menjadi teks (katakata tertulis). ASR sendiri merupakan sistem AI canggih, tapi dari jenis yang sudah umum digunakan di asisten suara yang ada. Teks kemudian dipindai untuk menentukan jenis kalimat itu (seperti sapaan, pernyataan, pertanyaan atau instruksi) dan mengekstrak informasi penting apa pun. Informasi kunci kemudian menjadi bagian dari Konteks, yang merupakan masukan tambahan yang membuat sistem tetap up to date dengan apa yang telah dikatakan sejauh ini dalam percakapan. Teks dari ASR dan Konteks kemudian dikirim ke jantung Duplex, yang disebut Artificial Neural Network (ANN). Pada diagram di atas, ANN ditunjukkan oleh lingkaran dan garis yang menghubungkannya. ANN dibuat berdasar bentuk model otak kita, yang memiliki miliaran neuron yang terhubung bersama menjadi jaringan yang sangat besar. Belum cukup otak ANN jauh lebih sederhana daripada otak kita. Satusatunya hal yang coba dilakukan adalah mencocokkan katakata masukan dengan respons yang tepat. ANN belajar dengan menunjukkan transkrip dari ribuan percakapan orang yang membuat pemesanan untuk restoran. Dengan cukup banyak contoh, ia belajar jenis kalimat masukan apa yang diharapkan dari orang yang diajak bicara, dan jenis tanggapan apa yang diberikan untuk masingmasing. Respons teks yang dihasilkan oleh ANN kemudian dikirim ke alat yang menerjemahkan teks ke ucapan (TTS), yang mengubahnya menjadi katakata lisan yang kemudian diputar ke orang di telepon. Sekali lagi, TTS ini adalah AI canggih dalam hal ini lebih maju daripada yang ada di ponsel Anda, karena kedengarannya hampir tidak dapat dibedakan dari suara normal apa pun. Hanya itu saja. Meskipun itu menjadi stateoftheart, jantung dari sistem ini benarbenar hanya proses pencocokan teks. Tapi Anda mungkin bertanya jika itu sangat sederhana, mengapa kita tidak bisa melakukannya sebelumnya? Sebuah tanggapan yang dipelajari Faktanya adalah bahwa bahasa manusia, dan banyak hal lain di dunia nyata, terlalu bervariasi dan tidak teratur untuk ditangani dengan baik oleh komputer normal, tapi masalah semacam ini sangat cocok untuk AI. Perhatikan bahwa output yang dihasilkan oleh AI sepenuhnya bergantung pada percakapan yang ditunjukkan saat sedang belajar. Ini berarti bahwa AI yang berbeda perlu dilatih untuk membuat pemesanan dari berbagai jenis jadi, misalnya, satu AI dapat memesan restoran dan yang lain dapat memesan janji potong rambut. Ini diperlukan karena jenis pertanyaan dan tanggapan dapat sangat bervariasi untuk berbagai jenis pemesanan. Ini juga bagaimana Duplex bisa jauh lebih baik daripada asisten suara umum, yang perlu menangani banyak jenis permintaan. Jadi sekarang harus jelas bahwa kita tidak akan melakukan percakapan santai dengan asisten AI kita dalam waktu dekat. Bahkan, semua AI kami saat ini benarbenar tidak lebih dari kecocokan pola (dalam hal ini, pola pencocokan teks). Mereka tidak mengerti apa yang mereka dengar, atau apa yang mereka lihat, atau apa yang mereka katakan. Pencocokan pola adalah satu hal yang dilakukan otak kita, tapi mereka juga melakukan lebih banyak hal. Kunci untuk menciptakan AI yang lebih powerful mungkin untuk mengungkap lebih banyak rahasia otak. Apakah kita mau? Nah, itu adalah pertanyaan lain lagi.
Kecerdasan buatan bisa mendeteksi dan membuat berita palsu Ketika Mark Zuckerberg bilang pada Kongres AS bahwa Facebook akan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi berita palsu yang diposting di situs media sosial, dia tidak terlalu spesifik dampaknya bagi masyarakat. Mengingat pekerjaan saya sendiri menggunakan analisis gambar dan video, saya menyarankan Facebook harus berhatihati. AI dapat menjadi alat yang berguna untuk menemukan propaganda daring, terlepas dari beberapa kekurangan mendasar, tetapi AI juga bisa menciptakan materi menyesatkan dengan sangat baik. Para peneliti sudah mempelajari bahwa berita palsu online menyebar jauh lebih cepat dan lebih luas daripada berita asli. Penelitian saya juga menemukan bahwa postingan online dengan informasi medis palsu mendapatkan lebih banyak penayangan, komentar dan likes daripada postingan yang memiliki konten medis yang akurat. Dalam dunia online, perhatian permirsa sangat singkat dan mereka jenuh dengan pilihan konten, maka informasi palsu bisa lebih menarik bagi pemirsa. Masalahnya akan semakin parah: Pada 2022, khalayak di negara maju akan menemukan lebih banyak berita palsu daripada informasi akurat. Hal ini dapat menghasilkan fenomena yang dijuluki peneliti “reality vertigo”—di mana komputer dapat menghasilkan konten yang meyakinkan sehingga orangorang biasa mungkin akan sulit mengetahui apa yang benar. Mendeteksi kebohongan Mesin pembelajaran algoritma, sejenis AI, telah berhasil selama beberapa dekade melawan surel sampah (spam), dengan menganalisis pesan teks dan menentukan seberapa besar kemungkinan pesan tertentu adalah komunikasi dari orang betulan—atau jualan obatobatan secara massal atau klaim kekayaan yang hilang. Menggunakan jenis analisis teks yang dipakai untuk melawan spam, sistem AI dapat mengevaluasi postingan atau judul, dan membandingkan isi konten artikel yang dibagi seseorang secara online. Ada juga pendekatan lain dapat memeriksa artikel sejenis untuk melihat apakah media lain memiliki faktafakta yang berbeda. Sistem yang mirip dengan ini dapat mengidentifikasi akunakun spesifik dan sumber situs penyebar berita palsu. Lingkaran setan Namun, metodemetode tersebut mengasumsikan orangorang yang menyebarkan berita palsu selalu menggunakan pendekatan yang sama. Penyebar berita palsu sering mengubah taktik, memanipulasi konten dalam upaya untuk membuatnya terlihat lebih otentik. Menggunakan AI untuk mengevaluasi informasi juga dapat mengungkapndan memperkuat biasbias tertentu di masyarakat. Ini bisa berkaitan dengan gender, latar belakang ras atau stereotipe pemukiman. Hal ini dapat berdampak politis, dan berpotensi membatasi ekspresi pandangan tertentu. Contohnya, YouTube telah menghentikan pemasangan iklan dari saluran video tertentu, dan mengakibatkan pembuat video harus mengeluarkan uang. Konteks juga menjadi kunci. Makna dari katakata bisa berubah seiring waktu. Sebuah kata bisa memiliki makna yang beda di situs liberal dan konservatif. Contohnya, postingan dengan istilah “WikiLeaks” dan “DNC” di situs liberal bisa jadi sebuah berita, sementara di situs konservatif istilah tersebut bisa merujuk ke serangkaian teori konspirasi. Pakai AI untuk buat berita palsu Namun penggunaan AI untuk mendeteksi berita palsu membawa pada tantangan besar perlombaan teknologi AI sendiri. Sistem kecerdasan buatan sudah berhasil menciptakan “deepfakes”—fotofoto dan video yang mengganti wajah satu orang dengan orang lain untuk membuatnya terlihat seakanakan wajah seorang selebriti terlihat dalam pose telanjang, contohnya, atau seorang figur publik mengatakan sesuatu yang ia tidak pernah katakan. Bahkan aplikasi ponsel canggih mampu melakukan penggantian ini—sehingga teknologi ini bisa dipakai oleh siapa saja, bahkan mereka yang tidak memiliki keahlian menyunting tingkat Hollywood. Para peneliti telah mulai menyiapkan AI untuk mengindentifikasi video dan foto palsu buatan AI. Contohnya, teknik untuk pembesaran gambar video dapat mendeteksi perubahan pada detak jantung manusia yang dapat menunjukkan apakah seseorang dalam video adalah asli atau buatan komputer. Namun baik pembuat konten plasu dan pendeteksi konten palsu akan semakin canggih. Beberapa konten palsu akan menjadi sangat canggih hingga sulit untuk disanggah atau diabaikan – tidak seperti generasi awal konten palsu, yang menggunakan bahasa sederhana dan membuat klaim yang mudah disanggah. Kecerdasan manusia adalah kuncinya Cara terbaik untuk melawan penyebaran berita palsu berada pada pundak manusia. Konsekuensi sosial berita palsu—meningkatnya polarisasi dan sikap partisan, luruhnya kepercayaan pada media arus utama dan pemerintah—sangatlah penting. Jika semakin banyak orang tahu bahwa taruhannya tinggi, mereka akan lebih waspada dengan informasi, terutama yang basisnya emosi, karena itulah cara efektif untuk mendapatkan perhatian orang. Ketika seseorang melihat postingan yang membuat marah, ia lebih baik menyelidiki informasi tersebut, daripada langsung menyebarkannya. Menyebarkan konten meningkatkan kredibilitas suatu postingan: Ketika orang lain melihatnya, mereka akan melihat bahwa konten tersebut didapatkan dari orang yang mereka kenal dan percaya, setidaknya sedikit, dan akan kurang menyadari apakah sumber aslinya patut dipertanyakan. Situs media sosial seperti Youtube dan Facebook dapat secara langsung memutuskan untuk memberi label pada konten mereka, dan menunjukkan secara kelas bahwa sebuah item berita datang dari sumber tepercaya. Zuckerberg bilang pada Kongres dia ingin memobilisasi “komunitas” pengguna Facebook untuk mengarahkan algoritme perusahaannya. Facebook dapat menggalang upaya verifikasi melalui crowdsourcing. Wikipedia juga menggunakan model, relawan berdedikasi yang melacak dan memverifikasi informasi. Facebook dapat menggunakan kemitraan dengan organisasi berita dan relawan untuk mengajarkan AI, secara berkesinambungan mengubah sistem untuk merespons perubahan taktik dan topik oleh pembuat propaganda. Ini tidak akan menangkap semua berita yang diposting online, tapi akan memudahkan sejumlah besar orang untuk menentukan maka fakta dan mana palsu. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan cerita fiksi dan menyesatkan menjadi populer secara online. Untungnya, orangorang yang terpapar berita akurat lebih baik dalam membedakan informasi asli dan palsu. Kuncinya adalah untuk memastikan setidaknya beberapa hal yang orang lihat di dunia online, adalah nyatanyata benar.
Pakar Mulai Wantiwanti Potensi Bahaya Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Pakar kecerdasan buatan mulai menaruh perhatian penting terhadap bahaya kecerdasan buatan (AI) bagi manusia. Setiap kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk tujuan baik, justru memiliki potensi yang bisa disalahgunakan juga. Riset berjudul 'The Malicious Use of Artifiial Intelligence: Forecasting, Prevention, and Mitigation' mengungkap dua sisi yang akan selalu membayangi kemajuan AI dalam lima tahun kedepan. Para pakar memastikan AI memang bisa memudahkan pengambilan keputusan atau membantu orang, tergantung pada bagaimana sistem itu dikembangkan. Bagi pengembang yang sengaja menjadikan AI sebagai senjata untuk melakukan kejahatan, pakar menyebut setidaknya ada tiga potensi bahaya dalam bidang digital, fisik, dan politik. Potensi bahaya dari sisi digital disebut bisa memicu kemunculan phising otomatis dengan membuat email, situs, dan link palsu untuk mencuri informasi. Dismaping itu peretasan disebut bisa terjadi dengan lebih cepat dan sistem AI yang bisa dikelabui. Dari sisi fisik, pakar melihat AI bisa mengotomasi aksi terorisme menggunakan drone atau senjata otonom. Kemunculan robot juga diprediksi membuat AI jadi senjata untuk melancarkan serangan jarak jauh. Potensi yang tak kalah berbahaya dilihat dari bidang politik yang dikhawatirkan memicu propaganda melalui gambar dan video palsu. Jejak digital nantinya juga bisa menghapus teks atau gambar secara otomatis. Informasi pribadi yang tersedia untuk publik juga berpotensi dipakai oleh orang tidak bertanggung jawab untuk halhal merugikan. Mengutip Quartz, para pakar berharap hasil riset ini membantu industri, akademisi, dan pemerintah menyikapi tren adopsi AI dengan lebih bijak. Riset yang melibatkan pakar dari kalangan akademisi dan industri dari 14 institusi di Oxford, Inggris juga kian aktif mencari solusi potensial untuk menghadapi bahaya yang disebutkan di atas. (evn/evn)
Smartphone Kekinian Dilengkapi AI, Apa Gunanya? KOMPAS.com Beberapa lini smartphone yang dirilis tahun 2017 lalu telah dipercanggih oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence ( AI) pada hardware dan softwarenya. Sebut saja deretan flagship seperti Samsung Galaxy S8, Google Pixel, seri Huawei Mate, atau iPhone X. Tak hanya hadir di kelas highend tapi AI juga membumi di smartphone kelas menengah seperti duo Vivo V7 atau Oppo F5. Beberapa teknologi AI banyak tersemat di smartphone keluaran tahun 2017, seperti facial recognition biometrics, augmented reality, machine learning, dan sebagainya. Nampakya, teren AI di smartphone akan terus berkembang pada 2018 ini. Lalu, apa saja guna AI yang ada di smartphone? KompasTekno telah merangkum lima kecanggihan AI di smartphone, dilansir dari Gadgets Now, Jumat (2/3/2018). 1. Kamera ponsel lebih baik mendeteksi obyek Hadirnya AI di kamera mobile semakin membuat inovasi kamera smartphone menggeliat tiap tahunnya. Dengan AI, antarmuka kamera smartphone dapat mendeteksi obyek dalam frame foto, baik itu pemandangan yang diambil secara landscape atau obyek bunga dengan detail yang lebih tajam. AI juga mampu meningkatkan kualitas foto bokeh yang sebelumnya hanya bisa dihasilkan melalui kamera digital. Sistem AI pun bisa mengenal fitur wajah dengan teknologi facial racognition. 2. Penerjemah realtime tanpa internet Beberapa aplikasi penerjemah mampu menerjemahkan teks, gambar, video, maupun suara secara realtime atau saat itu juga, meskipun masih harus disokong koneksi internet. Dengan AI, proses penerjemahan akan bisa dilakukan secara offline, seperti yang dilakukan oleh aplikasi iTranslate yang mampu menerjemahkan ke dalam beberapa bahasa tertentu. Dengan AI, proses penerjemahan akan bisa dilakukan secara offline, seperti yang dilakukan oleh aplikasi iTranslate yang mampu menerjemahkan ke dalam beberapa bahasa tertentu. 3. Membantu tugas harian Sistem AI didesain untuk belajar dan beradaptasi tiap kali digunakan. AI dalam smartphone akan mempelajari pola pemakaian oleh si pengguna, kemudian mengaplikasikannya dalam penggunaan seharihari. Misalnya, seperti menonaktifkan nada dering, mengaktifkan bluetooth, atau menutup aplikasi yang berjalan di background tiap beberapa jam. 4. Pemindai wajah Ketika pertama kali diperkenalkan Apple, teknologi Face ID di iPhone X menimbulkan skeptisme. Khususnya bagi pencinta iPhone yang merasa lebih aman menggunakan Touch ID di iPhone 5s hingga iPhone 7 Plus. Apple pun berargumen jika Face ID di iPhone X memindai dengan kamera "TrueDepth" yang menggunakan 30.000 titik infra merah, dan gambar infra merah 2D untuk memetakan kontur wajah. Apple pun berargumen jika Face ID di iPhone X memindai dengan kamera "TrueDepth" yang menggunakan 30.000 titik infra merah, dan gambar infra merah 2D untuk memetakan kontur wajah. Teknologi ini juga hadir di beberapa vendor smartphone lain dengan nama berbeda. Sebut saja Face Unlock yang tersemat di beberapa lini smartphone seperti LG Q6, Vivo V7, atau OnePlus 5T. Kabarnya Huawei juga akan meneruskan tren Face ID di produknya. Pemindai wajah atau facial recognition juga mampu mengenali pemilik wajah hanya dari foto. Di beberapa smartphone yang mengunggulkan fitur selfie seperti Oppo F5, beauty recognition mampu mengenali jenis kulit, warna kulit, jenis kelamin, dan usia pada obyek secara detail. 5. Voice assistant Beberapa asisten digital yang mampu menerima perintah suara, sudah banyak bermunculan di beberapa smartphone flagship. Kita mengenal Siri, Cortana, Bixby, Alexa, atau Google Assistant beberapa tahun belakang. Asisten digital mampu merespon suara untuk melakukan beberapa tugas seperti menjawab pesan singkat, memutarkan lagu, atau membacakan isi berita. Dilansir dari The Next Web, teknologi AI di voice assistant akan menjadi tren yang tak terbantahkan sepanjang 2018.
CEO Google: AI Lebih Penting dari Penemuan Api dan Listrik KOMPAS.com Keajaiban kecerdasan buatan memicu pendapat bahwa artificial inteligence ( AI) bakal menghancurkan masa depan manusia. Namun CEO Google Sundar Pichai berpendapat sebaliknya. Pada perhelatan World Economic Annual Meeting yang diselenggarakan di Davos, Swiss pekan lalu, Pichai menyatakan AI merupakan teknologi yang sangat penting bagi masa depan kehidupan manusia. Ia bahkan menyebut AI bakal lebih berpengaruh dibandingkan penemuan api atau listrik. Sejumlah ilmuwan, termasuk Stephen Hawking, menyebutkan bahwa AI berpotensi untuk menghapus eksistensi manusia. Namun bagi Pichai, teknologi adalah teman yang membantu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh dunia. "Kapan pun kita berbicara tentang teknologi, yang harus ditekankan adalah memanfaatkan keuntungan sambil meminimalisir kerugian," ujarnya seperti dikutip KompasTekno dari WEForum, Senin (29/1/2018). Pichai yang berdarah India tersebut lantas menceritakan pengalamannya sebagai contoh. "Saat beranjak dewasa, kami tidak punya telepon. Lima tahun kemudian saat jaringan telepon masuk di wilayah kami, semuanya berubah lebih baik. Hal tersebut berlaku juga untuk AI," ujarnya. Meski begitu, pemanfaatan AI di segala aspek kehidupan memang berpotensi menimbulkan berbagai risiko. Untuk itu, Pichai mengajak semua pihak bekerja sama untuk mengawal pemanfaatan teknologi ini dengan melalui sebuah kesepakatan yang setara dengan Persetujuan Paris.
Kecerdasan Buatan dari Teknologi Abstrak hingga Akhirnya Jadi ‘Otak’ Utama Bisnis Teknologi modern yang disebut Artificial Intelligence (AI) dan machine learning (pembelajaran mesin) sudah mengubah wajah industri IT, memberi caracara baru bagi berbagai perusahaan dalam memformulasikan strategi bisnis dan menggali wawasan dari pelanggan, serta membantu badan penelitian memecahkan masalahmasalah yang dihadapi umat manusia. Apa Fungsi Artificial Intelligence Bagi Industri? Dahulu, AI dianggap sebagai teknologi abstrak yang dipelopori oleh perusahaan berbasis hyperscale (contohnya Google, Microsoft, Baidu, dll), namun di masa kini sudah banyak sekali startup dan perusahaan besar lintas industri yang menjelajahi berbagai penerapan AI untuk memecahkan masalah bisnis dan sains. Mulai dari diagnosa berbagai penyakit, memprakirakan kapan mesin jet harus mendapat perawatan rutin, hingga membantu dalam mencegah tindak kriminal, potensi AI nyaris tidak terbatas. AI juga berdampak dalam kehidupan seharihari, misalnya kemampuan Facebook untuk mentag foto dengan teknik pengenalan wajah yang menggunakan AI. Tentu saja, AI memiliki keterbatasan, terutama bagi para pebisnis, tantangannya adalah membedakan apa yang merupakan tren semata dan apa yang merupakan kenyataan. Jika Anda melakukan pencarian, Anda akan banyak menemukan artikel yang berisi statistik jumlah pemimpin bisnis yang menganggap AI adalah bagian fundamental dari transformasi digital dan inovasi bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Tapi tingkat penggunaan AI saat ini masih sedikit, dan hal ini menimbulkan keraguan akan kemampuan AI untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara nyata. Beda Industri, Beda Penerapan Secara mendasar, AI dirancang untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, tapi ada dua jenis penerapan: Narrow AI (AI Sempit): yang hanya digunakan untuk menyelesaikan satu tugas atau masalah saja. Contohnya, di Facebook, AI bisa mengenali wajah seseorang, tapi fungsinya hanya sampai di situ. Di masa depan, fungsi ini akan menjadi lebih sempurna. General AI (AI Umum): ketika komputer sudah memiliki kemampuan yang setara dengan manusia, dan bisa mengerti konteks serta alasan di balik sebuah tindakan atau solusi, dan beradaptasi dengan situasi yang sama sekali baru. Jenis AI ini masih jauh untuk dicapai dan membutuhkan investasi yang signifikan. Kebingungan mengenai AI juga sering diperparah dengan fakta bahwa penerapan AI untuk setiap pengguna/industri bisa berbedabeda tergantung dari jenis masalah dan tujuan akhir yang hendak dicapai, dan karena hal itu, banyak perusahaan besar yang masih enggan untuk berinvestasi di ranah AI karena ‘belum melihat bukti nyata’. Lenovo, sebagai pemimpin PC secara global dan salah satu dari tiga penyedia perangkat keras untuk server dan data center berbasis x86 yang paling besar di dunia, sudah memiliki yang dapat membantu pelanggannya dalam menerapkan AI bagi bisnis. Strategi ini didukung oleh investasi riset dan pengembangan sebesar 1.2 Triliun Dolar, selain itu, Lenovo juga sudah membangun tiga AI Innovation Center, di mana para ahli dari Lenovo dan mitra teknologinya, antara lain Intel dan NVIDIA, bekerja bersama dengan para pelanggan untuk memahami masalah bisnis atau sains yang hendak dipecahkan dan bagaimana AI bisa mewujudkan tujuan akhir yang diinginkan. Di pusat inovasi AI ini, Lenovo memberikan akses kepada para pelanggannya untuk menguji dan menyempurnakan beban kerja AI mereka sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berinvestasi dalam perangkat keras, perangkat lunak, dan solusisolusi untuk AI. Contoh Kasus: Penerapan AI Dalam Industri Oil & Gas Barubaru ini tim Lenovo mengunjungi perusahaan oil & gas, yang memiliki sistem pipa yang kompleks dan harus senantiasa diawasi agar tidak terjadi kebocoran. Proses yang berlangsung masih sangat manual, mengharuskan para teknisi untuk bepergian jauh dan memanjat untuk menjangkau setiap titik akses pipa. Tim Lenovo bekerjasama dengan perusahaan itu untuk mengembangkan sistem drone dengan AI yang bisa terbang di atas pipa yang dimaksud, lalu melakukan pemindaian dan pemrosesan gambar untuk mengenali adanya ancaman kebocoran pipa gas. Lenovo juga bekerja dengan institusi pendidikan North Carolina State University (NCSU) dalam riset untuk menghemat sumber daya alam antara lain air dan energi, sambil tetap memenuhi permintaan pasokan bahan makanan dunia. Seiring dengan berkembangnya segmen AI di Lenovo, tentu masih ada banyak hal yang perlu dicapai, namun sebagai perusahaan yang mengutamakancustomercentricity dan berusaha untuk selalu memecahkan masalah yang dihadapi oleh para pelanggannya, hal yang paling penting bagi Lenovo saat ini adalah mengumpulkan masukan serta hasilhasil penerapan awal dan memahami bagaimana AI bisa menjadi solusi bagi pain points yang dimiliki oleh pelanggan. “Karena potensi dan kemungkinan AI tidak terbatas, masa depannya sungguh menjanjikan, oleh karena itu di masa depan Lenovo akan terus berusaha untuk mengakselerasi dan mempermudah adopsi teknologi AI, dan terus bekerjasama dengan erat dengan para pelanggannya”, kata Rakha Siswara, Senior Technical Consultant Data Center Group, Lenovo Indonesia.
Ketika Kecerdasan Buatan Tuntun Siswa Belajar Jakarta, CNN Indonesia Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan masuki industri pendidikan untuk membantu pembelajaran penggunanya. Quipper tengah menguji kecerdasan buatan ini untuk digunakan di aplikasi belajar online mereka. Saat ini, Quipper bekerja sama dengan Departemen Kecerdasan Buatan dari Tokyo University dalam pengembangan sistem ini. Sistem AI yang mereka gunakan akan membaca sejauh mana pengguna memahami materi dari soal yang berhasil mereka jawab. Setelahnya, mengarahkan pengguna untuk melanjutkan pembelajaran ke materimateri yang belum dipahami. "Teknologi AI digunakan untuk mengumpulkan data dari para pengguna Quipper, yakni data berupa soalsoal apa yang dijawab benar dan dijawab salah oleh seorang pengguna," ujar Country Manager Quipper Indonesia Takuya Homma saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa (28/2). Selain mengarahkan pengguna ke soal yang belum dipahami, kecerdasan buatan juga akan mengarahkan pengguna ke materimateri lanjutan dari soal yang sudah mampu dijawab dengan benar oleh pengguna. "Jadi keberadaan AI di sini fungsinya untuk menjadikan proses pembelajaran di Quipper lebih personalized, sesuai dengan kebutuhan, karena setiap anak, setiap pengguna kan kebutuhannya berbedabeda, itu yang dibantu dipahami oleh AI," jelas Homma. Saat ini, teknologi kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran di platform Quipper sedang dalam tahap uji coba di Jepang, dan masi berada dalam tahap pengembangan di Indonesia. Homma berharap fitur ini dapat segera diluncurkan untuk membantu proses belajar anakanak yang menggunakan layanan Quipper di tanah air. Sebelumnya, sebuah perusahaan teknologi edukasi (edtech) asal London yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 2014 silam sedang mengembangkan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam layanan pendidikan yang ditawarkannya. (eks)
Alasan Kecerdasan Buatan Menakutkan Jakarta, CNN Indonesia Ketika melihat robot yang bereaksi seperti manusia, atau komputer yang menampilkan kecerdasan serupa dengan manusia, terkadang manusia bergurau tentang sebuah masa yang akan datang, di mana manusia harus tunduk kepada robot. Namun, di balik gurauan itu terdapat sebuah kekhawatiran. Tidak semua orang siap menyambut kecerdasan buatan (AI). Beberapa tahun terkahir, seiring dengan terbosoanterobosan yang dicapai dalam teknologi kecerdasan buatan, tokohtokoh dalam teknologi dan ilmu pengetahuan sudah mengingatkan tentang bahaya yang dapat disebabkan oleh kecerdasan buatan terhadap manusia, bahkan kemungkinan bahwa kecerdasan buatan dapat membawa "kiamat" bagi manusia. Elon Musk adalah salah satu orang yang paling kuat menyuarakan tentang bahaya kecerdasan buatan. Pada Juli 2017 daam sebuah pertemuan gubernurgubernur di AS, ia mengatakan, "Saya tahu tentang teknologi kecerdasan buatan terbaru, dan saya pikir orangorang harus mengkhawatirkan hal ini." "Saya terus mengingatkan, tetapi sampai orang melihat robot berkeliaran di jalanan dan membunuh manusia, mereka tidak tahu bagaimana harus bereaksi, karena itu tak terasa nyata," lanjutnya. Seblumnya, pada 2014, Elon menyebut kecerdasan buatan sebagai ancaman eksistensial terbesar umat manusia, dan pada Agustus 2017 ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan membawa risiko yang lebih besar daripada Korea Utara. Fisikawan Stephen Hawking yang meninggal pada Maret tahun ini juga megekspresikan kekhawatirannya tentang kecerdasan buatan yang dianggapnya jahat. Seperti dilansir dari Space, pada 2014 ia mengatakan kepada BBC bahwa pembangunan kecerdasan buatan yang seutuhnya dapat menjadi akhir dari kehidupan manusia. Hal ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena sejumlah pembuat program terlihat seperti sedang berusaha untuk membuktikan bahwa kecerdasan buatan bisa menjadi sangat menakutkan. Sebuah jaringan bernama "Nightmare Machine" yang diperkenalkan oleh para ahli komputer MIT pada 2016, mengubah fotofoto biasa menjadi mengerikan dan mengganggu. Sebuah kecerdasan buatan bernama "Shelley" membuat ceritacerita menakutkan, dilatih dari 140.000 cerita horror dari Reddit. "Sangat menarik bagaimana kecerdasan buatan dapat mendorong munculnya emosidalam hal ini ketakutan," ujar manajer riset MTI Media Lab, Manuel Cebrian. Menurut seorang profesor ilmu komputer dari Cornell University, Kilian Weinberger, perasaan negatif mengenai kecerdasan buatan secara umum dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, gagasan bahwa kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran dan akan berbalik menghancurkan manusia, dan kedua, gagasan bahwa orangorang tidak bertanggung jawab akan menggunakan kecerdasan buatan untuk melakukan kejahatan. Namun, Kilian mengungkapkan ketakutan bahwa kecerdasan buatan akan memiliki kesadaran dan mencelakakan manusia disebabkan oleh pemahaman yang salah tentang kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan beroperasi di bawah batasanbatasan spesifik yang didefinisikan oleh algoritme tertentu yang mendikte perilakunya. Beberapa permasalahan yang cocok dengan kemampuan kecerdasan buatan menyebabkan masalahmasalah tersebut mudah untuk dipecahkan oleh mesin. Hal ini berarti, ketika kecerdasan buatan mampu memiliki kecerdasan yang luar biasabermain catur dan mengidentifikasi objek dalam gambar, misalnyahanya sampai di situlah kecerdasannya berakhir. "Tentang kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran, tidak ada kemajuan riset apa pun di area itu. Saya pikir tidak akan ada dalam waktu dekat," kata Kilian, seperti dikutip Space. Di sisi lain, ide bahwa orangorang jahat akan menggunakan kecerdasan buatan untuk melakukan kejahatan lebih mungkin untuk jadi kenyataan. Semua jenis mesin dapat digunakan untuk hal yang baik maupun yang buruk, tergantung tujuan dari penggunanya. Kemungkinan bahwa kecerdasan buatan akan dijadikan senjata tentu menjadi sangat menakutkan. Kilian juga mengatakan, mungkin jika manusia bisa mengesampingkan ketakutannya terhadap kecerdasan buatan, mereka dapat lebih terbuka dalam melihat manfaat yang ditawarkannya. Contohnya, moil yang dapat mengemudikan dirinya sendiri suatu hari dapat mengurangi angka kematian karena kecelakaan yang seringkali diebabkan oleh kesalahan manusia. (eks/eks)
Kemampuan Analisis Manusia Dikalahkan oleh Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Teknologi kecerdasan buatan (AI) belakangan kian menunjukkan kemampuannya melampaui kemampuan manusia. Hal itu terungkap dalam sebuah tes membaca dan pemahaman yang dilakukan oleh Universitas Stanford, California, AS. Dalam tes tersebut, manusia harus menghadapi kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Alibaba, raksasa teknologi asal China. Secara mengejutkan, AI justru mampu melampaui catatan kecerdasan manusia. Teknologi kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Institute of Data Science of Technologies, model AI milik Alibaba mampu mencatatkan skor akhir 82,44 lebih tinggi dari skor manusia yang 'hanya' 82.304. Ada lebih dari 100 ribu pertanyaan yang dibuat dalam sebuah kuis yang harus dijawal oleh model kerdasan buatan dan manusia. Sekitar 500 artikel Wikipedia juga disertakan dalam tes tersebut. Tes ini bertujuan untuk menguji kemampuan mesin dalam memproses informasi sebelum memberikan jawaban yang tepat dan dikenal sebagai salah satu alat pengukur pembacaan mesin yang paling dapat diandalkan di dunia. Kepala ilmuwan untuk pemrosesan bahasa alami di Institute of Data Science of Technologies, yang membuat model AI tersebut menyatakan mesin cerdas tersebut sudah mampu menjawab pertanyaan yang memiliki jawaban pasti. "Dengan hasil tes ini, pertanyaan objektif seperti penyebab hujan sudah dapat dijawab menggunakan mesin," ujar Luo, seperti dilaporkan Bloomberg. Bukan hanya AI milik Alibaba, selang sehari mesin AI milik Microsoft juga menelurkan skor akhir 82.650. Luo juga mengungkap manfaat lain teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi merambah ke aspek kehidupan lain. "Tenaga manusia yang biasanya digunakan untuk aplikasi layanan pelanggan, tutorial museum dan respons berbasis online untuk pertanyaan medis pasien kini sudah dapat dikurangi menggunakan model AI dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya," tegas Luo. Alibaba menjadi salah satu pesaing Tencent Holdings Ltd. dan Baidu Inc. dalam hal pengembangan AI yang dapat meraih umpan media sosial, menargetkan iklan dan layanan serta membantu mobil untuk menyetir dirinya sendiri tanpa pengemudi. (evn)
Kecerdasan Buatan Bisa Prediksi Sisa Umur Manusia Jakarta, CNN Indonesia Sisa umur manusia hingga kini masih menjadi misteri, lantaran belum ada yang bisa memprediksi kapan seseorang akan meninggal dunia. Siap sangka jika belakangan perkembangan teknologi bisa melakukan hal yang dirasa tidak mungkin itu. Tim peneliti dari Universitas Stanford belakangan mengembangkan sistem yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang bisa memprediksi waktu wafat seseorang. Sistem ini berupaya meminimalkan pengaruh emosi dan optimisme yang dimiliki dokter saat memperkirakan sisa umur pasien. Sejauh ini, tim telah menganalisis lebih dari dua juta catatan riwayat kesehatan pasien menggunakan AI. Hal itu dilakukan untuk menemukan pola yang diabaikan dokter dalam mengukur sisa usia pasiennya. Meski terkesan tidak mungkin, namun tim peneliti mengklaim telah mencatatkan akurasi perkiraaan mencapai 90 persen dibandingkan analisa dokter. Tim peneliti mengungkap penyebab dokter cenderung meleset dalam memperkirakan kapan seseorang wafat. "Organisasi penyedia layanan kesehatan memiliki prioritas untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien rawat inap jelang akhir hayatnya. Hasil penelitian menjelaskan dokter cenderung berestimasi terlalu tinggi dalam mengukur waktu meninggalnya seorang pasien." "Faktor ini menyebabkan ketidakcocokan antara harapan lamanya hidup pasien dengan perawatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit menjelang wafat," jelas tim peneliti seperti dilaporkan BGR. Hasil riset yang disusun dalam laporan berjudul 'Improving Palliative Care with Deep Learning' ini bertujuan untuk membantu pasien dan keluarga dalam membuat rencana dan menghadapi hal yang sulit dihindarkan ketika terjadi di masa depan. (evn)
Transportasi dan Kota Pintar Jadi 'Makanan Empuk' AI Shenzhen, CNN Indonesia Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan segera mengisi ruang kegiatan manusia, tak terkecuali di sektor transportasi dan kehidupan perkotaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Huawei dalam Global Industry Vision (GIV) 2025. Perusahaan teknologi asal China, Huawei percaya diri AI akan memiliki peran jauh dalam sistem tata kota dan transportasi yang lebih efisien. Dalam GIV 2025, Huawei menyebutkan peran AI dalam transportasi adalah menghubungkan 200 juta kendaraan dengan jaringan komunikasi 5G. Teknologi itu diperhitungkan bisa mengurangi biaya transportasi hingga 56 persen dan durasi kemacetan sampai 86 persen. Berdasarkan hal itu, Huawei pun meramalkan mobil otonom semakin dekat. Kendati tidak dapat memastikan kapan bisa benarbenar bisa mengaspal secara luas untuk publik. "Kami tidak tahu kapan mobil otonom akan tiba, tapi kalau assisted vehicle kami yakin tak akan lama lagi," ujar Chief Strategy Marketing Officer William Xu di Shenzhen, China, Selasa (17/4). Sementara untuk penerapan kota cerdas, kajian Huawei memakai studi kasus di sejumlah kota di dunia, salah satunya adalah Yabu, Arab Saudi. Setelah membuka jaringan telekomunikasi berkecepatan tinggi dan aplikasi tepat guna, Yanbu berhasil menghemat anggarannya seperti pemeliharaan jalan sebesar 20 persen dan ongkos pencahayaan publik lebih dari 30 persen. Hasilnya pun tak percuma, angka kecelakaan di kota tersebut menurun sehingga pada akhirnya mendorong investasi tumbuh 16 persen pada 2017. Studi dengan hasil serupa juga terjadi di Nairobi, Kenya yang mencatat penerapan AI untk menekan angka kriminalitas hingga 46 persen pada tahun lalu. "Pada 2025 nanti AI akan jadi platform generik di dunia, itu artinya dapat diterapkan ke segala sektor dan industri dan memberikan nilai tambah terhadapnya," pungkas William. (evn)
Adopsi AI Diprediksi Dongkrak Konsumsi Data Shenzhen, CNN Indonesia Huawei menunjukkan kesungguhannya menjajaki potensi kecerdasan buatan (AI) dalam segala lini kehidupan. Mereka memperkirakan akan ada 100 miliar koneksi yang tercipta di seluruh dunia pada 2025 nanti. Huawei menuangkan pandangan lengkapnya tersebut ke dalam Global Industry Vision (GIV) 2025 yang menitikberatkan peran dan pemanfaatan AI. William Xu, Chief Strategy Marketing Officer Huawei, mengatakan AI terutama akan berpengaruh pada pola komunikasi. Ia berkata konten video akan merajai trafik data hingga 89 persen. Lalu secara korporasi, 86 persen di antaranya akan menggunakan AI dalam operasional. Seiring dengan itu, ratarata konsumsi data tiap orang di dunia diprediksi naik 30 kali lipat sebesar 4 GB per harinya. Potensi ekonomi pun diprediksi akan turut meningkat hingga US$23 triliun. William memberi contoh penerapan AI yang paling dekat berasal sistem pemeliharaan di perusahaan telekomunikasi. Menurutnya operator akan lebih mudah mengantisipasi timbulnya masalah di jaringan mereka karena AI dapat menganalisis dan memberi solusi sebagai antisipasi. "Sehingga akan ada pemangkasan ongkos pemeliharaan yang cukup signifikan," ucap William di ajang Huawei Global Analyst Summit 2018 di Shenzhen, China, Selasa (17/4). Laporan tersebut juga mendapati perangkat pintar akan melonjak seiring populernya AI. Sektar 40 miliar perangkat cerdas, 12 persen dari tempat tinggal akan memiliki robot pelayan, 440 juta pengguna VR/AR. Namun yang tak kalah penting, emisi karbon dari setiap koneksi yang tercipta ini diperkirakan turun hingga 80 persen pada 2025. Kendati demikian kondisi tersebut memerlukan syarat yang cukup berat yakni jaringan internet berkecepatan tinggi, yang notabene belum terpenuhi di Indonesia. "Yang diperlukan agar semua benda terhubung adalah 5G dan ultra broadband," ujar Direktur Eksekutif Huawei, David Wang. Indonesia mulai mencicipi kecepatan 4G secara komersial pada 2015 lalu. Mengingat masa perjalanannya yang masih tergolong singkat, para operator seluler diperkirakan tak akan beralih ke 5G dalam waktu dekat. Sementara beberapa negara seperti Korea Selatan dan Jepang diketahui mulai berancangancang menerapkan jaringan 5G. Efek paling hebat dari 5G ini adalah koneksi internet berkecepatan gigabits per second (Gbps). (evn)
Moeldoko Wantiwanti Kecerdasan Buatan Ancam Keamanan Negara Jakarta, CNN Indonesia Jenderal (Purn) Moeldoko, Kepala Staf Presiden (KSP) khawatir perkembangan kecerdasan buatan (artificial intellegence) dan mesin pembelajaran (machine learning) bakal mengancam keamanan negara. Hal ini diungkap pada pidato pertama Moeldoko setelah diangkat menjadi Kepala Staf Presiden (KSP), kemarin (17/1). Lebih lanjut, kekhawatiran Moeldoko ini terutama ditujukan pada generasi produktif di era berkembangnya AI dan machine learning. “Kalau mereka bisa menciptakan komunitas baru yang produktif ya oke," jelas Moeldoko, Kamis (18/1) di Gedung Krida Bakti Sekretariat Negara, Jakarta, dalam acara Future Force Fair 2018. Kekhawatiran Moeldoko juga dilatari oleh kemungkinan semakin sempitnya lapangan pekerjaan di era perkembangan AI dan mesin pembelajaran. "Tetapi bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat sebagaimana mestinya, mereka bisa menciptakan komunitas yang membahayakan bagi negara kalau kita tidak terpikirkan dengan baik. Ngerti yang dimaksud ya?”, lanjutnya. Oleh karena itu, dia meminta anak muda terus berinovasi dan memanfaatkan ruang berkreasi untuk menciptakan komunitas baru yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap tidak dibatasinya ruang inovasi bagi generasi produktif ini. Apalagi, Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 20252030. “Itu bisa jadi peluang dan ancaman. Pertanyaannya pada negara adalah bagaimana memberikan ruang yang cukup pada orangorang hebat ini?” ucapnya. Moeldoko juga menekankan bahwa perubahan dan inovasi adalah menjadi keniscayaan saat ini. Menurutnya, dunia saat ini serba cepat dan haus akan inovasi."Perubahan membuat kita sering terkejut tapi mungkin hanya untuk orangorang tua semacam kami. Kalau anak muda, ideologinya adalah perubahan, inovasi. Inovasi atau mati," ujarnya.Mantan Panglima TNI itu juga menyambut baik semangat model bisnis anak muda yang peduli pada lingkungan sosialnya. Model bisnis ini dikenal sebagai socioentreprenuership. (eks/eks)
Tak Cuma Kamera Ganda, Ponsel dengan AI akan Jadi Tren Jakarta, CNN Indonesia Perusahaan produsen ponsel pintar asal Korea Selatan, LG, dilaporkan akan mengumumkan V30+ alpha di Mobile World Congress 2018. LG V30+ alpha ini akan dilengkapi dengan kecerdasan buatan LG yang diintegrasikan dengan Google Assistant. Langkah ini menyusul Huawei, Samsung, dan Apple, yang sudah lebih dulu menggaungkan integrasi ponselnya dengan kecerdasan buatan. Huawei sendiri menganggap bahwa AI akan mengubah smartphone menjadi intellegent phone, seperti dikutip ZDNet (10/11/17). Saluran interaksi ponsel dengan pengguna bisa dilakukan dengan berbagai saluran; teks, suara, gambar, video, dan sensor. Selain itu, smartphone juga makin aktif memberikan rekomendasi informasi atau aplikasi kepada pengguna. Apple pun telah banyak menyisipkan intelegensi pada prosesor A11 Bionic yang digunakan untuk iPhone 8 dan iPhone X. Samsung juga menyelipkan intelegensi lewat Bixby, asisten virtual yang nantinya akan hadir diseluruh perangkat pintar Samsung. Lantas, apa perlunya AI? Cip AI dibutuhkan untuk mengerjakan tugas yang dilakukan untuk machine learning, deep learning, dan neural network. Pekerjaanpekerjaan yang dibutuhkan agar ponsel bisa mengerjakan dua fungsi cerdas yang telah disebutkan sebelumnya. Pekerjaan yang jauh lebih cepat dari CPU atau GPU. Jadwal molor Tahun 2018 sendiri sepertinya akan jadi tahun yang sulit bagi LG. Bisnis smartphone perusahaan asal Korea Selatan ini tak sebaik sebelumnya. Berbagai inovasi coba dihadirkan tapi sepertinya belum membuahkan hasil untuk mendongkrak penjualan ponsel perusahaan ini. Sebelumnya, LG sempat menawarkan ponsel modular namun ponsel ini tak mendapat sambutan baik di pasar hingga akhirnya LG menghentikan produksi ponsel itu. Soal molornya jadwal peluncuran G7, CEO LG Mobile, Jo Seong berkilah ia tengah meminta timnya untuk membangun ulang LG G7 dari awal. Oleh karena itu, ponsel ini bisa jadi baru rilis beberapa bulan setelah MWC 2018 usai, seperti dikutip Slash Gear. LG juga mengonfirmasi bahwa perusahaan tak akan melepas ponsel flagship setiap tahun. CEO Jo Seongjin mengatakan di akhir Consumer Electronics Show pekan lalu bahwa pihaknya memang ingin menahan model ponsel selama mungkin. Sayangnya belum ada informasi lebih lanjut apakah LG juga akan membangun asisten virtual sendiri seperti Samsung dengan Bixbynya. Korean Herald hanya menyebut LG akan menyediakan Google Assistant dalam Bahasa Korea. Kabarnya LG V30+ ini tak banyak berbeda dari yang telah dirilis tahun lalu. Ponsel ini juga akan membawa prosesor jagoan tahun lalu dari Qualcomm yaitu Snapdragon 835. (eks/eks)
Elon Musk Sebut AI Paling Bikin Stres Jakarta, CNN Indonesia CEO sekaligus pendiri Space X dan Tesla, Elon Musk mengungkap hal yang paling membuatnya menjadi semakin tertekan menjalani keseharian. Kendala produksi mobil otonom Tesla Model 3 dan pesatnya teknologi kecerdasan buatan (AI) menurt Musk jadi dua hal yang paling membuat stres. "Saat ini hal yang paling membuat saya stres adalah perkembangan AI dan fokus untuk memproduksi Tesla Model 3," ungkapnya saat menjadi pembicara di perhelatan South by Southwest festival (SXSW) di Austin, Texas. Ia memperkirakan kemajuan Ai bisa mempercepat adopsi mobil swakemudi pada 2019. Musk mengklaim Tesla Autopilot 2.0 nantinya akan jauh lebih aman sehingga orang tidak perlu duduk di balik kemudi ketika berada di jalan. "Saya rasa AI jauh lebih berbahaya daripada nuklir. Untuk itu perlunya mengatur perkembangan AI untuk menjamin keselamatan umat manusia," jelasnya. Selain AI, ia menyebut kendala produksi pada Tesla Model 3 juga kerap membuatnya stres. Musk menekankan saat ini perusahaannya telah mengalami kemajuan dengan bekerja ekstra keras memenuhi permintaan dalam jumlah besar. Pada Desember 2017, Tesla menggadanggadang mampu memproduksi 20 ribu unit Model 3 per bulannya. Kenyataannya, perusahaan hanya mampu memproduksi 1.550 unit pada kuartal keempat 2017. Sejak mengungkap kemunculan mobil listrik di awal 2016, Tesla menuai perhatian dan mendapatkan permintaan dari konsumen. Mengutip Business Insider, Musk tak menampik pihaknya mengalami perlambatan produksi, pasokan baterai jadi salah satu komponen yang membuat hal ini tertunda. Di sisi lain, proses perakitan berbasis automasi juga menjadi faktor penghambat lainnya. (evn)
Helm Dengan Kecerdasan Buatan Bantu Tunanetra 'Lihat' Sekitar Shenzhen, CNN Indonesia Huawei memamerkan helm canggih yang dapat 'melihat' lingkungan di sekitar penggunanya. Hal itu bisa terjadi berkat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mereka benamkan di dalam helm itu. Helm buatan Huawei ini berwarna merah menyala dan berbentuk serupa dengan helm sepeda. Bedanya, ada antena yang mencuat di atas helm yang berfungsi sebagai pengirim dan penerima sinyal. Huawei memamerkan helm canggih itu dari sebuah video yang diputar dalam forum Huawei Analyst Summit 2018 di Shenzhen, China. Chief Strategy Marketing Huawei William Xu berkata teknologi seperti ini akan memudahkan hidup para penyandang disabilitas. "Akan segera ada di pasar," kata William percaya diri, Selasa (17/4). Dalam video demonstrasi yang diputar, helm AI tersebut dipakai seorang perempuan lansia tunanetra. Perempuan itu lalu berjalan seperti orang pada umumnya tanpa menggunakan tongkat pemandu. Tak hanya menyeberang jalan dengan aman, perempuan tadi terkesan bisa mengenali temannya yang berdiri tak jauh di depan. Terlepas dari itu, William tak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya menekankan bahwa AI akan berperan penting dalam kehidupan seharihari manusia di masa depan. Presentasi William di forum tersebut banyak membahas arah bisnis Huawei di masa yang akan datang. Dengan dukungan jaringan telekomunikasi 5G, teknologi AI akan jadi tumpuan mereka seperti yang mereka rumuskan dalam Global Industry Vision (GIV) 2025. Kendati menyebut angka 2025, tak menutup kemungkinan Huawei akan meluncurkan produkproduk berbasis AI seperti helm canggih tadi lebih cepat. Helm AI ini dikembangkan oleh divisi X Labs milik Huawei yang fokus berinovasi pada teknologi masa depan. (eks/eks)
Kecerdasan Buatan Deteksi Kepribadian dari Gerakan Mata Jakarta, CNN Indonesia Sekelompok peneliti berhasil membuat kecerdasan buatan yang bisa mendeteksi kepribadian seseorang lewat gerakan matanya. Kecerdasan buatan ini merupakan hasil kerjasama antara Universitas South Australia, Universitas Stuttgart, Universitas Flinders, dan Institut Informatika Max Planck di Jerman. Mereka membuat algoritma machine learning untuk mencari tahu hubungan antara gerakan mata dengan kepribadian mereka. Mereka mengidentifikasi kepribadian seseorang ini menggunakan lima tipe kepribadian (Big Five Personality Traits). Tipe kepribadian ini membagi seseorang dengan karakter yang imajinatif, hatihati, sering khawatir. Dari hasil penelitian, gerakan mata seseorang bisa menunjukkan apakah mereka tergolong karakter yang punya rasa ingin tahu tinggi atau sangat hatihati, efisien atau ceroboh, supel atau penyendiri, bersahabat atau individualis, sering khawatir atau percaya diri. Mereka telah melakukan percobaan kepada 42 orang partisipan menggunakan pelacak mata berbasis video dari SensorMotoric Instruments. Para peneliti mengecek ulang hasil temuan mereka dengan kuesioner yang telah disediakan sebelumnya. Menurut hasil penelitian, gerakan pertama dari mata seseorang bisa menjadi indikasi mengenai kepribadian orang tersebut. Tapi tujuan dari penelitian ini sebenarnya bukan sekedar untuk mengenali kepribadian seseorang, tapi akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan mesin saat berinteraksi dengan manusia. "Saat kemampuan sosial robot dan komputer tidak terlalu awas dengan kondisi sekutar, sehingga mereka tak bisa merespon terhadap isyarat nonverbal," Tobias Loetscher dari Universitas South Australia, seperti dikutip CNet. "Penelitian ini bisa digunakan untuk membuat robot dan komputer yang lebih alami dan mampu menginterpretasi isyarat sosial manusia secara lebih baik." (eks/eks)
Adopsi Kecerdasan Buatan Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara Jakarta, CNN Indonesia Kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) kian digandrungi oleh perusahaan di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakan perusahaan analitik SAS dan International Data Corporation (IDC), Indonesia memimpin dalam pengadopsian kecerdasan buatan di bidang industri di Asia Tenggara. Sebanyak 24,6 persen perusahaan di Indonesia mengadopsi AI. diikuti oleh Thailand (17,1 persen), Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen). Secara keseluruhdan tingkat adopsi AI di Asia Tenggara telah mencapai 14 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu dengan tingkat adopsi hanya delapan persen. Direktur Riset Global Big Data IDC Chwee Kan Chua mengatakan tingginya adopsi di Indonesia ini lantaran kedewasaan perusahaan untuk menggunakan AI sebagai cara untuk menginkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis. "Kami berharap investasi di AI akan terus meningkat, karena semakin banyak perusahaan mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data dan analisis dapat membantu menghasilkan insight baru," ujar Chwee dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (16/7). Hasil survei juga menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden atau sekitar 51 persen menganggap alasan utama pengadopsian AI adalah untuk mendapatkan wawasab bisnis yang lebih baik. Alasan lainnya adalah untuk otomisasi pada proses industri (51 persen) dan meningkatkan produktivitas (42 persen). Chwee mengatakan perusahaan yang tidak menerapkan AI dalam operasi bisnis dipastikan akan kalah dengan perusahaan yang menerapkan AI. "Dengan dampak positif yang sudah terlihat di industri perbankan, manufaktur, kesehatan dan pemerintahan, ada peluang yang besar supaya lebih banyak perusahaan di Asia Tenggara memanfaatkan AI. Penerapan AI akan mendapatkan keuntungan dari ketepatan, efisiensi dan kelincahan inovasi yang lebih besar, sebagai hasil dari analitik tingkat lanjut," ujar Chwee. Kendati demikian, penerapan AI ini memang masih ada hambatan di Indonesia terutama dalam sisi keahlian dan biaya. Oleh karena itu, penerapan AI di Indonesia tidak menjadi agenda penting negaranegara di Asia Tenggara. Selain itu, lebih dari 50 persen perusahaan di Indonesia juga masih belum berencana untuk menerapkan AI dalam lima tahun ke depan. Chwee mengatakan padahal tingkat kepercayaan pada kapabilitas AI di China dan Korea Selatan mencapai lebih dari 80 persen. Kedua negara ini percaya AI sangat krusial bagi kesuksesan dan daya saing perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan hasil survei, sebanyak 23 persen responden mengatakan bahwa penerapan AI di Asia Tenggara disebabkan oleh kekurangan kemampuan dan pengetahuan AI. Selain itu, biaya penerapan AI (23 persen) juga merupakan hambatan penerapan AI. (evn)
Prediksi Gempa Susulan, Peneliti Libatkan Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Kecerdasan buatan yang disebut neural network diperkirakan bisa memprediksi dimana gempa susulan akan terjadi setelah gempa bumi pertama. Akurasi prediksi ini diperkirakan lebih tepat ketimbang teknik standar, seperti dipublikasikan sebuah studi yang dipubikasikan Nature, Rabu (29/8). Setelah gempa bumi utama, gempa bumi susulan bisa membahayakan para penyintas dan mereka yang mencari pertolongan. Studi tersebut dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas Harvard, Universitas Connecticut, dan Google. Mereka tengah melatih neural network yang mereka buat agar bisa memprediksi apakan akan terjadi gempa susulan di wilayah tertentu. Neural network ini dilatih dengan memberi data yang diambil dari contoh 131.000 pasang gempa dan gempa susulan yang muncul berikutnya. Daerah yang dilanda gempa dipetakan dalam jejaring sel (grid cell). Neural network ini belajar untuk memprediksi wilayah gempa susulan dengan mempelajari distribusi tekanan yang terjadi akibat gempa awal. Pemetaan wilayah gempa susulan ini dilakukan dengan peta daerah yang sudah diberi jejaring sel tadi. "Dengan membedakan volume dari tiap gempa utama, prediksi pascagempa bisa diformulasikan sebagai masalah klasifikasi binari dalam skala besar. Akurasi tiap sel grid mencapai 5 km x5 km x 5 km. Sel grid pada volume setelah gempa utama bisa jadi mengakibatkan gempa susulan atau tidak," tulis laporan itu. Neural network telah diuji untuk 30.000 kejadian gempa bumi. Sejauh ini, prediksi gempa susulan dengan teknologi ini lebih akurat dari metode sebelumnya (Couloumb failure stress change). Metode lawas ini memeriksa perubahan tekanan di sekitar daerah setelah gempa terjadi. Metode pengukuran gempa paling akurat diberi nilai 0,5 sampai 1. Neural network berhasil mendapat skor 0,849. Sementara metode Couloumb mendapat skor 0,583."Kriteria Coulomb failure stress change telah banyak digunakan untuk menentukan posisi gempa susulan [...] Neural network bisa memprediksi lebih baik," jelas Phoebe DeVries, mahasiswa pascasarjana dari Universitas Harvard seperti dikutip The Register. Model neural network ini masih berupa prototipe dan belum memperhitungkan berbagai jenis tekanan fisik lain. Sehingga, metode perkiraan gempa ini masih belum bisa digunakan dalam waktu dekat. Meski demikian pengembangan metode ini terus berlanjut dan diharapkan bisa digunakan oleh para pengamat gempa dan tim penyelamat. "Kami memandaang hal ini sebagai langkah awal yang membangkitkan semangat. Masih banyak fenomena fisik yang mungkin memengaruhi perilaku gempa susulan," jelas DeVries. "Tapi ke depan, machine learning bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk menghubungkan semua jenis fenomena fisik [seperti] perubahan tegangan dinamis, perubahan tegangan poroelastik, struktur geologi yang ada untuk memprediksi perilaku gempa susulan."(eks/eks)
Kecerdasan Buatan Bisa Bantu Penanganan Bencana Jakarta, CNN Indonesia Kecerdasan buatan (AI) diklaim bisa membantu membenahi penanganan bencana alam. Country Manager IBM Tan Wijaya Wijaya menjelaskan penerapan AI ini bisa membuat pendistribusian bantuan makanan maupun obatobatan tepat sasaran dan cepat. "Contoh saat Tsunami Aceh, daerah yang paling rusak itu di pedalaman. Tapi suplai atau lgositik bantuan itu lebih banyak di tepi pantai. AI kami memungkinkan untuk melakukan inventaris di mana logistik yang harus disebarkan, yakni ke daerah yang paling membutuhkan yang membutuhkan," kata Wijaya ketika ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/9). Selain untuk memprediksi bencana alam dan distribusi bantuan, menurut Wijaya kecerdasan buatan juga bisa memberikan informasi mengenai prediksi cuaca dan potensi bencana akibat perubahan atau cuaca ekstrim. "Di Rio de Janeiro Brazil kami menerapkan AI untuk membaca cuaca lebih cepat. Karakteristiknya kota ini mudah terjadi bencana banjir kalau terjadi hujan besar," tuturnya. Wijaya juga mengatakan saat bencana alam, hal yang paling rumit adalah mencari sanak saudara di tengahtengah kondisi bencana alam tersebut. Wijaya mengatakan AI yang tersambung dengan cloud bisa memudahkan pencarian ini karena data base terintegrasi. "Saat bencana yang jadi masalah bagi semua orang adalah menemukan keluarga. Masing masing tidak akan ketemu kalau mencari dengan manual. Yang kita lakukan adalah cukup masukkan lokasi ke komputer. Lalu bisa menemukan orang tersebut lewat komputer," ujar Wijaya. Berdasarkan situs IBM, IBM memiliki program insiatif untuk menanggulangi bencana alam. Inisiatif ini dinamakan Call for Codes. Call For Codes mengajak pengembang untuk membuat aplikasi berbasis AI untuk persiapan menghadapi bencana alam. Misalnya pengembang bisa membuat aplikasi yang menggunakan data ramalan cuaca dan sistem informasi berantai untuk memperingatkan apotek lokal ketika diramalkan akan terjadi bencana berdasarkan data cuaca itu. Peringatan ini akan membuat apotek bisa meningkatkan suplai obatobatan, air dan keperluan logistik untuk menghadapi bencana. Aplikasi ini juga bisa membaca daerah mana yang terkena dampak paling besar sehingga bantuan logistik bisa tepat sasaran. (eks)
Kecerdasan Buatan Lakukan Penilaian dan Penagihan Kredit Jakarta, CNN Indonesia Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin marak digunakan dalam lintas industri. Penggunaan terbarunya, saat ini AI dimanfaatkan dalam industri peminjaman uang daring (fintech lending). Perusahaan FinAccel yang mengembangkan fintech lending Kredivo menceritakan penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk layanannya. CEO FinAccel Akshay Garg memaparkan teknologi AI digunakan saat pengguna hendak mengajukan kredit dan ketika perusahaan hendak melakukan penagihan pembayaran kepada pengguna. "Credit scoring engine (mesin penilai kredit) adalah mesin yang menyetujui atau tidak menyetujui pengajuan kredit pengguna. Secara keseluruhan, kirakira hanya sepertiga pengguna yang mengajukan pinjaman yang kami terima permohonan kreditnya," kata Garg saat ditemui di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/7). Garg memaparkan, hal tersebut terjadi karena teknologi kecerdasan buatan telah menyeleksi setiap pengajuan kredit dengan ketat. Seleksi tersebut dilakukan dengan cara menilai data milik pengguna. Ia pun menegaskan bahwa data yang diserahkan oleh pengguna tidak dilihat oleh pihak Kredivo, melainkan langsung diproses oleh AI. Sehingga, keamanan data pengguna bisa dipastikan aman. Menurut Garg, dengan proses seleksi yang ketat, Kredivo dapat meminimalisir kemungkinan pengguna yang tidak membayarkan kredit mereka. Selain untuk menyeleksi pengajuan kredit, AI juga digunakan untuk membantu sistem penagihan. Garg menyebut bahwa ketika kredit sudah hampir jatuh tempo, AI akan mengirimkan notifikasi kepada pengguna untuk mengingatkan mereka agar membayar kredit. Jika pengguna tidak melakukan pembayaran, maka pengguna akan ditelepon oleh pihak Kredivo untuk mengingatkan pengguna tentang pembayarannya. Apabila dalam waktu 30 hari pengguna belum juga melakukan pembayaran, seorang agen lapangan akan menemui pengguna. "Di tahap ini kami juga menggunakan AI. Para agen lapangan memiliki aplikasi yang memberi tahu mereka, siapa pengguna yang harus diprioritaskan untuk ditemui setiap harinya. Hal itu ditentukan oleh AI menurut sebuah algoritme tersendiri, dan itu sangat membantu kami," ujar Garg. (age/age)
Industri Media Hadapi Era Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Chairman CT Corp Chairul Tanjung menyebut bahwa industri media saat ini masuk ke babak baru, era kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan inilah yang membuat media bisa memberikan konten yang dipersonalisasi untuk pembacanya. Dengan kecerdasan buatan, media bisa membaca kebiasaan baca penggunanya, kemudian hasil analisa behaviour tersebut digunakan untuk menyajikan topiktopik bacaan yang memang ia minati. "Personalized content (memanfaatkan) artificial intelligence. Dengan data yang diterima, media digital bisa tahu [...] Ada algoritma yang bisa memprediksi, jadi berita yang dibikin (disajikan) benerbener personalized yang disukai dan dicari (oleh pembaca)," tuturnya, Rabu (26/7). Dengan adanya tantangan baru ini, maka Chairul menyebut bahwa media sekali lagi perlu berevolusi. Sebab, evolusi adalah keniscayaan yang harus dihadapi seiring dengan kemajuan zaman. Untuk itu ia berharap para pelaku industri media bisa memahami peta jalan pengelolaan media digital ke depan sehingga bisa mengatur strategi untuk memenangkan kompetisi. Sebab, menurut Chairul dalam era digital ini menjadi pemenang berarti menguasai sebagian besar pasar. Sebab, mereka yang berhasil menempati posisi puncak bisa menguasai sekitar 70 persen pasar, nomor 2 sekitar 20 persen market, dan 10 persen pasar sisanya dibagibagi kepada sisa pemain."Ini adalah keniscayaan sekarang, (sehingga) mesti pintarpintar membaca peluang," tegasnya. Sebab, tanpa evolusi Chairul percaya, sulit bagi media untuk bertahan. Ia mencontohkan bagaimana Kompas dan Jawa Pos berhasil melampaui perubahan zaman dari era media cetak menjadi media online. "Kita tahu Kompas, Jawa Pos dulunya koran. Tapi mereka tahu mereka enggak akan survive kalau terus bertahan. Harga kertas terus naik, oplah menurun, iklan berkurang, mau gau movement. Mereka lantas buat kompas.com, jawapos.com. semua outlet sekarang bikin.com. ini proses metamorfosanya," tandasnya. (eks/eks)
Pekerjaan yang Terancam Punah oleh Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Perusahaan konsultan PwC dan OECD melakukan penelitian terkait pekerjaan yang terancam punah dengan semakin canggihnya kecerdasan buatan. OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) sendiri adalah organisasi internasional untuk ekonomi dan pembangunan. Penelitian keduanya dilakukan terpisah, namun sepakat bahwa artificial intellegence (AI) memang mengancam beberapa sektor pekerjaan. Namun di sisi lain, bisa memberikan jenisjenis pekerjaan baru yang mungkin belum pernah didengar saat ini. "Secara keseluruhan, sekitar 7 juta pekerjaan yang saat ini ada diperkirakan akan tergantikan, tapi akan ada 7,2 juta pekerjaan baru yang akan diciptakan. Sehingga memberikan tambahan 200 ribu lapangan pekerjaan baru," tulis PwC. Beberapa sektor yang akan mendulang keuntungan dari perkembangan kecerdasan buatan dan tidak terlalu terdampak dari teknologi ini adalah sebagai berikut. Kesehatan dan pekerjaan sosial (berkurang 12 persen) Pendidikan (berkurang 18 persen) Pekerjaan penelitian dan teknis (berkurang 18 persen) Informasi dan komunikasi (berkurang 18 persen) Akomodasi dan layanan makanan (berkurang 16 persen) Pada sektor tersebut kehadiran AI tetap memberikan efek mengurangi pekerjaan. Namun jenis pekerjaan baru yang akan muncul dari penggunaan kecerdasan buatan justru lebih tinggi. "Hanya 12 persen pekerjaan pada sektor kesehatan yang akan digantikan dengan adanya kecerdasan buatan. Sementara teknologi ini akan menciptakan 34 persen pekerjaan baru," prediksi PwC dalam laporannya seperti dikutip Business Insider. Sementara sektor pekerjaan yang akan sangat terpengaruh oleh perkembangan AI ini adalah pekerjaanpekerjaan repetitif dan administratif yang tak membutuhkan keahlian tinggi, sebagai berikut. Keuangan dan asuransi (berkurang 25 persen pekerjaan) Ritel (berkurang 28 persen) Konstruksi (berkurang 15 persen) Administrasi publik dan pertahanan (berkurang 23 persen) Transportasi dan pergudangan (berkurang 38 persen) Manufaktur (berkurang 30 persen) Pada sektor berikut efek kecerdasan buatan sangat berpengaruh tinggi terhadap ketersediaan pekerjaan. Sehingga jumlah pekerjaan yang ada saat ini akan tergerus dengan adanya otomasi dari kecerdasan buatan. (eks/eks)
Perusahaan Indonesia Banyak yang Tak Berencana Adopsi AI Jakarta, CNN Indonesia Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) di Indonesia disebutkan mengungguli negara Asia Tenggara lainnya. Indonesia lebih unggul dibandingkan Thailand, Malaysia bahkan Singapura. Sebab, jumlah perusahaan yang menerapkan AI di Indonesia jauh lebih banyak dari negara lain di Asia Tenggara. Berdasarkan survei dari perusahaan bidang analitik SAS dan International Data Corportation (IDC) menunjukkan 24,6 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI. Sementara perusahaan di Thailand menempati posisi dua dengan 17,1 persen, disusul Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen). Meski punya angka adopsi yang paling tinggi, tapi persentase perusahaan di Indonesia yang tidak berencana mengadopsi AI dalam lima tahun ke depan juga paling tinggi di Asia Tenggara. Sebab, 59 persen perusahaan di Indonesia tidak berencana untuk menerapkan AI dalam lima tahun ke depan. Angka ketidaktahuan ini juga jadi yang paling tinggi di antara negara lain di Asia Tenggara tanpa memberikan bukti berupa detil angka rencana penerapan AI di tiga negara lain yang disurvey dalam lima tahun ke depan. Kesenjangan persentase tingginya pengadopsian dan ketiadaan rencana AI di Indonesia ini menurut Country Manager SAS Indonesia Peter Sugiapranata menunjukkan adanya hambatan evolusi dari bisnis tradisional di Indonesia menjadi bisnis digital. Di satu sisi Peter mengatakan penerapan AI semakin tinggi karena pertumbuhan cepat perusahaan digital berbasis internet di Indonesia. Kendati demikian di satu sisi, penerapan AI ini juga terhambat dengan banyaknya perusahaan tradisional masih nyaman dan tidak berencana untuk menggunakan teknologi digital. Padahal menurut Peter, penerapan AI bisa mempercepat berbagai proses dalam bisnis. Menurut Peter, AI akan menjadi pendorong bagi perekonomian di Indonesia. "Makin tingginya penggunaan AI di Indonesia terjadi berkat pertumbuhan yang cepat perusahaan Internet di negeri ini. Indonesia sedang mengalami peningkatan persaingan perusahaanperusahaan teknologiyaitu mereka menyediakan layanan angkutan online, pembiayaan mikro, mobile, dan ecommerce, begitu juga gaming, kata Peter dalam keterangan resmi kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/7). Peter agar AI lebih banyak diadopsi di Indonesia, maka diperlukan kesadaran perlunya penerapan AI di Indonesia. Sehingga, adopsi layanan ini bisa mulai direncanakan. Hal ini dilanjutkan dengan keterbukaan data sehingga semua pegawai bisa mendapat wawasan (insight) dan mereka jadi lebih melek tentang AI. "Akses ke sumber daya (data) saat ini menjadi hambatan. Tapi saat ini ada pilihan untuk membuat wawasan data itu bisa diakses oleh siapapun dari berbagai tingkatan di perusahaan. Tidak hanya oleh peneliti dan pakar data," ujar Peter. Survey SAS dan IDC ini melibatkan 146 responden dari empat negara di Asia Tenggara pada 2018. (eks/eks)
Canggih, Teknologi AI Lebih Akurat Deteksi Kanker Kulit Suara.com Untuk pertama kalinya, penelitian baru menunjukkan kecerdasan buatan (AI) lebih baik daripada manusia dalam mendeteksi kanker kulit. Tim peneliti internasional menantang ahli dermatologi dengan menggunakan mesin sistem pembelajaran yang dikenal sebagai Convolutional Neural Network (CNN), untuk melihat siapa yang lebih efektif dalam mendeteksi melanoma ganas. CNN adalah jaringan syaraf tiruan yang terinspirasi oleh proses biologis yang terjadi ketika neuron otak saling terhubung satu sama lain. Mesin pintar ini dianggap mampu belajar dari apa yang telah "dilihat" sehingga dapat terus meningkatkan kinerjanya. Para ahli dermatologi dari 17 negara yang berpartisipasi dalam penelitian ini diperlihatkan 100 gambar lesi kulit beserta informasi tambahan tentang pasien dan diminta untuk membuat diagnosis menggunakan penilaian mereka tentang apakah itu melanoma ganas atau jinak. Sementara para peneliti menunjukkan, CNN hanya dengan 300 gambar lesi kulit. Hasilnya, para dermatologis secara akurat mendiagnosis 89 persen melanoma ganas, sementara sistem kecerdasan buatan yang bekerja hanya dari gambar mampu mendeteksi 95 persen melanoma dengan benar. "Temuan ini menunjukkan bahwa setelah CNN belajar dengan sendirinya lebih mendalam tentang gambar yang diberikan, jaringan saraf ini mampu melakukan diagnosa dengan baik," kata salah satu penulis studi, Profesor Holger Haenssle yang mengelola di Departemen Dermatologi di Universitas Heidelberg Jerman. Meskipun teknologi AI lebih akurat, para peneliti tidak beranggapan bahwa teknologi ini harus menggantikan peran dokter. Sebaliknya, itu bisa menjadi alat yang berguna dalam membantu para dokter mendiagnosa kanker kulit dengan lebih akurat. [CBSNews]
Teknologi AI Ini Bisa Lindungi Terumbu Karang Indonesia Suara.com Berbekal teknologi AI (kecerdasan buatan), penemuan ilmiah terbaru di lepas pantai Pulau Sulawesi, Indonesia, menunjukkan bahwa beberapa karang air dangkal tahan terhadap pemanasan global daripada yang diperkirakan sebelumnya. Antara tahun 2014 dan 2017, terumbu karang di dunia mengalami peristiwa pemutihan karang terburuk karena peristiwa siklus iklim El Nino, ditambah dengan pemanasan antropogenik yang menyebabkan peningkatan suhu air. Dilansir dari The Guardian, survei bulan Juni lalu yang didanai cofounder Microsoft, Paul Allen, menemukan terumbu karang Sulawesi dalam kondisi sehat. Bahkan, terumbu karang tersebut dalam kondisi yang lebih baik daripada ketika tim peneliti menyurveinya pada tahun 2014 silam. Indonesia di jantung Coral Triangle, memiliki karang yang mengandung lebih banyak spesies daripada seluruh Karibia. Dibantu dengan teknologi kamera 360 derajat dan kecerdasan buatan (AI), para ilmuwan dapat mengumpulkan dan menganalisis lebih dari 56.000 gambar terumbu karang dangkal. Selama enam minggu, tim ilmuwan menyebarkan skuter bawah air yang dilengkapi dengan kamera 360 derajat yang dapat memotret hingga 1,5 mil karang sekali penyelaman. Para ilmuwan di University of Queensland, Australia, kemudian menggunakan AI untuk mengidentifikasi dan mengkatalogkan gambar karang tersebut. Melalui teknologi Deep Learning terbaru, mereka 'mengajarkan' AI bagaimana mendeteksi pola dalam kontur dan tekstur kompleks dari gambar karang. Setelah AI menunjukkan antara 400 dan 600 gambar, AI mampu memproses gambar secara mandiri. "Penggunaan AI untuk menganalisis foto karang dengan cepat telah meningkatkan efisiensi dari apa yang yang manusia lakukan," ungkap Dr Emma Kennedy, ilmuwan asal Inggris yang memimpin tim peneliti. Penelitian di Sulawesi adalah bagian dari 50 Reefs Initiative, salah satu proyek utama yang berfokus pada pengumpulan dan analisis data dasar. Temuan ini akan membantu para ilmuwan dan konservasionis menargetkan program konservasi karang di tempat lain di dunia.
AI Cina Kalahkan 15 Dokter dalam Kompetisi Diagnosis Tumor Hitekno.com Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sudah semakin pesat. Bahkan AI sudah mulai bersaing dengan manusia. Diberitakan sebelumnya, dibentuk tim AI yang akan mengikuti perlombaan eSport tingkat dunia. Dan barubaru ini, dilaporkan kalau AI telah berkompetisi melawan dokter manusia sungguhan. Dilansi TheNextWeb, AI bernama BioMind ini dikembangkan oleh Artificial Intelligence Research Centre for Neurological Disorders di Beijing Tiantan Hospital. AI ini berkompetisi melawan 15 dokter ternama di Cina dalam mendiagnosis tumor dan memprediksi ekspansi hematoma. Dan hebatnya, BioMind menang melawan para dokter profesional tersebut. Ketika mendiagnosis tumor otak, BioMind benar 87 persen. Sedangkan para dokter hanya benar 66 persen. Ai ini juga cuma membutuhkan waktu 15 menit dalam mendiagnosis, sedangkan dokter membutuhkan waktu sekitar 30 menit. BioMind kembali menang dalam memprediksi ekspansi hematoma otak. Prediksi Ai ini benar 83 persen, sedangkan dokter hanya 63 persen. Rahasia di balik AI ini adalah para peneliti yang memberikan ribuan arsip dari Beijing Tiantan Hospital. Wakil Presiden Rumah Sakit Tiantan Beijing, Wang Yongjun mengungkapkan dirinya tidak peduli siapa yang menang apakah AI atau dokter. "Saya berharap dengan kopetisi ini, dokter dapat mengetahui kekuatan AI" katanya. "Ini terutama untuk beberapa dokter yang skeptis tentang AI. Saya berharap kedepannya dapat menghilahkan ketakutan mereka pada AI" tutupnya.
Kominfo Kembangkan Kecerdasan Buatan Perangi Pornografi Jakarta, CNN Indonesia Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Semuel Abrijani Pangerapan memastikan pihaknya saat ini tengah mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menyaring konten pornografi yang beredar di media sosial. Semuel menyebut AI nantinya bisa digunakan sebagai salah satu alat untuk memberantas konten pornografi di media sosial. "AI itu akan sangat membantu terutama untuk menangani konten pornografi. Kita (Kemkominfo) sedang kembangkan," kata Semuel di kantor Kemkominfo, Jakarta Pusat, Selasa (10/7). Lebih lanjut, Semuel mengatakan proses penyaringan konten pornografi menggunakan AI ini akan berlangsung dengan cepat. Pasalnya AI memiliki algoritme yang mampu melakukan kategorisasi konten pornografi. Menurutnya, kategorisasi konten pornografi bisa bekerja lebih cepat lantaran peran AI akan lebih besar ketimbang manusia. "Kalau sudah AI kita jadi mungkin 8085 persen sudah dilakukan AI, 15 persennya baru dilakukan manusia," imbuhnya. Dibandingkan kategorisasi konten negatif lainnya, ia mengatakan konten pornografi akan lebih mudah lantaran bisa diidentifikasi melalui gambar dan video. "Pemberantasan konten negatif jadi lebih cepat terutama pornografi. Kalau pornografi ada ciri khas, dari gambarnya dan lainlain, kita bisa baca algoritmenya," ucap Semuel. (evn)
Google Kembangkan Kecerdasan Buatan Prediksi Kematian Jakarta, CNN Indonesia Pasien penderita penyakit komplikasi yang lama terbaring di rumah sakit tak jarang membuat harapan untuk kembali sembuh kian tipis. Tak jarang dokter tak mampu berbuat banyak, lantaran kondisi pasien yang sudah di penghujung kematian. Dalam kondisi ini, Google mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) untuk memprediksi waktu kematian seseorang. Algoritme Google membaca 175.639 poin data dari seorang pasien pengidap kanker payudara stadium lanjut. Penyakit ini membuat cairan memenuhi paruparu dan organ vital lainnya sehingga dokter memperkirakan ia hanya memiliki peluang hidup sebesar 9,3 persen. Sebaliknya, algoritme Google justru memperkirakan harapan hidup sedikit lebih besar. Dari data yang diperoleh, Google memperkirakan peluang kematian perempuan itu mencapai 19,9 persen. Meski beberapa hari kemudian pasien dinyatakan meninggal dunia. Belajar dari kasus tersebut, Google mengembangkan alat untuk memperkirakan peluang hidup pasien, termasuk berapa lama ia harus dirawat di rumah sakit, hingga kemungkinan pasien perlu dirawat kembali, dan waktu meninggal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Kecerdasan buatan ini mengolah semua informasi dan menghasilkan prediksi, jauh lebih cepat dan akurat dari teknikteknik yang telah ada sebelumnya. Algoritme Google bahkan menunjukkan data mana yang akan berujung pada penarikan konklusi. Nigam Shah, profesor dari Stanford University sekaligus salah satu penulis dalam riset ini menyebut metode yang ada sekarang menghabiskan 80 persen waktu untuk membuat data laik saji. Sementara pendekatan yang digunakan Google justru menghindari hal tersebut. Kemampuan Google dalam menyaring data, termasuk catatan yang terkubur dalam dokumen dan grafik lama tak dipungkiri membuat rumah sakit, dokter dan penyedia layanan kesehatan kagum. Mengingat sejauh ini lembaga kesehatan telah berupaya bertahuntahun untuk menggunakan rekam jejak kesehatan dan data pasien untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Jeff Dean, kepala bagian kecerdasan buatan Google kepada Bloomberg mengatakan tahap berikutnya yang akan ditempu yakni mengintegrasikan sistem yang memprediksi gejala penyakit ke klinikklinik. Ia menyebut tingkat akurasi prediksi penyakit diharapkan bisa menjadi harapan dan alarm. "Mereka memahami masalah apa yang perlu segera dicarikan solusinya. Sejauh mereka (Google) telah melakukan cukup eksperimen kecil untuk mengetahui hasil yang berbedabeda dari setiap pengujian," ungkap Jeff. Ia berharap kecerdasan buatan ini mampu mengarahkan para dokter kepada pengobatan tertentu dan membantu mendiagnosa penyakit pasien dengan lebih tepat. (evn)
Kecerdasan Buatan Prediksi Spanyol Juara Piala Dunia 2018 Jakarta, CNN Indonesia Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) memprediksi negara yang akan membawa pulang trofi Piala Dunia 2018. Dalam survei kali ini, tim peneliti melakukan lebih dari 100 ribu simulasi pertandingan menggunakan machine learning. Menggunakan data statistik dari pertandingan sebelumnya yang digabungkan dengan tiga macam metode AI, tim peneliti menarik kesimpulan bahwa Spanyol akan menjadii jawara pada pesta akbar sepak bola kali ini. Sementara juara bertahan Jerman diprediksi akan menghadapi sejumlah lawan yang tak kalah tangguh. Tim Panser diperkirakan hanya bertengger sebagai runnerup pada kompetisi empat tahunan ini. Jerman diprediksi akan mengalahkan Spanyol dalam satu laga pertandingan. Spanyol dianggap memiliki peluang sebesar 17,8 persen untuk membawa pulang trofi Piala Dunia. Sementara Jerman dan Brasil berada di peringkat kedua dan ketiga menyoal probabilitas menjadi juara. "Dengan menganalisis probabilitas kemenangan tergantung pada pencapaian di setiap pertandingan. Ternyata fakta bahwa Spanyol tidak lebih disukai ketimbang Jerman, terlebih fakta bahwa Jerman memiliki peluang yang relatif tinggi untuk keluar di putaran 16," tulisa tim peneliti seperti mengutip Science Alert. Tim peneliti dari Technische Universitat Dortmund, Technical University of Munich, Jerman, dan Ghent University, Belgia menggunakan tiga teknik untuk memproses statistik. Teknik menafsirkan dan menimbang variabel berbeda, mengevaluasi kekuatan masingmasing tim, dan pendeketan acak. Dari ketiga teknik, tim peneliti beranggapan pendekatan acak paling cocok lantaran sifatnya terstruktur. Machine learning memetakan pendekatan acak untuk menarik kesimpulan. AI kemudian menarik kesimpulan dengan membuat simulasi dan membandingkan antarfaktor. Metode ini juga memberikan pandangan tentang faktor yang paling penting soal kemungkinan lawan untuk menandingi Jerman dan Spanyol. Dibandingkan model matematikan lainnya, teknik ini dinilai mampu memberikan informasi yang lebih akurat untuk menarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, tim juga mempelajari sumber data tambahan seperti hasil pertandingan dari laga terdahulu dan latar belakang pelatih tim. Tim peneliti memperhitungkan jka Jerman berhasil lolos ke perempat final, maka ada kesempatan yang sama besar dengan Spanyol untuk menjadi juara. Sebaliknya, AI memperkirakan Arab Saudi memiliki peluang sangat kecil untuk melaju ke laga final. Berbanding terbalik dengan hasil prediksi para akademisi, perusahaan konsultan keuangan Goldman Sachs justru memprediksi Brasil akan menjadi pemenang. Perusahaan ini juga menggunakan kecerdasan buatan untuk memperkirakan negara pemenang Piala Dunia 2018. (evn)
Kecerdasan Buatan Alibaba Kini Bisa 'Ngobrol' dengan Mobil Jakarta, CNN Indonesia Alibaba A.I. Labs membuka kerjasama dengan Daimler, Audi, dan Volvo Cars. Dengan kerjasama ini, mobilmobil tersebut nantinya bisa diperintah menggunakan speaker pintar besutan Alibaba A.I Labs, Tmall Genie. Syaratnya, pengguna mobilmobil tersebut sudah masuk dalam ekosistem MercedesBenz CONNECT, Audi Connect, dan sistem mobil cerdas Volvo Cars. Speaker pintar Tmall Genie ini bisa dibilang serupa Amazon Echo atau Google Home Smart Speaker. Speaker ini ditanam oleh asisten suara AliGenie. Asisten suara ini serupa Alexa di Amazon Echo, Bixby di smartphone Samsung, atau Siri di iPhone. Saat ini fungsi perintah yang bisa dilakukan lewat Tmall Genie ini misalnya untuk mengecek apakah mobil sudah siap untuk digunakan, mengecek apakah pintu terkunci atau jendela terbuka, dimana lokasi mobil dan bagaimana status bensin. Selain itu, pengguna juga bisa mengecek apakah kondisi onderdil, mesin, dan baterai dalam kondisi prima. Pengguna juga bisa memerintah Tmall Genie untuk mengunci pintu, menyalakan AC, merencanakan rute, dan menghitung lama perjalanan Ini pertama kalinya Tmall Genie dapat dihubungkan dengan kendaraan dan menawarkan layanan AI dari rumah ke mobil di Tiongkok. Nantinya, fungsi ini akan ditambah sehingga pengguna bisa memonitor dan mengontrol fungsi kendaraan mereka dari rumah. Fiturfitur ini akan mendukung sistem operasional kendaraan mulai dari perintah suara untuk menghidupkan navigasi mobil dan sistem hiburan. Pengguna bahkan dapat mengontrol peralatan Tmall Genie yang ada di rumah melalui mobil mereka. Untuk keamanan dari kontrol kendaraan, teknologi cetak suara akan digunakan untuk mengidentifikasi suara pengguna resmi sebelum menjalankan perintah suara apa pun. Alibaba juga berencana melakukan kolaborasi dengan merek mobil lainnya yang tertarik untuk meningkatkan pengalaman mobilitas pemilik mobil di Tiongkok. A.I. Labs merupakan institusi riset yang didirikan oleh Alibaba Group tahun lalu untuk mengeksplorasi lebih jauh interaksi manusia dan komputer melalui aplikasi dan produk yang didukung oleh AI. Ke depannya, Labs berharap dapat mengeksplor lebih jauh layanan seperti speech interaction dan Natural Language Processing (NLP) pada AI otomotif dengan mengintegrasi fitur AliGenie, platform AI yang membantu Tmall Genie. Lebih dari dua juta unit Tmall Genie terjual di Tiongkok sejak peluncurannya Juli 2017 lalu. Tmall Genie sekarang terkoneksi dengan 45 juta perangkat rumah pintar. Bukan cuma Alibaba yang ingin mengekspansi layanan asisten dan speaker pintar. Sebelumnya, Samsung juga sempat mengumumkan bahwa Bixby nantinya tidak hanya menjadi asisten pintar di smartphone Samsung saja. Tapi juga bisa diakses diberbagai perangkat pintar Samsung lainnya, bahkan hadir di mobil. Namun, berbeda Amazon, Google, dan Alibaba yang mengandalkan speaker pintar, Samsung berencana menjadikan pusat kendali di rumah lewat televisi miliknya. (age/eks)
Mesin Pencari Bing Kini Disematkan Kecerdasan Buatan Jakarta, CNN Indonesia Microsoft akhirnya membawa perubahan signifikan untuk mesin pencari miliknya, Bing. Untuk pertama kalinya Bing telah dibekali teknologi kecerdasan buatan (AI). Menariknya, Microsoft tak sendiri mengembangkan AI untuk Bing. Perusahaan yang berbasis di Redmond, Washington, AS ini menggandeng Yahoo untuk pengembangan AI. Berkat AI, Bing nantinya memiliki sejumlah fitur seperti Intelligent Search, Intelligent Image Search, dan Conversational Search yang membuatnya mampu menampilkan pencarian yang lebih baik. "Teknologi AI telah memberikan inovasi dalam hal kemampuan menemukan informasi, tetapi membuat informasi tersebut menjadi dipahami adalah tantangan sesungguhnya," jelas Kristina Behr, partner design dan planning program manager bersama dengan grup Artificial Intelligencce dan Research Google. Fitur Conversational Search menambahkan chatbot atau alat percakapan otomatis yang menghasilkan bahasa yang natural. Selain itu, sistem penyelesaian otomatis yang membantu pengguna mendapatkan hasil pencarian yang lebih akurat pada pencarian pertama. Sementara fitur Intelligent Image Search menampilkan hasil pencarian yang lebih baik dengan lewat proses identifikasi foto yang bahkan memungkinkan pengguna mengetahui informasi yang detail, seperti produk apa yang dipakai subjek foto. Fitur ini kabarnya sudah bisa dinikmati pengguna Bing di AS mulai bulan depan. Mengutip TechCrunch, fitur pencarian berbasis kecerdasan buatan ini juga akan muncul pada produk Office 365 yang diluncurkan akhir bulan nanti. Selain AI, Microsoft juga memperkaya mesin perambannya dari segi hasil pencarian dari berbagai sumber berita dan perspektif. Hal ini menunjukkan transformasi Bing yang ingin memberikan sudut pandang yang bervariasi dalam berbagai isu yang menarik perhatian penggunanya. (sat)
Facebook Siapkan Kecerdasan Buatan Demi Cegah Bunuh Diri Jakarta, CNN Indonesia Facebook mengumumkan bahwa mereka tengah menguji kecerdasan buatan (AI) untuk diintegrasikan dengan layanan mereka selama beberapa bulan terakhir di AS. Kecerdasan buatan ini dikembangkan untuk menemukan orang yang berpotensi memiliki rencana untuk bunuh diri. Cara kerjanya yakni ketika menemukan seseorang yang berada dalam bahaya, perusahaan akan memberikan bendera pada postingan orang tersebut untuk diteruskan ke bagian moderator yang akan merespons dengan mengirimkan ahli kesehatan mental. Dalam kondisi yang lebih darurat, moderator yang menggunakan sumber daya manusia untuk menemukan orang yang dalam keadaan bahaya tersebut. CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam postingannya menulis bahwa pihaknya berharap alat ini akan membuktikan bahwa AI saat ini bisa digunakan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Dia sesumber software tersebut telah membantu Facebook merespons lebih dari 100 kasus. "Jika kita bisa menggunakan AI untuk membantu orang agar mereka selalu ada untuk keluarga dan teman, itu adalah hal yang penting dan langkah positif ke depan," tulisnya. Hanya saja, Facebook tidak secara detil menjelaskan bagaimana kerja AI. Perusahaan hanya mnegatakan AI dilatih untuk mengidentifikasi postingan dan pesan yang pernah ditandai berbahaya oleh pengguna lain sebelumnya. Teknologi ini juga menguji siaran live untuk mengidentifikasi bagian video yang mendapatkan lebih banyak komentar, reaksi dan laporan. AI akan mencari katakata kunci seperti "apakah kamu baikbaik saja" atau "adakah yang bisa kubantu?" dalam kolom komentar dari postingan pengguna. Moderator manusia yang akan memainkan peran penting dalam menentukan apakah pengguna Facebook sedang dalam kondisi kesulitan. Facebook juga akan memprioritaskan laporan untuk pengguna dalam keadaaan darurat. Alat akan langsung menampilkan info dalam bahasa lokal dan kontak orang yang bisa dihubungi untuk penanganan bunuh diri. Perusahaan mengklaim sejauh ini telah bermitra dengan 80 partner lokal untuk menangani kasus ini. VP manajemen produk Guy Rosen menyebut AI dikembangkan untuk memperpendek beberapa menit setiap langkah, terutama di Facebook Live untuk bunuh diri. "Ada kasus di mana responden pertama tiba dan orang yang mencoba bunuh diri itu masih menyiarkan percobaannya. "Dalam sebuah penelitian, data yang digunakan di rumah sakit menunjukkan akurasi AI mencapai 8090 persen dalam menemukan orang yang berniat mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain, data itu tidak umum merepresentasikan populasi yang cukup besar. Di sisi lain, kemampuan AI Facebook untuk memantau orang yang berniat bunuh diri justru menuai kekhawatiran. Selain sempat dituding berkerjasama dengan NSA untuk mematamatai penggunanya, kali ini Facebook diduga telah mempelajari data pengguna dan membuat sebuah penilaian sensitif. Facebook memang tidak secara gamblang memberikan penjelasan atas antisipasi penyalahgunaan sistem AI miliknya. Kepala keamanan utama Facebook, Alex Stamos menanggapi kekhawatiran tersebut dalam kicauannya di Twitter. "Penggunaan AI yang menyeramkan / menakutkan / berbahaya akan menjadi risiko selamanya. Oleh karena itu penting untuk menetapkan norma yang baik saat ini di seputar penggunaan data versus utilitas dan memikirkan tentang bias yang merayap masuk juga," cuitnya seperti dilaporkan The Verge. Teknologi ini kabarnya akan dirilis untuk pengguna di seluruh dunia, kecuai Uni Eropa. Hal itu lantaran AI dianggap melakukan profiling pengguna yang melanggar hukum di sana. (evn/evn)
Kecerdasan Buatan Bisa Lacak Wajah Pelaku Kejahatan California, CNN Indonesia Kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence (AI) sudah bisa memprediksi tingkah laku orang melalui face recognition. Lewat fitur itu, AI bisa membantu polisi untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan. Teknologi itu dinamakan "gaydar" yang pada tahun lalu digunakan untuk menebak orientasi seksual seseorang. AI ciptaan akademisi Stanford University, Michal Kosinski mengatakan, teknologi pembaca wajah ini mampu mendeteksi segala sesuatu, mulai dari keyakinan politik, orientasi seksual hingga IQ seseorang hanya melalui pemindaian satu foto. Selanjutnya Kosinski memiliki keyakinan bahwa teknologi "gaydar" bisa diterapkan pada sistem keamanan. Dilansir Daily Mail, menurut Kosinski, teknologi ini bekerja dengan mengambil perubahan pada wajah yang disebabkan oleh kadar testosteron pada tubuh. "Kami tahu bahwa hormon testosteron terkait dengan kecenderungan untuk melakukan kejahatan dan testosteron juga berhubungan dengan fitur wajah. Testosteron juga memengaruhi hal lain, ada ribuan atau jutaan yang tidak kita sadari akibat dari testosteron itu. Di sini komputer dengan mudah mampu mendeteksi," kata Kosinski. Kosinski mengatakan kamera CCTV di masa depan harus menggunakan AI pembaca wajah untuk menemukan orang hilang, diperdagangkan, bahkan yang berpotensi menjadi bahaya. Kendati demikian, ia mengakui teknologi ini tentu bisa dianggap melanggar privasi seseorang, Namun, ia juga menyebut teknologi ini bisa menyelematkan nyawa. "Bisa dibayangkan memiliki alatalat diagnostik yang mampu memantau ruang publik untuk potensi ancaman kepada diri sendiri atau ke orang lain," ujar Kosinski. Pada tahun lalu, Kosinski menjadi sorotan ketika ia menerbitkan penelitan yang menyebut AI dapat menentukan apakah orang tersebut gay atau normal berdasarkan satu foto. Penelitian dari Universitas Stanford ini berhasil menemukan bahwa algoritma "gaydar" bisa dengan tepat menentukan orientasi seksual pria sebesar 91 persen dan 83 persen pada wanita. Kosinski juga mengatakan AI ini mampu menebak pandangan politik dan tingkat kecerdasan orang hanya lewat foto wajah. Pandangan politik, menurut Kosinski merupakan hal yang diwariskan orang tua. Kecenderungan politik menurut Kosinski terkait dengan faktor genetik yang dapat dideteksi oleh AI berdasarkan pemindaian wajah. (mik)
Ilmuwan Bikin AI untuk Komposer Musik, Bisa Kenali Emosi TEMPO.CO, Jakarta Ilmuwan dari National Research Nuclear University atau Moscow Engineering Physics Institute mengembangkan perangkat lunak asisten komposer virtual, yang mampu menganalisis kondisi emosi para komposer. Menurut ilmuwan dari MEPhI Institute of Cyber Intelligence Systems Alexei Samsonovich mengatakan bahwa perangkat lunak tersebut berbeda dari perkembangan yang sudah ada. Karena, kata dia, asisten virtual dapat mempertahankan kontak emosional dengan komposer "Kebanyakan program semacam itu mewakili jaringan saraf yang diajarkan untuk menulis musik atau membuat karya seni," ujar Samsonovich, sebagaimana dilansir laman Phys 11 Juni 2018. "Tapi gagasan kami adalah untuk mengidentifikasi keadaan emosional komposer dan mengikuti logikanya". Terlepas dari tingginya tingkat perkembangan teori musik, proses penciptaan musik masih sulit untuk dilakukan secara formal, karena tidak dapat dipisahkan dengan pengalaman emosional dari komposer. Aspek proses kreatif ini sangat menarik bagi para ahli di bidang kecerdasan mesin. Para ilmuwan dapat menciptakan sinergi antara manusia dan perangkat lunak. Dengan menggunakan perangkat lunak, data tentang keadaan emosional dan niat dari pencipta dapat dikumpulkan. Asisten komposer virtual merupakan perangkat lunak yang dapat menciptakan musik berkualitas tinggi dengan kualitas estetika manusia. "Ini adalah asisten cerdas kreatif yang dapat ditambahkan ke melodi yang ditulis oleh komposer, catatan, chord dan kombinasinya sendiri," kata dia. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti harus menganalisis teori musik dengan mengidentifikasi suara musik, akord dan kombinasinya. Hal itu akan membuat peta semantik berdasarkan analisis dan menghubungkannya dengan model persepsi emosi manusia terhadap musik. Menurut Samsonovich, metode tersebut didasarkan pada penggunaan peta semantik bukan jaringan saraf. Dalam peta semantik, keadaan emosi pikiran seseorang diwakili oleh titik di ruang afektif. Di ruang itu, kata Samsonovich, hukum harmoni dan irama musik memberlakukan batasan tertentu pada proses itu. "Namun, masih ada keterbatasannya, karena nanti akan meninggalkan kebebasan untuk berkreativitas," tambah dia. "Karena ini termasuk kebebasan yang digunakan perangkat lunak, dipandu oleh peta semantik dan aturan untuk memilih koordinat di atasnya, serta dengan mempertimbangkan evolusi keadaan emosi". Samsonovich ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak berbicara tentang pembelajaran mesin. Karena menurutnya, model didasarkan pada prinsipprinsip psikologi atau aspek perilaku psikologis dasar. Maksudnya tidak seperti jaringan saraf dan model seperti ini dapat menjelaskan esensi dari fenomena kreativitas. Samsonovich juga menambahkan bahwa pendekatan dalam bidang penelitian ini didasarkan pada arsitektur kognitif, yang dibuat menggunakan data psikologi dan neurosains atau Biologicalically Inspired Cognitive Architecture (BICA). Menurut International Information Agency Rusia Today, hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Science Computer Procedia. Para peneliti percaya bahwa perkembangan baru dapat ditingkatkan dan digunakan tidak hanya dalam musik. Namun juga di banyak bidang kreativitas digital, serta dalam sistem manusiamesin. "Karena menciptakan dan mengimplementasikan inovasi semacam itu merupakan langkah penting mempelajari aspek sosioemosional kecerdasan, yang bertanggung jawab," kata dia.
Kecerdasan Buatan Bisa Mengganggu Stabilitas Politik, Kok Bisa? TEMPO.CO, Jakarta Sebuah laporan memperingatkan pertumbuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat meningkatkan ancaman kejahatan siber (cybercrime) dan stabilitas politik. Laporan tersebut dibuat oleh 26 ahli dan ilmuwan dari seluruh dunia. AI kemungkinan bisa menjadi bentuk baru dari kejahatan ciber, gangguan politik, bahkan, serangan fisik dalam lima tahun ke depan. Laporan tersebut menggambarkan AI sebagai teknologi penggunaan ganda yaitu oleh militer dan masyarakat sipil, seperti tenaga nuklir, bahan peledak dan alat peretas. "Karena kemampuan AI terus semakin kuat dan meluas, banyaknya penggunaan sistem AI mengarahkan perluasan ancaman seperti pengenalan ancaman baru dan perubahan karakter yang khas," tertulis dalam laporan tersebut, seperti dilansir laman The Guardian, 21 Februari 2018. Laporan tersebut berpendapat bahwa penelitian mengenai AI perlu dipertimbangkan terkait dengan penyalahgunaan, sehingga penyalahgunaan AI bisa dicegah. Jika laporan tersebut diabaikan, tertulis peringatan bahwa AI kemungkinan akan merevolusi kekuatan jahat untuk mengancam kehidupan kedepan. Di bidang digital, tulis laporan tersebut, AI bisa digunakan para peretas untuk merusak. Teknologi AI bisa menemukan secara otomatis bug perangkat lunak penting dengan cepat dan memilih korban potensial kejahatan finansial. Bahkan, bisa digunakan untuk menyalahgunakan profil algoritme Facebook untuk menciptakan serangan rekayasa sosial dan dirancang memaksimalkan kemungkinan pengguna mengklik tautan jahat atau mendownload hal yang terinfeksi virus. Dalam laporan tersebut juga tertulis, negaranegara dapat memutuskan untuk menggunakan platform pengawasan otomatis untuk menekan perbedaan pendapat. Seperti di Cina, orang dapat menciptakan kampanye disinformasi secara otomatis dan menargetkan setiap pemilih dengan berita bohong yang dirancang untuk mempengaruhi perilaku mereka. AI juga bisa dengan mudah menjalankan serangan penyangkalan informasi, menghasilkan begitu banyak berita palsu yang meyakinkan. Sehingga informasi menjadi tidak bisa dilihat kebenarannya. Meski kecerdasan buatan memiliki sejumlah potensi kerawanan, laporan tersebut juga mengakui bahwa AI adalah pertahanan terbaik untuk melawan AI.
Rekayasa Genetika dan Kecerdasan Buatan Bisa Bikin Manusia Abadi? TEMPO.CO, Dubai Imuwan futurologist terkemuka, Ian Pearson, mengklaim gabungan rekayasa genetika dan kecerdasan buatan alias artificial intelligence akan membuat hidup manusia abadi. Menurut dia, kemajuan kecerdasan buatan dapat menciptakan badan dengan sistem yang berbasis komputer untuk tetap hidup setelah tulang, daging dan darah tidak lagi berfungsi. "Rekayasa genetika ini dapat memperpanjang hidup dengan mengurangi dan membalikkan penuaan sel," ujar Pearson, seperti dilansir laman Daily Mail, 19 Februari 2018. Pearson memprediksi bahwa tahun 2050, manusia bisa hidup lebih lama dari batasan fisik. Rekayasa genetika dengan AI akan menjadi daya tarik orang banyak. Dan menurut dia, dunia maya bisa diciptakan agar orang bisa mengunggah kesadaran mereka setelah tubuh mereka mati. Pekan lalu, sebuah pameran di World Government Summit di Dubai memamerkan HIBA (Hybrid Intelligence Biometric Avatar). HIBA adalah hasil dari beberapa penelitian dan menyimpulkan bahwa manusia akan bergabung melalui kesadaran kolektif AI, yang memungkinkan manusia pada tahun 2050 berkomunikasi dari otak ke otak. Pearson mengambil ide tersebut selangkah lebih maju dan mengklaim bahwa manusia tidak hanya dihubungkan oleh sistem komputer di tahun 2050, bahkan manusia akan tinggal di dalam sistem yang berbasis komputer. "Kesadaran manusia akan diupload ke server online dan manusia bisa menggunakan badan dengan sistem berbasis komputer untuk menghuni dunia nyata," kata Pearson. "Saat ini, teknologi telah mengikat dengan cepat dan banyak orang yang percaya dengan ini." Salah satu indikator kemajuan di bidang ini adalah adanya boneka seks yang terlihat mirip manusia. Menurut dia, dalam 3 dekade lagi boneka tersebut akan telihat lebih hidup. Di Australia, pikiran manusia bisa diunduh kedalam tubuh dengan sistem berbasis komputer. "Pada 2050, kehidupan hanya benarbenar untuk orang kaya dan terkenal. Namun, hanya ada satu yang membuat manusia tersebut mengalami kematian, dengan menggunakan rekayasa genetika juga membangun tubuh baru," ujar dia.
Teknologi Artificial Intelligence di Balik Terlahirnya Kembali "The Meg" ke Layar Lebar Udah nonton film The Meg? The Meg keren, asli. Script asik, plot bagus gak (terlalu) mudah ditebak, dan dengan twisttwist alus. Tegangnya juga dapet banget, dan dari segi emosional juga cukup menyentuh. The Meg, recommended banget pokoknya. Ok, cukup sudah kita membahas film The Meg, karena yang akan kita bahas kali ini adalah teknologi dibalik terciptanya film tersebut. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa The Meg adalah film garapan Warner Bros. Pictures, dan hasil kolaborasi dengan Gravity Pictures. Film The Meg sendiri merupakan thriller aksi fiksi ilmiah yang dibintangi oleh hiu prasejarah sepanjang 20 meter lebih yang dikenal sebagai Megalodon. Didukung oleh perangkat Intel Artificial Intelligence (AI) dan dibuat oleh Scanline VFX * menggunakan perangkat lunak Ziva VFX *, Megalodon dibuat oleh animator VFX dalam waktu singkat dan dengan akurasi yang presisi dari cara hiu bergerak di air hingga ke otot dan kulit untuk memberikan pengalaman yang mengejutkan bagi pemirsa film di seluruh dunia. Teknologi AI memungkinkan film untuk membuat grafik yang sangat mendetail dan nyata, sekaligus menghemat waktu selama iterasi kreatif, yang semuanya bekerja sama untuk meningkatkan seni pembuatan film dan meningkatkan pengalaman penonton. Menciptakan kembali hiu prasejarah sepanjang 20 meter di laut lepas untuk layar lebar bukanlah tugas yang mudah. Selain menghidupkan kembali Megalodon, Scanline dan Ziva juga diperlukan untuk memastikan gerakannya melalui lautan sereal mungkin, sambil tetap menjaga background perairan yang realistis. Mereka mampu secara realistis menciptakan Megalodon bergerak melalui air dengan memproses sejumlah simulasi fisik dan kemudian menjalankan hiu simulasi melalui semua gerakan dan pose yang diperlukan dalam pengambilan gambar untuk film. Intel Xeon Scalable processors memberdayakan perangkat lunak penghasil karakter Ziva dan membantu mempercepat mesin fisika Ziva algoritma AI yang mengotomatisasi gerakan untuk makhluk yang dihasilkan, termasuk Megalodon dari "The Meg." Selain itu, Scanline menggunakan prosesor Intel Xeon yang powerful untuk merender shot untuk film, menghemat waktu yang berharga sambil memungkinkan mereka membuat lebih banyak shot dan opsi. "Untuk membuat' The Meg, 'kami membutuhkan sejumlah besar kinerja dalam sistem komputer kami," kata Stephan Trojansky, presiden dan pengawas VFX, Scanline. "Bertahuntahun yang lalu, Anda akan membutuhkan banyak render dan kru besar untuk jumlah rekaman yang sangat kecil hari ini, kita dapat menggunakan 2.500 prosesor Intel Xeon dengan hampir 100.000 core yang digunakan untuk menghitung semua kebutuhan film. Hal ini memungkinkan iterasi yang cepat dan kemampuan untuk menyajikan beberapa opsi kepada sutradara, yang sangat penting dalam membuat efek visual terbaik."
Pengaruh Artificial Intelligence pada Mainan REPUBLIKA.CO.ID, Cozmo, sebuah robot buatan startup Anki asal Amerika Serikat, lahir 17 Oktober 2016 lalu. Laman Cozmo merupakan robot mini tercanggih saat ini dengan kecerdasan buatan manusia atau Artificial Intelligence (AI). Laman Times mengatakan belum lama ini, bentuknya kecil dengan roda menyerupai kendaraan tank. Kemudian wajahnya berbentuk layar persegi. Layar tersebut akan memperlihat dua buah kotak melambangkan mata Cozmo. Robot juga memiliki tangan, namun tidak berupa dua lengan. Robot ini mirip sekali dengan mobil pengangkat alat berat namun dalam versi mini dan lebih minimalis. Selain bisa berjalan, Cozmo mampu berguling, hingga menegakkan kembali tubuhnya bila jatuh dalam posisi terbalik atau miring. Beberapa video dari para vlogger teknologi sudah banyak mengulas Cozmo. Dari video tersebut memang terlihat ia memiliki kecerdasan otak seperti manusia. Ketika membeli Cozmo, pemilik akan mendapatkan satu robot, tiga buah cube atau kotak, satu tempat pengisi daya baterai, dan remote. Untuk bermain dengan Cozmo pengguna harus mengunduh aplikasi dan terkoneksi dengan robot. Kemudian aplikasi akan memberikan notifikasi terhadap keinginan Cozmo saat itu. Ia bisa bermain menyusun kotak atau menabrak tumpukannya, menebak lampu berwarna pada cube, hingga keep away atau mengumpan kotak di depan Cozmo sampai ia menyentuhnya. Permainan sederhana tersebut bisa dilakukan antara Cozmo dan pemiliknya. Hal menyenangkan muncul ketika Cozmo mampu menunjukkan reaksi emosional. Misalnya, ia akan memperlihat raut wajah marah ketika kalah. Atau bisa menggulingkan tubuhnya saat menang. Cozmo juga mengeluarkan suara menyerupai robot. Bahkan ia bisa tertawa, mengeluh, hingga menggeram. Cozmo juga sangat pintar sehingga tidak akan menabrak benda di hadapannya ketika berjalan. Ketika diletakkan di atas meja, ia bisa mendeteksi apabila akan terjatuh. Hal cerdas yang tak bisa dilakukan robot lainnya. Cozmo juga bisa menunjukkan sikap usil. Misalnya, saat anjing peliharaan tertidur, Cozmo akan mendekatinya dan memainkan bulunya. Ia juga bisa tertidur apabila merasa lelah. Cozmo merupakan robot mini yang mampu membawa AI ke dalam rumah. Siapa sangka keberadaannya mampu menyita perhatian pencinta teknologi dan mainan. Gartner memprediksi, tahun ini Cozmo akan mendapatkan penjualan secara global sebesar 8 juta unit. Namun dalam tiga tahun mendatang diprediksi mencapai 421 juta unit. Hal tersebut bukan mustahil mengingat perangkat berkemampuan AI, AR, dan VR akan 'menggila' pada tahun ini dan seterusnya. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar memciptakan Cozmo. Tiga pendiri Anki memulainya sejak 2008 lalu. Kunci keberhasilan Cozmo terletak pada otaknya yang cerdas. Otak Cozmo seperti ponsel pintar, mampu menjalankan perintah pemiliknya. Namun Cozmo memiliki sesuatu yang spesial, yakni memiliki karakter seperti manusia. Cozmo memiliki sensor dan kamera pada wajahnya. Bahkan ketika diprogram, Cozmo mampu mengenali pemiliknya atau orang yang tengah mengorperasikannya. Misalnya, bertanyalah pada Cozmo 'Hei Cozmo, kamu ingat saya?'. Maka robot akan menjawab dengan menyebutkan nama dari pemiliknya tersebut. Bahkan Anki menyebutkan, kecerdasan Cozmo akan terus bertambah. Di masa depan ia mampu mengenali hewan peliharaan dan bahasa. "Tidak bergantung pada apa yang diperintahkan, ia akan semakin pintar dan berpengaruh pada lingkungan serta perilakunya," ujar President of Anki Hanns Tappeiner. Untuk menciptakan karakter Cozmo, perusahaan sampai merekrut tim animasi Pixar dan Dreamwroks. Saat ini Cozmo dibanderol 180 dollar AS per unit. Robot lain dengan kecerdasan buatan juga dimiliki Genibo QD. Laman Robots.nu menjelaskan, Genibo merupakan robot anjing yang bisa menjalankan perintah pemiliknya. Misalnya, Genibo akan melakukan perintah seperti duduk, berguling, hingga memainkan buntutnya. Genibo mampu melakukan hal demikian karena kelenturan badan. Sebuah digital kamera juga berfungsi sebagai sensor pada wajahnya. Kamera tersebut juga bisa digunakan untuk berinteraksi dengan robot Genibo lain. Kamera tersebut juga bisa mengambil foto berukuran 355x288 megapiksel yang terletak pada hidungnya. Kemudian pengguna bisa mentransfer foto via bluetooth ke dalam perangkat PC atau ponsel. Koneksi bluetooth juga bisa digunakan untuk mengoperasikan Genibo. Robot anjing tersebut memiliki mata dari lampu LED dengan beberapa warna. Perubahan warna akan menunjukkan sisi emosionalnya, misalnya ketika marah, sedih, atau bahagia. Genibo juga mampu mengenal lebih dari 100 kata dan perintah yang ditujukan padanya. Bahkan ia bisa berlaga seperti anjing peliharaan dan meminta pemiliknya untuk mengelus badannya. Dibalik kecerdasan Genibo, pengguna bisa menentukan beberapa fitur pada robot melalui perangkat lunak The Genibo Control Manager. Misalnya, pemilik ingin Genibo mengerti perintah tertentu untuk melakukan gerakan tertentu. Pengguna bisa merekam dan memasukkannya dalam daftar melalui software tersebut. Bahkan bisa pula merekam suara untuk Genibo apabila ingin mendengarnya mengeluarkan sebuah reaksi suara, seperti menggeram atau mendengkur. Belajar coding kini semakin mudah untuk anakanak. Sebab, WowWee Robotics dan Sesame Workshop tengah mengembangkan Elmoji Coding Robot. Sesame Workshop merupakan organisasi nonprofit yang berada di bawah naungan Sesame Street. Maka tidak heran bila robot menyerupai ironman berwarna merah tersebut memiliki layar wajah bergambar Elmo. "Robot ini bukan mengajarkan anak untuk membuat robot yang bisa membuka pintu, tapi memperkenalkan mereka kemampuan dan program dari cara berpikir pemrograman," kata Director WowWee Matt Wight dilansir melalui Roboticstrends. Elmoji mengajarkan anakanak mengenai programming dasar menggunakan bahasa dari emoji visual. Robot tersebut bisa dimainkan anak mulai dari usia tiga tahun. Karakter Elmo dan emoji lainnya dioperasikan melalui aplikasi. Aplikasi tersebut mudah digunakan bagi anak yang baru mulai dan tengah belajar membaca. Pengetahuan dasar programming tersebut diberikan dalam bentuk permainan sederhana. Anakanak harus mengontrol programming tersebut dengan memperhatikan reaksi emosional dari robot Elmoji. Apabila bermain dengan benar, Elmoji akan mengeluarkan berbagai macam reaksi. Bahkan Elmoji akan menari, menggoyangkan tubuhnya, dan mengeluarkan berbagai macam suara. Layar sebagai wahahnya juga akan menunjukkan berbagai macam reaksi dengan mengeluarkan lampu LED berwarnawarni. Robot ini pertama kali diperkenalkan pada ajang CES 2017 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Rencana produk akan dijual secara global pada kuartal ke tiga dan empat tahun ini, namun belum ada informasi mengenai ketersediaan dan harga.
Jet Tempur Siluman Su57 Rusia akan Dilengkapi Mode Tempur AI MOSKOW Jet tempur siluman supersonik terbaru Rusia, Su57, akan dilengkapi mode tempur artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Mode seperti itu memungkinkan jet tempur itu menjadi calon pesawat nirawak generasi keenam. Su57 merupakan pesawat tempur generasi kelima multifungsi. Pesawat ini dijadwalkan bergabung dengan militer Rusia secara resmi pada tahun depan. "Secara terpisah, kami mencatat sistem kontrol terpadu dan peralatan penglihatan yang akan diterapkan persis ke pesawat ini ke mode otomatis tempur," kata sumber di industri pesawat tersebut kepada RIA Novosti, yang dilansir Jumat (24/8/2018) malam. Menurutnya, Su57 juga akan bekerja di kompleks pertahanan yang menjanjikan, termasuk frekuensi baru dan mode operasi. Departemen Pertahanan Rusia menyatakan, batch pertama dari Su57 akan dikirim ke Angkatan Udara pada 2019. Pesawat tempur siluman yang pernah muncul sekilas di wilayah udara Suriah beberapa bulan lalu itu dikembangkan oleh Biro Desain Sukhoi. Jet tempur itu dirancang untuk menghancurkan target udara, darat dan mengatasi pertahanan udara musuh. Penerbangan pertamanya sudah dimulai pada awal 2010 di KomsomolskonAmur. Meski demikian, rencana produksi massal pesawat canggih ini dibatalkan. Menurut militer Moskow, pembatalan terjadi karena pesawat itu ekslusif. Namun, para ahli militer Barat menduga pembatalan terjadi karena ada beberapa masalah, termasuk finansial.(mas)
Merevolusi Pencarian dengan Kecerdasan Buatan Mulanya Falon Fatemi adalah karyawan Google termuda. Setelah enam tahun bekerja di sana, dia keluar dan mendirikan startup Node dengan modal USD16,3 juta dari aktor/investor Mark Cuban. Sekarang Fatemi, 32, ingin merevolusi pencarian informasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Selama bekerja di Google, Falon Fatemi mengembangkan jaringan yang luas, bertemu dan bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar. Koneksi berharganya itu menjadi salah satu modal besar ketika dia mendirikan Node. Node adalah startup yang memiliki layanan untuk memperkenalkan orang atau bisnis ke sumber daya yang bermanfaat pada waktu yang tepat. Node didirikan pada 2015, bertujuan mengubah penemuan informasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Perusahaannya muncul pada 2017 dan langsung mengumumkan bahwa mereka telah mengumpulkan dana sebesar USD16,3 juta dari investor, seperti Mark Cuban, Avalon Ventures, dan Canaan Partners. Fatemi lahir dan besar di Silicon Valley. Dia meniti kariernya di Google sebagai analis keuangan untuk kemitraan strategis global ketika usianya baru 19 tahun. Pada saat itu, dia adalah karyawan termuda Google. Setelah enam tahun, dia meninggalkan Google, tetapi tetap tinggal di dunia startup yang mengkhususkan diri dalam ekspansi global dan membangun kemitraan strategis antar perusahaan. Semakin banyak koneksi yang dibuat Fatemi, semakin dia menyadari bahwa dia bertindak sebagai simpul (node ) atau titik pusat dalam jaringannya. Maka itu, dia terinspirasi untuk menciptakan perusahaan yang akan melakukan pekerjaan yang dia fasilitasi, yakni mengenalkan orang atau bisnis ke sumbersumber berharga pada waktu yang tepat. “Saya menyadari sebenarnya ada masalah pada pencarian dan penemuan yang lebih besar, yang saya selesaikan dalam skala yang jauh lebih kecil dalam jaringan saya,” kata Fatemi, 31, yang menjadi CEO Node. “Tetapi, bagaimana kalau kita benarbenar bisa menerapkan teknologi untuk mempercepatnya dalam skala besar?” ungkapnya. Fatemi adalah satusatunya karyawan ketika dia meluncurkan Node. Sekarang perusahaan tersebut memiliki 22 staf tetap dan sedang mengerjakan aplikasi pertamanya; memfasilitasi penemuan pelanggan untuk tim penjualan dan pemasaran. Node menggunakan teknologi AI eksklusif untuk membantu orang dan perusahaan terhubung dengan sumber daya strategis pada waktu yang menguntungkan. Misalnya, seorang sales yang menggunakan Node akan menerima rekomendasi untuk menghubungi orang tertentu dan detail tentang mengapa orang itu akan menjadi koneksi yang baik bagi kebutuhannya. Fatemi ingin memperluas Node pada masa depan. Saat ini beberapa klien Node antara lain Periscope Data, BlueJeans Network, dan Pagerduty. Fatemi berharap dapat menggunakan dana tersebut untuk menggandakan jumlah staf Node dan meningkatkan jumlah pelanggan. Sementara itu, dia mengklaim, Node tidak memiliki pesaing langsung. Saingannya, menurutnya, adalah perusahaan vendor data atau solusi prediktif dalam industri penjualan dan pemasaran. Node tidak mengungkapkan informasi apa pun tentang pendapatannya. Pada akhirnya, menurut Fatemi, terhubung dengan orang yang tepat sebagai wirausaha, sebagai individu, itulah yang menghasilkan peluang yang mengubah hidup. “Kami akan dapat menemukan dan menemukan hal, orang, perusahaan, serta peluang yang bahkan tidak pernah kami sadari ada di luar sana,” ungkapnya. Pada 2011, Fatemi bertemu Mark Cuban melalui salah seorang temannya. Lalu, Cuban tertarik dengan proyek Fatemi. Fatemi menyebut Cuban sebagai salah satu mitra paling luar biasa yang dapat Anda miliki untuk bisnis Anda. Apalagi, Cuban sangat percaya dengan teknologi kecerdasan buatan. AI, menurut Cuban, akan menjadi alat yang kuat bagi para pengusaha. “Saya berani mengatakan ini, triliuner di dunia akan datang dari seseorang yang menguasai AI dan semua turunannya dan menerapkannya dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan,” kata Mark Cuban pada konferensi SXSW pada Maret 2017. “Kami benarbenar bermimpi besar di sini,” kata Fatemi. Ketika ditanya apakah dia berharap menjadi miliarder pertama dari perusahaannya yang berbasis AI, dia menjawab, “Prinsip kami adalah go big or go home . Jadi, begitulah kami melihat Node,” katanya.(don)
Google Siapkan Personal Asisten Kesehatan Pintar NEW YORK Google dikabarkan sedang menyiapkan aplikasi kesehatan yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Aplikasi yang tak ubahnya personal training ini dijuluki Google Coach. Google Coach akan mengawasi dan memastikan kondisi fisik penggunanya tetap bugar. Asisten pintar ini akan merekam aktivitas dan data standar mengenai pola tidur, aktivitas fisik yang dilakukan, serta denyut jantung. Disitat laman Digital Trend (20/8/2018) aplikasi ini menggunakan data kesehatan dan kebugaran yang terhubung ke akun Google, Google Coach akan menyarankan aktivitas latihan atau alternatif kegiatan jika penggunanya tidak miliki banyak waktu untuk mengeluarkan keringat pada hari itu. Untuk pemantauan kesehatan menyeluruh, Coach bahkan akan mengawasi asupan nutrisi dan merekomendasikan makanan tertentu yang baik untuk kesehatan. Baik itu rencana makan mingguan atau daftar belanja, asisten akan mengirim rekomendasi langsung ke Gmail untuk mengaksesnya dengan mudah. Dalam pengiriman email nya, Google Coach akan membuat notifikasi yang berisi rangkuman, jadi dipastikan email penggunanya tak akaan kebanjiran notifikasi yang terus menerus setia harinya. Google COach pertama akan dirilis untuk pengguna sistem operasi WEar OS. Kedepannya, Google Coach juga bisa tersedia di Google Home dan Android TV. (wbs)
Honda Neuv dengan Kecerdasan Buatan Mejeng di GIIAS 2018 TANGERANG Untuk mewujudkan masyarakat yang dapat menikmati kebebasan mobilitas dan lingkungan tanpa karbon, Honda berinovasi merancang mobil masa depan berbasis listrik yang dilengkapi dengan teknologi artificial intelligence. Salah satu modelnya, Honda NeuV yang dipamerkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show 2018 dari tanggal 212 Agustus 2018 di ICE BSD. Honda NeuV mengusung konsep mobil commuter dengan fitur Honda Automated Network Assistant dan Autonomous Driving, sehingga mobil dapat beroperasi dengan sendirinya untuk ridesharing atas izin pemilik saat tidak digunakan. Mobil ini juga dibekali kemampuan untuk mengisi daya listriknya sendiri saat lowbattery secara otomatis. Honda NeuV juga mengusung teknologi “Emotion Engine” dengan teknologi artificial intellige nce dan fungsi otonomus. Denga n teknologi tersebut, Honda NeuV dapat menilai emosi dan tingkat stres dari pengemudinya melalui mimik wajah dan intonasi suara, untuk kemudian melakukan berbagai penyesuaian sistem yang mendukung keamanan berkendara. Mobil ini juga dapat mempelajari gaya hidup pengemudi dan preferensi mengemudi untuk memberikan opsi yang sesuai demi mencapai komunikasi antara si pengendara dengan mobilnya. Honda NeuV dikembangkan atas kerjasama tiga pihak, yakni Honda R&D yang menyalurkan partisi untuk artificial intelligence, Honda Silicon Valley Lab yang menyalurkan partisi untuk digital payment, dan Honda R&D America yang bertanggung jawab untuk desain dan perakitan mobil. Secara keseluruhan, Honda NeuV memiliki wheelbase 1.930 mm, panjang 2.907 mm, lebar 1.622 mm dan tinggi 1.586 mm. Honda NeuV melakukan penampilan perdana pada ajang Consumer Electric Show (CES) di Las Vegas. (wbs)
Mencari Kesempurnaan Gambar lewat Kecerdasan Buatan XIAOMI Mi A2 berupaya mengutilisasi kombinasi antara kecerdasan buatan (AI) dan hardware kamera untuk mendapatkan gambar yang sempurna. Bagaimana caranya? AI memang jadi tren utama smartphone selain layar tanpa bezel (tepian) atau layar dengan notch (lekukan di bagian atas). Berbagai vendor ramairamai membenamkan teknologi AI pada smartphone mereka. Tapi, penggunaan AI tidak sekadar untuk mendeteksi subyek yang dibidik, misalnya lansekap, makanan, atau pemotretan malam, dan melakukan penyetelan otomatis untuk mendapatkan gambar terbaik. Di Xiaomi Mi A2, AI berperan besar untuk mengutilisasi kemampuan hardware dual kamera AI 12MP+20MP dan kamera depan 20MP. Kamera gandanya punya ukuran mikron pixel besar 1.25. Dampaknya, aperture atau bukaan Mi A2 mencapai F1.75. Bukaan yang lebar, memungkinkan sensor merekam lebih banyak cahaya. Hasilnya, tentu saja gambar jadi lebih baik di pencahayaan rendah. Menurut Director Product Management and Marketing Xiaomi Global Donovan Sung, peran AI di kamera Mi A2 sangat penting. AI akan membantu Mi A2 memilih penggunaan lensa yang pas di kamera belakang. Hal tersebut terasa ketika memotret kulit yang hasilnya sangat natural, di pemotretan low light detail yang direkam juga lebih banyak, serta hasil warnanya cukup realistis. Untuk kamera depan atau selfie, ada yang disebut dengan semantic segmentation. Yakni, lagilagi peran AI untuk memisahkan latar belakang (background) dan latar depan (foreground) guna mendapatkan hasil bokeh maksimal. Selain itu, AI juga secara otomatis dapat menyalakan fitur High Dynamic Range (HDR) di kamera depan ketika dibutuhkan. ”Sehingga hasil selfie tetap akan detail, tajam, dan natural,” ungkap Sung. Ketika di uji coba oleh Fotografer National Geographic Matthieu Paley, tampak bagaimana Mi A2 yang memiliki layar 5.99 inci full screen display 18:9 itu mampu menghasilkan gambar yang natural. Maksudnya, tidak terlalu kekuningan, kemerahan, atau kebiruan. Soal desain, Xiaomi Mi A2 tak berbeda dengan Mi 6X yang sebelumnya hanya rilis di Tiongkok. Bagian belakangya memiliki model arch atau busur agar nyaman di genggam. Bodinya terbilang tipis jika diban dingkan kompetitor, hanya 7,3 mm. Selain warna hitam, ponsel tersebut juga hadir dalam warna biru dan emas. Peran AI di Mi A2 tak lepas dari penggunaan prosesor baru Snapdragon 660 dengan Artificial Intelligence Engine (AIE) yang dioptimalkan untuk AI. Kemampuan prosesor tersebut 80 persen lebih baik dari Snapdragon 625 yang dipakai di Mi A1. Bahkan masih 20 persen lebih baik dari prosesor Exynos di Samsung Galaxy A8. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang tidak berubah. Misalnya baterai yang hanya 3.000 mAh untuk mengejar bodi tipis. Tidak ada selot kartu SD, tidak ada headphone jack, kamera yang menonjol, juga desain bezel less konvensional. Menariknya, soal desain dan baterai terjawab lewat Mi A2 Lite. Versi Lite, jelas lebih murah. Tapi, Mi A2 Lite memiliki desain notch yang cantik di kelas midend. Layar berukuran 5.84” FHD+ full screen 19:9. Juga baterai yang sudah 4.000 mAh dan headphone jack. Ketika digenggam di tangan pun terasa nyaman, walau sedikit tebal. Hanya saja, Mi A2 Lite ini punya spesifikasi jauh dibawah Mi A2 biasa. Antara lain masih menggunakan micro USB, lalu prosesor sama dengan Mi A1 yakni 625, spesifikasi maksimum hanya RAM 4GB dan memori internal 32 GB, juga resolusi dual kamera AI 12MP+5MP yang tidak sebaik Mi A2. Xiaomi Indonesia samasama belum merilis harga kedua ponsel yang menggunakan Android 8.1 itu. Yang jelas Mi A2, seperti pendahulunya, selain memiliki spesifikasi dan harga kompetitif, juga lebih relevan kepada pengguna yang lebih luas. Setelah IPO, Semakin Mengglobal Senior VP dan Presiden Bisnis Internasional Xiaomi Wang Xiang menegaskan bahwa saat ini Xiaomi sedang di atas angin. Ini berkebalikan dengan 2016 silam, dimana mereka sempat terseok bahkan terlempar dari 5 besar vendor ponsel terbesar di Tiongkok. Selama 2017 CEO Lei Jun memang mengambil banyak langkah strategis. Termasuk memperbanyak gerai offline dan produk kunci, salah satunya Redmi 5A dan Mi A1 yang masuk dalam 10 ponsel terlaris di dunia. Mi A1, sukses menjadi ponsel “global” Xiaomi. Ponsel kelas midend dengan sistem operasi Android One milik Google. Di awal 2018, Xiaomi akhirnya IPO di Hong Kong Stock Exchange, diklaim sebagai IPO perusahaan teknologi terbesar dalam 4 tahun terakhir. IPO dilakukan dengan percaya diri, mengingat tahun lalu pendapatan mereka tembus USD15 miliar atau tumbuh 67.5 persen. ”Untuk mencapai USD15 miliar itu, kami hanya butuh 7 tahun saja. Lebih cepat dari Google dan Facebook,” ujar Wang. Lalu apa setelah IPO? Xiaomi agaknya ingin mengglobal. Di dunia dan di Eropa, Xiaomi sudah tembus 4 besar. Gerai Mi Store dibuka di sejumlah negara. Mulai Paris, Italia, hingga Spanyol. Di Spanyol pun Xiaomi ada di posisi ketiga vendor ponsel terlaris. (don)
Buka Pusat Penelitian Terbaru, LG Fokus Evolusi AI di Masa Depan SEOUL LG Electronics Inc. (LG) semakin mempertegas langkahnya menyiapkan evolusi pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) bagi konsumen dan bisnisnya di masa mendatang. Setidaknya hal ini terlihat saat pabrikan elektronik asal Korea Selatan ini mengumumkan berdirinya pusat penelitian AI terbarunya di Amerika Utara. Kolaborasi pun dilakukan dengan pihak akademisi dan perusahaan rintisan (startup). “Pada saatnya, AI akan menyentuh kehidupan seluruh orang. Mengubah cara kita hidup, bekerja dan bermain,” kata I.P. Park, Presiden dan Chief Technology Officer LG Electronics di Seoul, Korea Selatan, Rabu (1/8/2018). Lebih lanjut dikatakan, implementasi awal AI dalam perangkat yang saling terhubung saat ini adalah persiapan dasar bagi terwujudnya kota pintar, rumah pintar, bisnis pintar, dan perangkat pintar yang lengkap dengan semua kemampuan yang bahkan belum pernah dibayangkan sebelumnya. Bersamaan dengan pembukaan pusat penelitian AI terbarunya ini, LG juga mengumumkan kemitraan dengan University of Toronto. Jalinan kerja sama ini menimbang reputasi perguruan tinggi tersebut yang telah mendunia dalam hal AI dan mesin yang dapat belajar, khususnya pada bidang deep learning. Menjadi pendukung visi LG yang menempatkan AI sebagai mesin pertumbuhan baru di masa mendatang, pusat penelitian AI LG di Amerika Utara akan meningkatkan kapabilitas penelitian LG secara global. Sebelumnya tercatat LG pun telah memiliki laboratorium untuk penelitian kecerdasan buatan di Korea Selatan, India, dan Rusia. Bahkan, pembukaan pusat penelitian AI LG terbaru di Amerika Utara ini bersamaan dengan peringatan pekan beroperasinya LG Electronics AI Research Lab di Kanada. Proyek ini sendiri merupakan kelanjutan dari perluasan yang sebelumnya dilakukan pada pusat penelitian sejenis, LG Silicon Valley AI Lab yang berada di Santa Clara, California. Terkait kemitraan LG dengan University of Toronto, kedua belah pihak akan melakukan kerjasama penelitian sepanjang lima tahun. Di bawah kesepakatan bernilai jutaan dolar AS, penelitian ini bakal berpusar pada penguatan strategi LG dalam pembangunan ekosistem AI yang berlandaskan tiga pilar yaitu Open Platform – Open Partnership Open Connectivity. Laboratorium AI terbarunya ini akan mempertemukan keahlian para peneliti di University of Toronto dengan tim riset dan pengembangan AI LG di Amerika Serikat dan Kanada. Melengkapi keseluruhan kerja penelitian ini, LG memberi pernyataan kesiapannya untuk berkolaborasi dan bahkan melakukan investasi pada berbagai perusahaan rintisan di Amerika Utara. Bicara terkait kerjasama ini, Meric Gertler selaku Presiden University of Toronto menyatakan LG sebagai mitra yang menarik bagi penelitian AI. “Kami sangat berharap dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan inovatif global seperti LG. Hal ini sejalan dengan kerja para peneliti kami yang terus berusaha mempersempit batasan AI,” ujar Meric Gertler. Lebih lanjut dikatakan, kehadiran perusahaan multinasional yang dikenal sebagai pemimpin pada ekosistem inovasi yang dilakukan universitas akan memperkuat peluang bagi fakultas, mahasiswa dan perusahaan rintisan dari berbagai disiplin keilmuan. Sejalan dengan pernyataan ini, I.P Park pun menyatakan, solusi AI berbasis deep learning akan merevolusi cara kita berinteraksi dengan dunia sekitar melalui cara yang sangat halus memanfaatkan data kontekstual seperti biometrik, emosi, gestur dan tentu saja suara. Dia pun memberikan paparan terkait tiga pilar strategi AI LG. Pertama, pada kemampuan untuk berevolusi seiring waktu. Kemampuan yang membuat produk LG dapat semakin belajar menyesuaikan untuk memenuhi kebutuhan penggunanya seiring dengan penggunaan dalam keseharian. Kedua, ada pada kemampuan mengintegrasikan AI pada berbagai titik kontak yang akan memberikan pengalaman penggunaan pada ragam produk LG. Contohnya, keterhubungan perangkat elektronik rumah tangga dengan TV maupun mobil dan smartphone. “Terakhir adalah tentang keterbukaan. Strategi kami dalam memberikan pengalaman AI terbaik bagi seluruh pengguna LG adalah dengan memanfaatkan berbagai kemampuan para mitra dalam ekosistem ini,” pungkas Park.(mim)
LINE dan Toyota Kerja Bareng Membangun Asisten Mobil AI TOKYO LINE yang dikenal sebagai aplikasi perpesanan ternyata sudah merambah industri automotif. Di Jepang, LINE Corporation (LINE) mengumumkan bahwa asisten bertenaga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) milik LINE, yakni Clova, akan hadir di kendaraan model terbaru yang dilengkapi Smart Device Link (SDL) dari Toyota Motor Corporation. Paduan teknologi di antara keduanya rencananya diluncurkan mulai musim dingin 2018. LINE dan Toyota telah bersamasama mengumumkan potensi kolaborasi antara Clova dan SDL untuk menjadi bagian dari layanan Toyota, saat LINE Conference tahun lalu. Kedua perusahaan lalu mendemonstrasikan teknologi tersebut saat gelaran Tokyo Motor Show 2017. Clova Auto terbaru memungkinkan pengguna memakai Clova saat berkendaraan dengan cara menghubungkannya melalui gawai di dalam mobil. Ini membuat pengguna tetap bisa melakukan tugas seharihari dengan aman sambil berkendara. Clova dapat membantu pengguna mematikan lampu di rumah, memeriksa cuaca di tempat tujuan, mengirim, dan menerima pesan LINE, membuat panggilan gratis LINE, mendengarkan musik di LINE Music, dan lainnya melalui perintah suara. Anda juga tak perlu menghentikan kendaraan untuk mengakses smartphone. Clova juga terhubung ke tampilan atau display kendaraan, serta tombol pengenal suara di kemudi agar memungkinkan pengguna mengoperasikan Clova dari jarak jauh dan tetap fokus berkendara. Clova Auto bakal debut di mobil Toyota dan tersedia bagi pengguna yang memilih kendaraan dilengkapi gawai kompatibel dengan Clova. Toyota sendiri meluncurkan kendaraan tersebut mulai musim dingin ini. Ke depan, LINE akan mengembangkan dan mendukung berbagai fungsi dan layanan kendaraan menggunakan Clova Auto guna memudahkan pengalaman berkendara. LINE juga akan mendukung pengguna sebelum dan sesudah memasuki kendaraan Toyota. LINE My Car Account telah hadir di model terbaru Toyota Crown, New Sport Corolla, dan Prius PHV untuk memungkinkan pengguna berkomunikasi dengan kendaraan mereka melalui LINE, menyetel tujuan di alat sistem navigasi, memeriksa banyaknya bensin, dan lainnya.(mim)
Dikirim ke Luar Angkasa, Robot AI Mulai Gantikan Peran Astronot Kecerdasan buatan (AI) mulai merambah industri luar angkasa. Dibenamkan ke sebuah robot, kini pekerjaan seorang astronot bisa diambilalih oleh bukan manusia. SpaceX berencana mengirimkan robot dengan kecerdasan buatan (AI) untuk bergabung di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Robot bernama CIMON yang merupakan singkatan dari Crew Interactive Mobile Companion itu diangkut oleh Roket Falcon 9 dengan waktu peluncuran, Jumat (29/6/2018) pagi waktu setempat. Tampilan robot ini sedikit mirip dengan bola voli dengan layar komputer di satu sisi. Layar menampilkan wajah kartun yang digunakan dalam berinteraksi dengan para astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional. CIMON dilengkapi 14 ventilator internal yang bergerak dengan menghisap udara luar angkasa dan menghembuskannya ke arah manapun yang dibutuhkan. Itu berarti CIMON dapat "mengambang" di seluruh stasiun, mendekat pada astronot yang memanggil namanya dan mengangguk saat ditanya. Airbus mengembangkan CIMON untuk Badan Antariksa Nasional Jerman. Tujuannya, guna melihat apakah robot cerdas dapat bekerja sama dengan astronot untuk menyederhanakan kehidupan kerja di ruang angkasa. Melansir lama The Verge, sebelumnya robot ini telah dilatih beberapakali di Bumi dengan asronot Jerman yang berada di ISS, Alexander Gerst. Jadi mikrofon dan kamera robot secara khusus telah diatur untuk mengenal suara dan wajah Gerst. Sesampainya di ISS, Gerst akan bekerja sama dengan CIMON dengan melakukan beberapa percobaan sains. Gerst akan mengajukan pertanyaan pada CIMON tentang eksperimen yang sedang dikerjakan. Robot hanya akan berinteraksi dengan Gerst dan anggota awak lainnya selama total tiga jam di ISS. Meski begitu, apa yang dipelajari dapat membantu pembuatan desain robot AI serupa ke depannya. Selain mengirimkan robot AI pertama sebagai anggota awak untuk tinggal, roket tersebut juga membawa serta makanan dan air untuk enam astronot yang tinggal di ISS. (mim)
Baidu dan Ford Motor Kembangkan Kecerdasan Buatan BEIJING Baidu terus melebarkan sayapnya di bidang otomotif. Kali ini perusahaan internet asal China tersebut mengkonfirmasi mengenai kerjasama dengan Perusahaan otomotif, Ford motor. Dilansir dari Technode (27/6/2018) mereka resmi menandatangani Letter of Intent (LOI) resmi mengenai kerjasamanya dalam membuat kecerdasan buatan (AI), konektivitas dan pemasaran digital. Kerjasama ini kemungkinan akan memanfaatkan keunggulan industri Ford yang ada, aset manufaktur dan ajringan profesional yang luas untuk mendukung ambisi Baidu dalam ambisinya diproduksi mobil otonom dan proyek penelitian terkait. Sebagai imbalannya, Baidu akan membagikan data yang sudah dipetakan yang memungkinkan produsen mobil Ford memperoleh informasi tangan pertama. Nantinya data ini akan memungkinkan Ford memantau pergerakan pasar, pergeseran perilaku konsumen dan perencanaan pemasaran yang disesuakan. Untuk mempertahankan ambisi dalam bidang teknologi, kedua pihak juga membangun laboratorium konektivitas bersama untuk inovasi seperti AI berbasis cloud di bidang otomotif dan mobilitas di China. Lebih lanjut, sistem infotainmen baru di dalam kendaraan dan layanan digital berdasarkan platform percakapan Baidu DuerOS conversational AI adalah salah satu fokus utama dari kerja sama ini. Sistem dan platform ditampilkan dengan pengenalan suara, pemahaman bahasa alami, dan pengenalan gambar. “Berkolaborasi dengan perusahaan teknologi terkemuka seperti Baidu mendukung visi kami untuk menjadi perusahaan mobilitas paling terpercaya di dunia dengan memanfaatkan peluang baru untuk membangun ekosistem mobilitas yang berkelanjutan," kata Peter Fleet , wakil presiden grup Ford sekaligus presiden Ford Asia Pasifik. "Sebagai bagian dari strategi 'In China, For China', kami berharap dapat bekerja sama secara erat untuk menawarkan produk dan solusi cerdas yang dapat membuat hidup orang lebih mudah dan lebih menyenangkan." imbuhnya.(wbs)
Adobe Ciptakan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Foto Palsu MOUNTAIN VIEW Adobe sedang mengembangkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi hasil editan foto palsu. Kecerdasan buatan ini nantinya berguna untuk membantu mendeteksi foto hasil rekayasa yang digunakan untuk menipu. Dalam tulisan terbaru yang berjudul Learning Rich Features for Image Manipulation Detection, Vlad Morariu seorang peneliti Adoube menjalaskan bagaimana Adobe menggunakan AI untuk tujuan ini. Tim ini berfokus pada tiga teknik manipulasi gambar umum, yaitu splicing ( menggabungkan dua foto yang berbeda, copymove ( menggandakan dan memindah objek dari satu foto ke foto lain, dan removal ( menghapus objek dari objek asli foto dan menggantinya dengan yang lain). "Masingmasing teknik itu cenderung menyisakan artifak tertentu, misalnya kontras yang kuat dibagian sudut, area yang halus atau pola noise yang berbeda" jelas Morariu dikutip Peta Pixel (23/6/2018). "Dengan memakai puluhan ribu contoh gambar yang dimanipulsasi, kami berhasil melatih AI deep learning neural network untuk mengenali foto yang telah dimanipulasi" tambahnya. Morariu mengatakan bekerjasama dalam pembuatan AI ini untuk mendeteksi manipulasi gambar sebagai bagian dari program Media Forensik DARPA yang disponsori pemerintah.Saat ini, teknologi kecerdasan buatan ini masih dalam penyempurnaan. Jika sudah diimplementasikan AI dapat membantu pendeteksian menjadi lebih mudah, cepat, informatif dan dapat diandalakan. Namun tetap saja, teknologi seperti ini tidak bisa menggantikan sarana tradisional 'trust' atau kepercayaan dalam dunia foto jurnalistik. “Saya pikir salah satu peran penting yang dapat dimainkan Adobe adalah mengembangkan teknologi yang membantu memantau dan memverifikasi keaslian," ujar Jon Brandt Direktur Adobe Research“Sangat penting untuk mengembangkan teknologi, tetapi pada akhirnya teknologi ini dibuat untuk melayani masyarakat. Oleh karena itu, kami semua berbagi tanggung jawab untuk mengatasi potensi dampak negatif teknologi baru melalui perubahan pada institusi kami. ” imbuhnya.(wbs)
Kecerdasan Buatan di Olimpiade Tokyo 2020 TOKYO Jepang dan perusahaan multinasional Intel berencana memberikan pengalaman berbeda di Olimpiade Tokyo 2020. Rencananya, pesta olahraga terakbar di dunia itu akan dibalut dengan teknologi super canggih. Intel yang juga merupakan member dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) menyerukan gagasan tentang bagaimana Olimpiade dilebur dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Belum jelas konsep yang diajukan Intel, namun diyakini gagasan tersebut melibatkan proyek pengembangan kecerdasan buatan. Wakil Presiden Intel, Naveen Rao, mengatakan pihaknya saat ini sedang menggalang kerja sama dengan perusahaan lain untuk menghadirkan inovasi di bidang olahraga. Nantinya, inovasi tersebut akan bisa dinikmati atlet dan penonton di Olimpiade. "Kami mengundang komunitas pengembang untuk bergabung dengan kami dalam menciptakan pengalaman AI (artificial intelligence, kecerdasan buatan red) yang luar biasa bagi para penggemar dan atlet di Olimpiade Tokyo 2020," kata Naveen Rao dikutip Inside The Games. (nug)
Kecerdasaan Buatan Google Diharamkan untuk Senjata JAKARTA Semua perusahaan teknologi saat ini gencargencarnya menciptakan Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan, bahkan merambah ke sektor senjata perang. Namun Google secara tegas memakai AI buatannya untuk senjata. Google mengumumkan hal tersebut pada Kamis (7/6/2018), karena dianggap bisa menyebabkan, atau secara langsung membantu mencederai orang.” Seperti dilaporkan kantor berita AFP, Kepala Eksekutif Google Sundar Pichai, dalam postingan blognya menjelaskan kebijakan perusahaan tentang penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Ia menekankan walaupun Google tidak akan menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat senjata, “kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dan militer dalam banyak bidang lainnya, seperti keamanan dunia maya, pelatihan atau operasi pencarian dan penyelamatan. Penjelasan Google tentang kebijakannya itu muncul ketika Google sedang menghadapi kemarahan dari banyak pegawainya dan pihakpihak lain, karena Google membuat kontrak dengan militer Amerika, walaupun Google mengatakan minggu lalu tidak akan memperpanjang kontrak itu. Pichai menyebutkan tujuh prinsip bagi aplikasi Google yang menggunakan kecerdasan buatan yang dapat mensimulasi cara kerja otak manusia. Ia mengatakan Google menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu manusia menyelesaikan “masalahmasalah yang mendesak” seperti peramalan kebakaran hutan, membantu pekerjaan petani, mendiagnosa penyakit dan mencegah kebutaan. “Kami menyadari bahwa penggunaan teknologi yang kuat seperti itu memicu pertanyaan tentang penggunaannya,” kata Pichai lagi dalam blog itu. (wbs)
Program Rahasia Pentagon: Kecerdasan Buatan Dipakai untuk Deteksi Rudal Musuh WASHINGTON Pentagon sedang mengembangkan program rahasia, di mana militer Amerika Serikat (AS) akan menggunakan artificial intelligence (AI) untuk memprediksi dan mendeteksi peluncuran peluru kendali (rudal) musuh. Program yang masih dalam taraf penelitian ini menjadi tanda meningkatnya minat Amerika terhadap AI. Sumber Pentagon mengungkap adanya program itu kepada Reuters. Menurut sumber itu, beberapa program sedang berlangsung. Semua ditujukan untuk penerapan kecerdasan buatan guna mengantisipasi dan memperingatkan peluncuran misil musuh. Sistem komputer akan menjelajahi sejumlah besar data, seperti rekaman drone atau citra satelit, jauh lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia. Dalam satu program percontohan yang difokuskan pada Korea Utara, AI digunakan untuk mencari dan melacak rudal bergerak yang dapat disembunyikan di terowongan, hutan, dan gua. AI kemudian menilai apakah aktivitas tersebut merupakan ancaman langsung atau tidak, dan memperingatkan kepada para komandan. Begitu tandatanda peluncuran rudal terdeteksi, pemerintah AS akan memiliki waktu untuk memilih opsi diplomatik atau beralih dengan menghancurkan misil, idealnya bahkan sebelum rudal musuh meninggalkan tanah. Administrasi Trump telah mengusulkan tiga kali lipat pendanaan untuk satu program rudal yang digerakkan AI tahun depan menjadi USD83 juta. Anggaran USD83 juta, menurut laporan Reuters, tampak seperti jumlah yang sederhana. Sebab, anggaran itu hanya mendanai salah satu dari banyak program "hushhush", dan mewakili minat Washington yang semakin meningkat dalam teknologi AI untuk militer. Namun, tidak semua orang seperti "gungho" tentang pengembangan militer AI. Awal pekan ini, Google membatalkan kontrak AI yang kontroversial dengan Pentagon setelah menerima reaksi dari karyawannya. Dalam sebuah surat kepada manajemen, 3.000 staf Google mengatakan bahwa perusahaan "tidak boleh terlibat dalam bisnis perang". Para karyawan menyatakan bekerja dengan militer bertentangan dengan etos raksasa internet tersebut, yakni "Jangan berbuat jahat". Di bawah kontrak, Google dan Departemen Pertahanan bekerja sama dalam "Project Maven", program AI yang akan meningkatkan penargetan serangan pesawat tak berawak. Program ini akan menganalisis rekaman video dari drone, melacak objek di tanah, dan mempelajari gerakan mereka, serta menerapkan teknik pembelajaran mesin. Para aktivis kampanye antidrone dan aktivis hak asasi manusia mengeluh bahwa "Project Maven" akan membuka jalan bagi AI untuk menentukan targetnya sendiri, menghapus sepenuhnya manusia dari "rantai pembunuhan". Ada risiko lain juga. Mengembangkan teknologi AI dapat memprovokasi perlombaan senjata dengan Rusia atau China. Teknologi ini juga masih dalam tahap awal, dan bisa membuat kesalahan. Jenderal Angkatan Udara AS John Hyten, komandan tertinggi pasukan nuklir AS, mengatakan bahwa begitu sistem tersebut beroperasi, perlindungan manusia masih akan diperlukan untuk mengendalikan "eskalasieskalasi", proses di mana rudal nuklir diluncurkan. “(Kecerdasan buatan) dapat memaksa Anda ke tangga itu jika Anda tidak menempatkan pengamanannya,” kata Hyten dalam sebuah wawancara. "Begitu Anda melakukannya, maka semuanya mulai bergerak." Bahaya yang melekat dalam memungkinkan AI untuk membuat keputusan hidup atau mati disorot oleh sebuah studi MIT yang menemukan jaringan syaraf AI dapat dengan mudah tertipu dengan berpikir bahwa kurakura plastik sebenarnya adalah senapan. Hacker secara teoritis dapat mengeksploitasi kerentanan ini, dan memaksa sistem rudal yang digerakkan AI untuk menyerang target yang salah. Terlepas dari potensi "biaya" kesalahan manusia, Pentagon mendesak maju dengan penelitiannya. Beberapa pejabat yang diwawancarai oleh Reuters percaya bahwa elemen dari program rudal AI bisa beoperasional pada awal 2020an. Yang lain percaya bahwa pemerintah tidak cukup berinvestasi. "Orangorang Rusia dan China pasti mengejar halhal semacam ini," kata Mac Thornberry, Ketua Komite Layanan Bersenjata Parlemen dari Partai Republik kepada Reuters, yang dilansir Rabu (6/6/2018). "Mungkin dengan upaya yang lebih besar dalam beberapa hal daripada yang kita miliki." (mas)
Microsoft Caplok Startup Kecerdasan Buatan Semantic Machines REDMONT Microsoft resmi umumkan akuisisi sebuah perusahaan Startup yang bergerak di bidang Artifical Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan. Semantic Machines startup yang berbasis di Berkeley fokus pada bidang pengembangan teknologi yang memungkinkan manusia berinteraksi dengan komputer. Salah satu stafnya termasuk kepala ilmuwan Siri, Larry Gillick dan peneliti lain seperti Percy Liang, yang membantu ciptakan Google Assistant. Startup yang didirikan tahun 2014 silam ini berfokus pada pengenalan suara dan pemrosesan bahasa secara alami untuk mengembangkan AI yang dapat memahami lebih dari mampu memprediksi pertanyaan dengan lebih tepat, sehingga percakapan antar manusia dengan mesin bisa lebih mengalir alami. Dengan akuisisi ini, teknologi milik Semantic Machines akan disuntikkan pada Microsoft Cognitive Service dan Azure Bot Service, sebagai dasar dari Cortana dan chatbot Xiaolce. Pembelian Semantic Machines ini akan berdampak besar pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan milik Microsoft. Teknologi yang dimili Semantic Machines bakal membantu AI membangun percakapan yang lebih manusiawi. “Dari sudut pandang pengguna, kami akan menciptakan keterampilan baru menggunakan pendekatan Semantic Machines yang dapat membuat lebih banyak variasi bahasa” ujar David Ku Microsoft AI and Research Group CTO dalam interview dengan Venturebeat Saat ini Microsoft sendiri tengah mengembangkan chatbot sosial Xiaolce yang berpartisipasi dalam 30 miliar pembicaraan di China, Jepang, Amerika Serikat, India hingga Indonesia. Sayangnya pihak Microsoft tidak menyebutkan berapa nominal yang digelontorkan untuk mengakuisisi startup ini. Semantic Machines sendiri sejak awal didirikan telah menarik $ 8,5 juta dalam pendanaan tahun itu. Microsoft sendiri tengah berusaha untuk menyalip teknologi Google Duplex yang membuat asistem virtual berinteraksi layaknya manusia. (wbs)
ASUS ZenFone 5 Setiap Fitur Menempel Kecerdasan Buatan JAKARTA ASUS kembali meluncurkan type terbaru yaitu ZenFone 5. Smartphone ini menyuguhkan desain yang diciptakan elegan menggunakan material berbahan kaca yang dibuat dengan nano molding technology (NMT), melapisi body berbahan aluminium alloy aerospace grade dibawahnya. Layar smartphone ini memiliki resolusi Full HD+ yakni 2.246 x 1.080 piksel. Secara keseluruhan penampang layar 6,2inci yang dikemas dalam tubuh 5,5inci. Dibanding dengan smartphone lainnya ZenFone 5 mempunyai aspek ratio 19:9 dengan screen to body ratio 90%. Jadi smartphone ini hampir tidak memiliki bezel sama sekali. ZenFone 5 digadang gadang sebagai smartphone dengan segudang kecanggihan. Termasuk adanya teknologi kecerdasan buatan (artifical intelegent) pada setiap fiturnya. "Artificial Intelegent (AI) melekat pada setiap fitur di ZenFone 5 ini, kisalnya saja pada kamera, performa baterai, hingga ringtone. Semua teknologi AI ini kami hadirkan untuk memberikan suguhan oengalaman yang luar biasa bagi konsumen, serta menunjukan bahwa ASUS merupakan salah satu vendor smartphone terbaik dalam inovasi teknologi" tambah Galip Fu Country Marketing Manager ASUS Indonesia saat ditemui pada kamis (17/05/2018). Teknologi AI pada kamera akan meningkatkan kualitas fotografi menjadi lebih baik.AI akan memanfaatkan kemampuan hardware dan software yang telah ada untuk kemudian nelakukan improvisasi. Kamera juga masih memiliki teknologi AI lain yaitu Photo Learning dan Real Time Beautification. Dilengkapi dengan System on Chip (SoC) Snapdragon 636, yang menawarkan performa hingga 75% lebih tinggi. Prosessor tersebut didukung oelh RAM SEBESAR 4GB ditambah dengan kapasitas memori internal 64GB. Di Indonesia ZenFone 5 dan 5Z akan dipasarkan melalui online di JD.ID dan Lazada di masa flash sale di harga Rp 3,9 juta pada tanggal 21 Mei dan 31 Mei 2018. Setelah itu akan tersedia dalam harga reguler Rp 4,2 juta, untuk ZenFone 5Z akan tersedia diharga Rp 6,4juta (versi 6B/128GB) dan Rp 7,4juta (versi 8GB/256GB). (wbs)
Kecerdasan Buatan Menyulap Fungsi CCTV Makin Hebat JAKARTA Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sekarang ini sudah menjalar ke segala bidang kehidupan manusia. Hal ini patut disyukuri karena AI menawarkan kemudahan dalam produktivitas manusia. Sistem AI sering digunakan dalam beberapa bidang penting seperti sistem keamanan, obatobatan, teknik industri, automotif, dan militer. Berkat AI, sebuah sistem mampu membuat keputusan atau penyesuaian sendiri, bahkan membantu para penggunanya dalam beraktivitas seharihari. Mengingat pentingnya kecerdasan buatan, Dahua Technology, penyedia solusi video surveillance & security system, menghadirkan teknologi Dahua AI yang menawarkan kemudahan dalam pengolahan data. Solusi keamanan Dahua AI dapat diterapkan pada aplikasi seperti ritel, manajemen lalu lintas, logistik, dan pergudangan. Selain itu dapat meningkatkan kecerdasan kinerja bisnis dan menciptakan nilai nyata pada industri fisik. Beberapa fitur dari AI yang diterapkan dalam dunia CCTV adalah fitur Face Recognition, License Plate Recognition, ANPR, dan people counting. Dengan teknologi tersebut, kamera dapat merekam data wajah orang maupun plat nomor kendaraan yang nantinya dikumpulkan pada sebuah pusat data. Dengan demikian memudahkan polisi untuk menangkap mereka yang melakukan tindak kriminal dan juga pelanggaran lalu lintas. Beberapa waktu lalu, polisi China berhasil membekuk pelaku tindak kriminal di lokasi konser musik yang tengah digelar. "Penangkapan tersebut dilakukan setelah polisi mengenali wajah pelaku lewat sejumlah kamera yang dipasang di sekitar arena konser. Kamerakamera tersebut telah dilengkapi teknologi Face Recognition atau pengenal wajah, sehingga bisa mengenali wajah pelaku di antara 60.000 penonton konser," kata Herry Tjhin sebagai Project Sales Manager Dahua Technology, Rabu (9/5/2018). Dahua Technology sendiri adalah Top 3 produk surveillance untuk jenis CCTV secara global di jajaran merek keamanan terdepan dengan High Quality Product yang terus berkembang. Mereka hadir untuk menjawab kebutuhan keamanan, yakni dengan menghadirkan teknologi CCTV terbaru dan andal. “Dahua memiliki total security system endtoend solution yang lengkap dan dapat memenuhi semua kebutuhan surveillance mulai dari consumer product sampai projectbased di semua jenis industri. Ditambah dengan jaringan partner dari Pasifik Teknologi Indonesia yang tersebar luas di Indonesia, tentunya akan memberikan layanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan di area mana pun,” papar Herry Tjhin. PT Pasifik Teknologi Indonesia (PTI) merupakan distributor pertama, terbesar, dan terlengkap untuk brand Dahua di Indonesia. PTI tumbuh berkembang secara signifikan dan konsisten untuk menjadi distributor terdepan melalui kerja keras, komitmen, dedikasi, serta profesionalisme dalam bidang keamanan CCTV dengan produk yang berkualitas. Saat ini PTI sudah memiliki lebih dari 1.000 patner yang tersebar di seluruh Indonesia. (mim)
Pencarian Properti Kini Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan JAKARTA PropertyGuru Group, induk usaha Rumah.com, meluncurkan identitas baru sebagai perusahaan berbasis teknologi yang bergerak di industri properti. Peluncuran identitas baru ini ditandai dengan perubahan logo baru dan penggunaan teknologi baru. "Perubahan logo bukan sekedar kosmetik. Sebagai sebuah perusahaan berbasis teknologi, logo baru ini sangat selaras dengan tema yang clean, simpel, dan modern. Logo baru ini juga melambangkan Rumah.com yang berkembang dari penyedia listing semata menjadi perusahaan teknologi," jelas Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (5/4/2018). Teknologi terbaru yang diterapkan oleh Rumah.com adalah teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Rumah.com menggunakan mesin pembelajaran algoritma. Mesin algoritma berbasis kecerdasan buatan ini akan terus memelajari kebutuhan dan preferensi setiap pengunjung Rumah.com, sehingga solusi yang diberikan akan semakin akurat dan spesifik karena dilakukan berdasar perilaku pengguna. "Rumah.com dan PropertyGuru Group adalah yang pertama di Asia yang menggunakan teknologi AI ini. Tak hanya logo, pembaruan identitas ini meliputi pembaruan halaman utama situs Rumah.com, aplikasi mobile, hingga penggunaan teknologi AI. Pembaruan ini akan terus berlangsung secara bertahap hingga ke seluruh bagian situs Rumah.com," tegas Ike. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan ini, lanjut dia, menjadi bukti konsistensi PropertyGuru dalam mengembangkan teknologi di bidang properti. Sebelumnya, PropertyGuru Group menghadirkan teknologi virtual tour, di mana penggguna bisa merasakan sensasi menelusuri setiap jengkal ruangan di dalam rumah incaran, tanpa harus datang langsung ke lokasi. Bagi para pengembang properti, Rumah.com juga telah meluncurkan teknologi eProperty Track. Teknologi yang langsung menjadi favorit para pengembang ini secara otomatis mendistribusikan setiap inquiry konsumen yang masuk kepada tim sales dan marketingnya. Jika salah satu tim sales dan marketing tidak merespons dalam waktu yang ditentukan, inquiry tersebut langsung berpindah secara otomatis ke tim sales dan marketing lain. Dengan demikian, peluang penjualan selalu terjaga. Chief Marketing Officer PropertyGuru Group Bjorn Sprengers mengatakan, jutaan orang di Asia Tenggara sudah mencari dan menemukan rumahnya bersama PropertyGuru Group. "Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi kami," tuturnya. (fjo)
AI Diperbarui, LG V30 Plus dan G6 di Indonesia Bakal Lebih Canggih JAKARTA LG Mobile Communication Indonesia (LG) mengonfirmasi bakal menyematkan Artificial Intelegent (AI) atau kecerdasan buatan ke dalam dua smartphone premiumnya, yaitu LG V30 Plus dan LG G6. Di samping peningkatan pada sektor kamera, terapan teknologi AI ini dikatakan bakal memberi kenyamanan lebih tinggi dalam menjawab kebutuhan keseharian penggunanya. “Pilihan fokus awal AI pada sektor kamera karena sektor ini menjadi hal yang paling banyak digunakan dan terhubung dalam keseharian pengguna,” ujar Heegyun Jang, Head of LG Mobile Communications Indonesia. Lebih lanjut Heegyun Jang mengatakan, sematan AI ini bisa didapat melalui opsi pembaruan perangkat lunak pada kedua smartphone LG tersebut. Mengenai jadwalnya, tambahan AI bakal dapat dinikmati mulai awal bulan depan. Di tengah maraknya smartphone dengan mengusung predikat AI di dalam kameranya, Heegyun Jang menyatakan, pembaruan AI pada kedua smartphone tersebut menjanjikan kinerja yang lebih pintar dan superior dibandingkan ponsel berpredikat AI yang beredar di pasaran sebelumnya. “Lebih dari sekedar mempercantik tampilan foto wajah, pembaruan AI pada LG V30 Plus dan LG G6 memberikan manfaat lebih nyata yang membuat kameranya lebih andal untuk menjawab lebih banyak kebutuhan dengan kecerdasan uniknya,” ujar Heegyun Jang lagi. Hal optimalisasi berbasis AI di sektor kamera pada kedua smartphone ini hadir melalui fitur cerdas QLens dan Bright Mode. Bahkan, khusus LG V30 Plus, pengguna dapat menikmati sematan fitur cerdas bertajuk AI CAM. Ketika pengguna mengaktifkan kamera pada V30 Plus miliknya, maka Fitur AI Cam akan langsung memberikan rekomendasi delapan pilihan mode dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti sudut pandang, warna, pantulan, pencahayaan, dan tingkat kejenuhan. Dengan begitu, pengguna dapat memotret sesuai dengan mode yang tepat untuk keadaan yang berbeda demi mendapatkan hasil foto yang optimal. Sementara Bright Mode hadir menjadi penyempurnaan gambar yang didedikasikan pada pecinta fotografi Low Light. Sesuai siratan dalam namanya, kecerdasan fitur ini memberikan hasil foto lebih tajam dengan meminimalisir tingkat noise pada foto yang diambil di bawah kondisi minim pencahayaan. Di sisi lain, fitur QLens membawa kecerdasan unik yang tak kalah menarik. Pemanfaatan fitur ini akan membuat smartphone LG V30 Plus dan LG G6 dapat mengenali objek foto. Tak berhenti disitu, tugas pengenalan objek ini pun bakal diteruskan dengan pemberian beberapa tautan referensi yang memberikan rekomendasi bagi pengguna untuk mendapatkan produk yang sama atau sejenis. Termasuk di dalamnya referensi pada toko daring. Lepas dari sektor kamera, pemanfaatan AI pada LG V30 Plus dan LG G6 ini juga memberi kemudahan dengan pengembangan kontrol smartphone melalui perintah suara. Dinamai LG Exclusive Commands, fitur perintah suara ini bekerja dengan dukungan yang memberi pengalaman lebih baik melalui keterlibatan Google Assistant di dalamnya. “Lebih dari sekadar adopsi AI dan kejaran untuk terus memperkenalkan produk baru. Kami tak meninggalkan pengguna dengan terus melakukan pembaruan perangkat lunak, ini menjadi bagian komitmen LG untuk terus tumbuh bersama penggunanya,” jamin Heegyun Jang. (mim)
LG Pamerkan Kecerdasan Buatan di InnoFest 2018 Asia SEOUL Perusahahaan elektronik Korea Selatan, LG, kembali menggelar LG InnoFest 2018 Asia pada Selasa (24/4/18). Acara yang merupakan ajang unjuk teknologi terkini dari LG itu diikuti 250 perwakilan dari mitra bisnis, distributor dan media dari seluruh Asia. Pada event kali ini, LG secara khusus mengusung tema An Innovation to the AI Home that Think of You. LG sengaja memamerkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang menopang produkproduk home apliance untuk memudahkan aktivitas penggunanya. Tahun ini, ajang yang digelar di LG Science Park, Seoul, ini memperkenalan teknologi terbaru di segmen consumer electronic. AI yg diaplikasikan pada produkproduk teranyar LG disajikan dengan platform global yakni Amazon Alexa dan Google Assistance. "Kita sudah mengembangkan AI ini sejak 1,5 tahun yg lalu," kata Senior Vice President Asia Regional LG Electronic Steve Song di selasela LG InnoFest 2018 Asia di Seoul, Selasa (24/4/2018). Dia menambahkan, teknologi AI mengalami pengingkatan sangat cepat sehingga akan semakin memudahkan konsumen. Di LG, kata dia, perangkatperangkat seperti televisi, pendingin ruangan, audio memungkinkan untuk beroperasi secara otomatis hanya dengan perintah suara. Sementara itu, Vice President of LG Global Marketing Center Han Changhee menambahkan, LG InnoFest 2018 merupakan kesempatan yang baik untuk memperkenalkan jajaran produk terkini yang unik dengan basis teknologi kecerdasan buatan (AI). "Teknologi AI telah berkembang sangat cepat dan menjadi bagian dari revolusi gaya hidup untuk membantu konsumen," ujar dia. Beberapa produk yang diperkenalkan pada event kali ini adalah LG Signature Oled TV berteknologi AI yang bisa dikendalikan suara. Tak hanya itu, televisi ini juga akan membantu penggunanya melakukan pencarian lokasi atau konten yang diharapkan. Ada juga perangkat pembersih rumah untuk airport dan rumah taggga berupa robot, serta robot kecil cerdas bernama LG Cloi yang juga dikendalikan suara. Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur LG Electronics Indonesia Seung Min Park mengatakan, apa yang ditampilkan pada InnoFest tahun ini merupakan bekal untuk masuk ke pasar premium di Indonesia. Dia meyakini, produk produk tersebut akan diterima pasar karena akan memiliki pasar tersendiri di samping segmen yang sudah ada saat ini. "Kita ingin mensuplai lebih banyak perangkat elektronik untuk membantu konsumen merasakan hidup lebih baik. Kami ingin masuk di pasar premium lebih besar lagi di Indonesia," ujarnya. Dia juga meyakini, produkproduk LG di pasar Indonesia akan semakin terserap pasar seiring dengan terus tumbuhnya perekonomian secara umum. "Kami akan membawa banyak varian dan model baru ke pasar premium di Indonesia, " ujarnya.(fjo)
Taklukkan Anak Muda, Honor Gunakan Kecerdasan Buatan JAKARTA Honor, merek smartphone yang awalnya didirikan oleh Huawei Consumer Business Group pada 2013, masuk ke Indonesia dengan membidik pasar pengguna anak muda. Bagaimana strateginya? Di China, nama Honor termasuk mentereng. Di luar China, Honor telah menginjakkan kaki di berbagai negara maju di depan saingan utamanya, termasuk Eropa Barat, Rusia, dan Amerika Utara. Riset pasar GfK terbaru mengungkap, jumlah pendapatan dan volume penjualan Honor di Rusia termasuk tiga besar, tepat di belakang Samsung. Menurut George Zhao, Presiden Kehormatan Honor, semua produk yang dibuat oleh Honor adalah pelopor dalam tiga bidang utama yaitu, penawaran teknologi baru, estetika, dan aksesibilitas bagi generasi muda. “Kami mulai mengeksplorasi kemungkinan penerapan kecerdasan buatan ke smartphone beberapa waktu lalu,” sebut Zhao. “Kemudian kami bawa upaya penelitian kami ke pasar tahun lalu dengan menggabungkan kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan menganalisis data pengguna untuk menyediakan fitur interaktif yang cerdas. Ini adalah contoh yang bagus dari komitmen Honor untuk menjelajahi bidang teknologi yang lebih jauh,” klaim Zhao. Industri telepon pintar adalah salah satu medan pertempuran utama bagi kaum muda usia 18 hingga 34 tahun. Segmen ini sangat terbuka dengan teknologi dan lebih cepat bergantiganti gawai. (mim)
Jangan Takut dengan Kecerdasan Buatan BANYAK orang mengkhawatirkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan dampaknya terhadap banyak hal. Ketakutan itu antara lain akan berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia hingga banyak perusahaan tradisional bangkrut karena tidak kuat menghadapi persaingan dengan industri yang mengandalkan AI. Presiden dan CEO TIAA Roger W. Ferguson Jr mengungkapkan, kemampuan semua orang, terutama mahasiswa dan siswa, harus mampu menavigasikan pasar dengan zaman yang terus berubah. Kasus menghadapi AI, kata dia, sebenarnya sama ketika manusia menghadapi revolusi industri yang mengubah dari masyarakat pertanian menuju masyarakat industri. "Dulu ketika proses industrialisasi dimulai, tak ada yang membayangkan akan seperti apa pekerjaan di masa depan," ung kap Ferguson dilansir Tulane Hullabaloo. "Saya pikir kita menghadapi hal yang sama. Saya tidak bisa memprediksi seperti apa pekerjaan ketika AI berkembang pesat. Namun, saya optimistis kita bisa mengembangkan pekerjaan baru yang berdampak dan bekerja dengan konsep AI," katanya. Menurut Ferguson, anak muda harus memiliki kemampuan dengan keahlian yang mampu beradaptasi dengan pekerjaan baru sehingga bisa suk ses di masa depan. Anak muda, ucap Ferguson, juga harus memahami dan mengelola sumber keuangan mereka. "Semua pihak memiliki kewajiban untuk memberikan literasi keuangan," ujarnya. Berbicara di depan mahasiswa Universitas Tulane tahun lalu, Ferguson juga berbicara tentang karier. Berdasarkan pengalamannya, karier tidak seperti mendaki tembok yang terjal. Setelah mendaki dinding, bisa jadi jalurnya tidak jelas. "Terkadang kamu akan bergerak datar. Terkadang kamu juga bisa melangkah mundur untuk menghindari batu besar atau penghalang. Namun, dari belakang, kamu justru menemukan jalur untuk bergerak maju,” ujarnya. Merayakan 100 Tahun dengan Berbagi Tahun ini TIAA akan merayakan ulang tahun ke100. TIAA meluncurkan inisiatif untuk merayakan 100 individu yang bekerja di lembaga nirlaba telah memberikan perbedaan yang berpengaruh. TIAA akan memberikan total hibah senilai USD1 juta bagi mereka yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. TIAA akan memberikan penghargaan kepada mereka yang mengajar, menemukan, menginspirasi, merawat, dan melayani banyak orang. Mereka akan mendapatkan masingmasing USD10.000 untuk lembaga nirlaba di mana mereka bekerja. Penghargaan itu senada dengan tujuan berdirinya TIAA. Perusahaan yang didirikan satu abad lalu dengan dana USD1 juta dari Yayasan Carnegie New York telah membuat perbedaan bagi kehidupan para pendidik dengan memberikan jaminan keamanan keuangan yang dibutuhkan dan pensiun yang diinginkan. "Selama 100 tahun, TIAA menjadi pionir dalam melindungi keuangan pendidik dan profesional yang bekerja di lembaga nirlaba," ungkap Ferguson. “Misi perusahaan ini adalah berkomitmen membantu mereka untuk mencapai tujuan keuangan dan fokus pada komunitas yang mereka layani," ujarnya. Dijelaskan Ferguson, TIAA Difference Maker 100 merupakan bentuk perayaan kepada orang luar biasa se perti TIAA yang menginspirasi dan menumbuhkan kontribusi positif kepada dunia. Karena itu, TIAA bekerja sama dengan atlet berkelas dunia, Laila Ali, sebagai duta besar Difference Maker 100. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Oath, media digital dan inovator untuk melaksanakan program tersebut. "Saya senang bekerja sama dengan TIAA, perusahaan yang memberikan dampak positif selama beberapa dekade," ujar Laila Ali. "Saya akan membantu individu yang bekerja di sektor nirlaba untuk bergerak maju dan melayani yang lain," katanya.(amm)
Awas, Ada Misi Berbahaya Dibalik Teknologi Artificial Intelligence SAN FRANSISCO Mantan bos Google, Eric Shmidt menganggap ada misi berbahaya dibalik pengembangan teknologi Artificial Intelligence atau AI (kecerdasan buatan). Dia memprediksi, kalau komputer pembunuh akan membantai umat manusia dalam satu atau dua dekade ke depan. "Setiap orang segera ingin membicarakan semua skenario kematian yang terinspirasi dari film dan dengan yakin saya bisa memprediksi kepada Anda, bahwa itu akan terjadi satu sampai dua dekade lagi," ungkap Shmidt dilansir dari Defence News, Senin (5/3/2018). Dikatakan Shmidt, umat manusia harus mampu mengendalikan ciptaannya yang mengerikan. Dan manusia harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kemampuan teknologi ini. "Saya ingatkan semua orang, teknologi ini memiliki kesalahan serius di dalamnya dan seharusnya tidak digunakan yang melibatkan keputusan penting kehidupan," paparnya. Shmidt pun menegaskan, dirinya tidak akan bersedia berada di pesawat terbang yang dikendalikan komputer. Sebab hal itu dianggap bisa membahayakan dirinya dan keluarga. Senada dengan Shmidt, sebelumnya miliuner Elon Musk pernah menyampaikan kekhawatirannya terhadap teknologi kecerdasan buatan. Dirinya mengatakan bahwa spesies manusia hanya memiliki 1 dari 10 atau bahkan satu dari 20 kemungkinan bertahan dari bangkitnya mesin. (mim)
Ahli Tuding Kecerdasan Buatan Senjata Pemusnah AS & Rusia MOSCOW Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan buatan bisa menjadi senjata utama yang digunakan oleh AS dan Rusia dalam Perang masa depan. Menurut seorang ahli, Jeremy Straub, seorang profesor ilmu komputer di North Dakota State University, mengatakan bahwa dia khawatir negara tersebut sedang menuju sebuah Perang Dingin berbasis AI dengan AS. Mantan CEO Google Eric Schmidt bahkan mengatakan pekan lalu bahwa dia "sangat prihatin" tentang potensi Rusia untuk mendominasi dunia secara militer dengan AI. "Kedengarannya sangat mirip dengan retorika Perang Dingin, di mana Amerika Serikat dan Soviet masingmasing membangun cukup banyak senjata nuklir untuk membunuh semua orang di Bumi berkalikali." tutur Eric seperti dilansir dari Dailystar. Pemerintah Rusia memastikan telah membuat robot tempur yang mereka beri nama F.E.D.O.R. Robot ini dibuat untuk memiliki intelektual seperti manusia sehingga bisa memutuskan sendiri menyerang atau bertahan dalam situasi terdesak. Rusia mengklaim robot militer baru mereka dapat menembakkan senapan namun menegaskan bahwa ini bukan "pembunuh manusia". Dalam rekaman video yang Pemerintah Rusia unggah Robot F.E.D.O.R. mampu menyetir mobil, menggunakan senjata dan dapat memperkerjakan pekerjaan manusia seperti ngebor tembok. Robot F.E.D.O.R. nantinya akan dikirim ke luar angkasa, Rusia berharap bisa mengirim F.E.D.O.R. Ke ruang kapal tempur yang disebut Federasi yang masih dalam pengembangan. Robot ini muncul karena Rusia berkeyakin Perang Dunia Ketiga akan terjadi, dugaan itu mencuat usai Pemeintah Presiden Donald Trump memuntahkan rudal 'Mother' rudal terbesar yang pernah diluncurkan. Apalagi situasi hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia memanas.(wbs)
Rangkul Insinyur HTC, Google Siap Ciptakan Kecerdasan Buatan NEW YOR Google dan HTC telah mengumumkan kesepakatan US$1,1 miliar yang disetujui komisi investasi Taiwan (Taiwanese Investment Commission) pada akhir tahun lalu. Melalui kesepakatan ini produsen smartphone asal Taiwan tersebut akan menukarkan beberapa karyawan dan memberikan akses kekayaan intelektual yang dimiliki kepada Google. Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (2/2/2018), setidaknya sebanyak 2.000 insinyur yang menggarap smartphone Google Pixel 2 akan segera bergabung dengan perusahaan teknologi tersebut. Dalam hal ini bukan berarti para karyawan HTC akan berpindah kantor pusat Google di Amerika Serikat. Mereka akan tetap berada di Taiwan dengan Taipei sebagai basis insinyur Google terbesar di Asia Pasifik. Wakil Kepala Hadware Google, Rick Osterloh, mengatakan bisnis perangkat keras Google saat ini sudah memasuji tahun ketiga. Tentunya hal ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi Google. "Kami berharap dapat menjual produk dalam volume tinggi dalam lima tahun," harap Ostereloh. Google sendiri rencananya akan menciptakan pengalaman yang sangat membantu orangorang di seluruh dunia dengan menggabungkan Kecerdasan Buatan (AI), perangkat lunak dan perangkat keras Google. (wbs)
India dan Jepang Bakal Terapkan Kecerdasan Buatan di Pertahanan NEW DELHI India dan Jepang akan bekerja sama untuk mengenalkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan robotika di sektor pertahanan. Salah satu tujuannya untuk membendung ambisi regional China dan ancaman nuklir Korea Utara (Korut). Rencana itu diungkap Kentaro Sonoura, Penasihat Keamanan Nasional Perdana Menteri Jepang (PM) Shinzo Abe dalam wawancaranya dengan Times of India. ”Anda harus berharap dapat melihat peningkatan kerja sama bilateral di antara kami untuk mengembangkan kendaraan darat tak berawak (UGV) dan robotika,” katanya. Langkah tersebut mengikuti kesuksesan ratifikasi kesepakatan nuklir sipil IndoJepang oleh parlemen Jepang pada akhir 2017. Kedua negara telah meluncurkan sebuah kelompok kerja untuk kerja sama antarperusahaan nuklir. ”Niat Jepang adalah memulai dengan cepat, mungkin sampai akhir bulan ini,” kata Sonoura. Ada ketegangan yang semakin meningkat di wilayah AsiaPasifik karena meningkatnya latihan militer oleh AS dan China, serta ambisi ekonomi terakhir, terutama di proyek New Silk Road. ”Kita perlu berbagi pentingnya aturan hukum dan kebebasan navigasi di antara negaranegara yang terkait. Langkah selanjutnya adalah pembangunan infrastruktur berdasarkan standar global, sehingga konektivitas antarnegara meningkat,” ujar Sonoura, yang dilansir Rabu (24/1/2018). Pekerjaan itu sudah dimulai di balik layar, tapi kedua negara akan mulai berbagi penelitian. ”Tujuannya adalah untuk melengkapi angkatan bersenjata kita dengan sistem yang mandiri, mudah beradaptasi dan toleransi terhadap kesalahan,” kata sebuah sumber yang tidak disebutkan namanya dari Center for Artificial Intelligence (CAIR) India kepada International Business Times. Selain upaya kerja sama internasional dengan sekutu Jepang, India juga akan meluncurkan tahap kedua kampanye ”Make in India” bulan depan dengan fokus khusus pada robotika, AI, genomik, dan penyimpanan energi. China dan India telah berseteru dalam beberapa bulan terakhir terkait sengketa teritorial di wilayah pegunungan Himalaya. India menegaskan daerah itu milik sekutunya, Bhutan. Sedangkan China tetap menggelar latihan tembak di sana. (mas)
Meluncur 25 Februari, Galaxy S9S9 Plus Pakai Kecerdasan Buatan SEOUL Tak mau kalah dengan pesaingnya, Samsung dilaporkan sudah menuntaskan pengembangan Neural Processing Units (NPU) yang juga dikenal sebagai chip AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan). Rencananya chip AI tersebut langsung dibenamkan ke Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus. Komponen ini akan meningkatkan kemampuan perangkat mobile dan server untuk menjalankan perangkat lunak berbasis AI. Dilaporkan laman Korea Herald, salah satu sumbernya mengatakan, chip AI Samsung telah mencapai kemampuan sama seperti yang diraih oleh pabrikan pesaingnya seperti Apple dan Huawei. Sumber yang sama percaya, bahwa Sammy sebutan Samsung akan mengalahkan pesaingnya dengan chip AI yang akan diproduksi pada paruh kedua tahun ini. Samsung awalnya mulai bekerja pada NPU setelah Apple dan Huawei, termasuk satu di A11 Bionic dan Kirin 970 SoCs. Sedangkan semua handset Apple keluaran 2017 yaitu iPhone X, iPhone 8, dan iPhone 8 Plus sudah menggunakan NPU seperti halnya Huawei Mate 10 dan Mate 10 Pro. NPU memungkinkan sebuah smartphone untuk menganalisa, memproses, dan menyimpan data tanpa menggunakan cloud. Korea Herald meyakini Samsung bakal memamerkan kemampuan NPU barunya saat meluncurkan Samsung Galaxy S9 dan S9 Plus pada tanggal 25 Februari. H1 sebelum pameran dagang Mobile World Congress (MWC) 2018 resmi dibuka di Spanyol. "Meskipun Samsung agak terlambat di bidang AI, (tapi kami) cukup cepat dalam mengejar ketertinggalan dari pesaing. Masih terlalu dini untuk membandingkan kinerja chip AI oleh Samsung, Apple, dan Huawei karena pasar baru saja terbentuk. Apple mengklaim bahwa NPUnya telah mencapai 600 dalam operasi giga per detik, sementara Huawei mengatakan 4 dalam operasi tera per detik. Samsung diperkirakan serupa atau sedikit lebih tinggi dari yang ada saat ini," sebut sumber anonim perusahaan tersebut. Samsung sendiri telah mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengonfirmasikan pengembangan NPUnya. "Pengembangan chip AI sedang berlangsung dan dipimpin oleh Samsung Advanced Institute of Technology," kata Juru Bicara Samsung. (mim)
Robot Jack Ma Tantang Kecerdasan Manusia HANGZHOU Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang sangat pesat. Kini, AI bahkan berhasil mengalahkan manusia dalam tes bacaan komprehensif. Dalam kuis The Stanford Question Answering Dataset (SQuAd), AI rancangan Alibaba meraih nilai 82.440, lebih tinggi 136 poin dibanding hasil tes manusia. Capaian itu menunjukkan potensi besar AI dalam memajukan sistem otomatisasi dan robot. Dengan rancangan yang rumit, AI mampu menjawab pertanyaan sulit dan menyelesaikan masalah. Pada masa depan, bukan mustahil robot akan menduduki posisi penting dalam menangani isu sosial, politik, hingga manajemen krisis. Pada tes SQuAD itu, selain Alibaba, beberapa perusahaan teknologi yang turut serta adalah Microsoft, Tencent, Samsung, Facebook, Google, dan IBM. Perserta lain adalah firma riset Salesforce Research, Allen Research Institute, hingga Universitas Peking. Mereka ditantang untuk membangun AI dengan kemampuan membaca yang sangat baik sehingga dapat menjawab setiap pertanyaan yang ada. Dalam pengumuman hasil ujian dirilis rajpurkar.github.io, Alibaba yang melakukan tes pada 5 Januari lalu memperoleh nilai 82.440. Adapun Microsoft yang menjalani tes dua hari sebelumnya memperoleh nilai tertinggi, yakni 82.650. Ini merupakan kali pertama AI mampu mengalahkan manusia dalam kontes bacaan komprehensif. “Dataset bacaan komprehensif SQuAD terdiri dari 100.000 tanya jawab dalam 500 artikel yang diambil dari berbagai sumber seperti Wikipedia. Jawaban dari ujian itu langsung didasarkan pada isi wacana,” ungkap Fakulitas Ilmu Komputer Universitas Standord dalam dokumen yang dirilis web.standford.edu. SQuAD merupakan satu dari sekian tes tanya jawab yang menguji kemampuan AI dalam memahami bahasa manusia sehingga diharapkan dapat bermanfaat di dunia nyata. Dalam proyek itu, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Stanford menggunakan model sederhana namun jenis wacana yang diujikannya beragam. Kepala Imu Pengetahuan untuk Pemrosesan Bahasa Alami (PBA) di Institut Data Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Alibaba Luo Si mengaku sangat senang menyaksikan kesuksesan AI rancangannya. “Kini, pertanyaan objektif seperti ‘Apa penyebab hujan?’ dapat dijawab mesin dengan amat akurat,” katanya, dikutip Dailymail. Keakuratan AI Alibaba dalam membaca dan memberikan jawaban tidak terlepas dari kemampuannya mengingat isi wacana, mulai dari paragraf, kalimat, frasa, hingga kata. AI rancangan Alibaba juga dapat menarik kesimpulan dan menemukan frasa yang tepat dalam menjawab setiap pertanyaan yang muncul di setiap halaman. Alibaba merupakan satu dari sekian banyak perusahaan teknologi yang berlomba mengembangkan AI canggih. Tencent Holdings dan Baidu juga menciptakan perangkat lunak cerdas yang dapat memperkaya feed media sosial, target pengiklanan, dan autonomous driving. Upaya itu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah China. Alibaba awalnya memulai bisnis di bidang ritel online pada1999. Perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma itu menuai sukses besar dengan pendapatan yang mencapai USD23,82 miliar. Alibaba terus melakukan ekspansi dengan menanamkan modal di sektor lain, termasuk melakukan akuisisi. Sejak 2016 lalu, Alibaba masuk jajaran perusahaan paling berharga dan terbesar di dunia. Dengan skala operasi yang sangat luas, Alibaba telah merambah 200 negara. Keuntungan dan penjualannya pun lebih besar daripada keuntungan dan penjualan gabungan antara Walmart, Amazon, dan eBay pada 2015. Revenue Alibaba tumbuh 10 kali lipat lebih cepat dalam lima tahun terakhir. Pada awal IPO September 2014, nilai Alibaba hanya USD25 miliar. Saat ini, nilainya sekitar USD450 miliar setelah memonopoli ritel online di China. Berbeda dengan Amazon dan eBay, Alibaba lebih fokus menjembatani pembeli dan penjual via internet. “Sangat beralasan jika berasumsi Alibaba akan mencapai target mereka memiliki GMV (gross merchandise volume) USD1 triliun pada 2020 dan dua miliar pengguna di seluruh dunia pada 2036,” ujar pakar dari Wall Street, Jefferies Karen Chan, dilansir Benzinga. “Alibaba mampu berkembang mengingat lalu lintasnya amat padat dan datanya besar,” tambah Chan. Gurita Bisnis Alibaba Sepanjang perjalannya, Alibaba Group gencar melakukan ekspansi baik secara organik maupun melalui akuisisi. Sebut saja AutoNavi yang diakusisi tahun 2014 lalu senilai USD1,5 miliar. Selain itu, Alibaba juga memiliki Taobao, Alipay, Alibaba Cloud, AliExpress, Yahoo! China, Aliwangwang, Laiwang, Alibaba Pictures, Youku Tudou, 11 Main, South China Morning Post, Ali Health, Alisports, UCWeb, Ali Venture Capital, dan Lazada. Menilik ke belakang, Alibaba didirikan oleh Jack Ma yang merupakan mantan guru bahasa Inggris di Hangzhou, China. Alibaba Group kini menjelma sebagai perusahaan privat berbasis internet untuk memudahkan siapa saja membeli dan menjual barang secara online di mana pun di dunia. “Sejak berdiri, kami telah mengembangkan bisnis perdagangan online, pembayaran online, pasar online, jasa komputasi data center, dan mencapai para pengguna internet di lebih dari 240 negara dan kawasan,” ungkap laman Alibaba.com Alibaba Group saat ini memiliki 25 unit bisnis dan fokus pada visinya untuk pengembangan lingkungan bisnis online yang terbuka, kolaboratif, dan menyejahterakan seluruh pengguna. Keberadaan Alibaba pun tidak dapat dipandang sebelah mata. Pada 2012, dua layanan bisnis online Alibaba mengelola USD170 miliar total penjualan. Jumlah tersebut melebihi pesaing utamanya, eBay dan Amazon.com digabungkan. Alibaba Group kini diperkirakan bernilai antara USD55 miliar hingga lebih dari USD120 miliar. Di kalangan pebisnis China, Jack Ma dinilai sebagai tokoh inspiratif yang mendorong akses internet untuk masyarakat luas. Jack Ma mendirikan Alibaba Group pada 1999 bersama 18 orang lainnya.Saat ini Alibaba Group memiliki sejumlah anak perusahaan dengan total pegawai 24.000 orang di dunia dan lebih dari 70 kantor di China, India, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Setiap bisnis online yang dikelola Alibaba Group itu menangani pasar yang sangat unik dan secara eksklusif dilayani oleh anakanak perusahaannya. Misalnya, Taobao.com merupakan portal yang mirip dengan eBay asal AS. Saat ini Taobao.com menampilkan hampir satu miliar produk dari para penggunanya. Portal ini merupakan satu dari 20 website yang paling banyak dikunjungi di dunia. Taobao yang didirikan pada 2003 itu mengklaim melayani lebih dari 370 juga pengguna terdaftar pada akhir 2010. Adapun Tmall.com yang diperkenalkan pada April 2008 merupakan website yang melayani “bisnis ke konsumen” untuk melengkapi Taobao yang berbasis “konsumen ke konsumen”. Saat ini Tmall menjadi tujuan utama belanja online untuk barangbarang bermerek dan berkualitas di China. Adapun eTao.com diluncurkan oleh Taobao pada Oktober 2010 merupakan mesin pencari independen dan menjadi bisnis independen pada Juni 2011. ETao menjadi mesin pencari belanja paling komprehensif di China yang mencakup beragam produk dari berbagai portal belanja online di Negeri Panda. Sedangkan Alipay.com, memberikan layanan pembayaran online yang dipakai oleh setengah dari total pembayaran online di China. Sebagian besar pembayaran melalui Alipay dilakukan dalam layanan berbagai bisnis Alibaba Group. Alipay saat ini menguasai pangsa pasar terbesar di China untuk pembayaran online, dengan lebih dari 700 juta rekening terdaftar pada akhir 2012. Meski tidak diketahui pasti jumlah pengguna aktifnya, namun dengan jumlah itu saja, jelas Alipay telah melampaui PayPal yang hanya memiliki 117 juta pengguna aktif. Dengan berbagai pencapaian tersebut, wajar apabila kemudian Alibaba Group menjadi platform perdagangan “bisnis ke bisnis” terbesar di dunia untuk usaha kecil. Untuk terus mempertahankan prestasinya, Alibaba Group menegaskan bahwa entrepreneurship dan inovasi merupakan pendorong utama untuk kesuksesan besar danpertumbuhan cepat perusahaan tersebut. Meskipun kini Alibaba Group yang didirikannya telah menjadi perusahaan global yang disegani. Namun sejak awal Ma menegaskan bahwa Alibaba bukan satu kerajaan bisnis yang hendak diciptakannya. “Saya selalu yakin kami tidak boleh membangun sebuah kerajaan bisnis, sebaliknya kami harus membangun sebuah ekosistem. Setiap kerajaan akan tumbang suatu hari nanti, tapi sebuah ekosistem akan berkelanjutan,” papar Jack Ma saat diwawancarai China Morning Post. Saat ini Jack Ma tidak lagi menjabat sebagai CEO Alibaba Group tapi menjadi Chairman Alibaba. Namun, dia menegaskan bahwa jika perusahaan membutuhkannya, dia akan selalu ada. “Saya di sini setiap saat jika Anda memerlukan kami. Tapi saya tidak akan mengoperasikan perusahaan,” ungkapnya. (Muh Shamil/Syarifudin)
Artificial Intelligence: Masa Depan Peradaban Manusia Pernah lihat film Hollywood berjudul “Terminator” yang diperankan Arnold Schwarzenegger? Film tersebut menceritakan tentang manusia yang berperang dengan robot-robot ‘pintar’. Robot-robot terminator tersebut dibangun dengan konsep artificial Intellegence, menurut imajinasi si pembuat cerita. Sama halnya dengan robot-robot pada film “Transformer”. Artificial Intellegence (AI) atau “kecerdasan buatan” dalam bahasa Indonesia, adalah istilah untuk ‘mesin cerdas’, mesin yang dapat bekerja sendiri melalui algoritma-algoritma pemrograman komputer. Kemampuan berpikir mesin yang menggunakan konsep AI ‘hampir’ menyerupai manusia. Tentu saja mesin tidak akan mampu memiliki emosi seperti yang dimiliki manusia. Tetapi tingkat akurasi dan kapasitas mesin-mesin ‘cerdas’ ini dalam melakukan perhitungan-perhitungan melebihi manusia.Mesin-mesin cerdas dengan kecerdasan buatan saat ini sudah jauh berkembang dan dimanfaatkan secara lebih luas dalam keseharian manusia. Penerapan konsep AI digunakan di berbagai bidang. Contoh sederhana teknologi yang menerapkan kecerdasan buatan adalah Siri, sebuah teknologi Virtual Personal Assistant (VPA). Dengan aplikasi Siri kita dapat memberikan perintah kepada komputer/mesin dengan perintah lisan atau perkataan. Teknologi serupa juga ditemukan pada Google Now dimana kita tidak lagi mengetikkan kata-kalimat untuk melakukan pencairan melainkan memberikan informasi kepada Google melalui ucapan kita. Game juga termasuk teknologi yang menggunakan AI pada sistemnya. Ketika Anda masuk ke modesingle player pada game seperti peperangan atau catur, Anda dapat melihat bahwa komputer merespon setiap gerakan yang Anda buat lalu mengadakan ‘pertahanan’ terhadap aktifitas Anda, komputer bahkan berusaha ‘melumpuhkan’ Anda. Hal ini disebabkan oleh kecerdasan buatan yang dimasukan kedalam mesin game tersebut. AI yang diterapkan pada game mampu mendeteksi, menganalisa sekaligus menentukan pilihan respon yang akan ia berikan. Produsen mobil Tesla juga menerapkan AI pada produknya. Mobil Tesla memiliki kemampuan self-driving atau berjalan sendiri. Mobil ini juga dikatakan mampu mendeteksi kecelakaan. Semuanya dilakukan dengan memberikan mobil tersebut suatu kecerdasan buatan. Contoh lainnya adalah teknologi image recognition atau pengenalan gambar. Komputer mampu mendeteksi atau mencari gambar dan mengambil data-data dari gambar tersebut. Komputer dapat mendeteksi wajah, warna, dimensi dan sebagainya dari suatu gambar digital. Misalnya teknologi image recognition untuk web browser berupa script Javascript bernama tracking.js. Komputer dengan konsep AI didalamnya mampu menganalisa keadaan lingkungan sekitar dengan bantuan alat sensor; Ia dapat segera membuat perhitungan-perhitungan, prediksi atau data-data statistik mengenai perubahan kondisi lingkungan sekitarnya. Masih banyak sekali contoh-contoh yang lainnya seperti robot-robot pada perusahaan industri, sistem keamanan dengan bantuan kamera, algoritma-algoritma pemrograman untuk menganalisa sistem perkenomian atau bisnis dan lain-lain. Artificial intelligence adalah manisfestasi kecerdasan manusia yang diberikan kepada mesin. Tujuannya untuk membantu kehidupan manusia, tetapi dampaknya bisa juga bersifat destruktif. Mesin-mesin dengan kecerdasan buatan terus berkembang dengan cepat. Kehidupan manusia di masa yang akan datang akan didampingi mesin-mesin cerdas yang mampu melakukan banyak pekerjaan manusia. Apakah manusia dapat bersaing dengan mesin-mesin cerdas di masa depan.
Artificial Intelligence: Masa Depan “Evolusi” Manusia? Dimulai dari isapan jempol sekelompok penulis fiksi ilmiah, Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dalam keseharian kita. Walaupun mungkin masih butuh bertahun-tahun untuk bisa merasakan seorang asisten robot yang membantu pekerjaan kantor kita, tetapi AI kini telah memiliki dampak yang cukup signifikan di berbagai lini kehidupan kita. Ramalan cuaca, penyaring e-mail spam, prediksi di mesin pencari, sampai Siri dan Cortana, adalah beberapa contoh dari penggunaan AI di keseharian kita. Apa yang menjadi kesamaan pada sejumlah teknologi tadi adalah algoritma khusus yang memungkinkan teknologi ini dapat bereaksi serta merespon secara real time. Mungkin jalan kita masih panjang hingga AI dapat menjadi teknologi yang sempurna, tetapi efek positif yang akan dihasilkannya terhadap lingkungan dalam hal efisiensi dan efektifitas sangatlah tidak ternilai. Bukan temuan baru Konsep Artificial Intelligence sebenarnya sudah jauh dipikirkan, bahkan sejak zaman Yunani Kuno. Talos dari Crete, robot perunggu dari Hephaestus, dan Galatea dari Pygmalion menjadi beberapa contoh ide “mesin yang hidup” yang dicetuskan di era tersebut. Walau begitu, konsep dari Artificial Intelligence ini baru sekitar setengah abad lalu berubah dari hanya sebuah mitos menjadi sebuah realitas yang faktual. Adalah Alan Turing, seorang ahli matematika sekaligus pemecah kode di Perang Dunia ke-2 dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam pencetusan ide tentang teknologi “kecerdasan buatan” ini pada tahun 1950. Melalui ide-idenya saat itu, istilah artificial intelligence cukup populer pada pertengahan tahun ’50-an. Bahkan hingga Turing meninggal pada tahun 1954, istilah tersebut masih menjadi perbincangan hangat di kalangan peneliti saat itu. Seorang ilmuwan kognitif Amerika bernama Marvin Minsky akhirnya memutuskan untuk meneruskan tongkat estafet AI dengan membangun sebuah laboratorium khusus AI di Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1959 dan menjadi salah satu konseptor utama di bidang AI pada periode 1960 hingga 1970-an. Minsky bahkan menjadi penasihat pribadi Stanley Kubrick pada filmnya “2001:A Space Odyssey,” yang rilis pada tahun 1968, yang menjadi salah satu gubahannya yang memperkenalkan AI ke khalayak ramai melalui komputer pintar HAL 9000. Akan tetapi membutuhkan hingga beberapa dekade untuk masyarakat dapat mengenal potensi sebenarnya dari AI. Beberapa figur teknologi terkenal seperti Elon Musk dan Stephen Hawking masih terus memperbincangkan perkembangan artificial intelligence hingga hari ini. Ketika berbicara tentang dampak positifnya terhadap umat manusia, AI adalah salah satu contoh teknologi yang dapat mengubah sejarah manusia secara keseluruhan, terutama ketika berbicara tentang otomatisasi dan pengolahan data yang masif. Fungsi utama dari AI adalah kemampuannya untuk mempelajari data yang diterima secara berkesinambungan. Semakin banyak data yang diterima dan dianalisis melalui algoritma khususnya, semakin baik pula AI dalam membuat prediksi. Masih belum bisa membayangkan? Ketika kamu bingung memilih game free-to-play di smartphone, Google PlayStore akan memberikan sugesti menarik yang akan mempermudah pemilihan game yang kamu senangi. Atau kamu sedang malas mencari rute perjalanan tercepat ke tujuanmu? Biarkan Waze mencarikannya untukmu. Artificial Intelligence dalam bisnis Salah satu dampak terbesar yang terasa dari adanya teknologi AI adalah tempat kerja kita. Teknologi yang dapat “belajar sendiri” ini berhasil meningkatkan produktivitas di kantor secara drastis. Dari mulai pengelolaan workflow hingga prediksi tren dan bahkan mempengaruhi keputusan sebuah brand untuk membeli iklan, AI benar-benar mengubah cara manusia untuk melakukan bisnis. Big data adalah tambang emas untuk para pelaku bisnis, di mana seluruh data yang dibutuhkan untuk pengembangan bisnis tersedia, tetapi banyak perusahaan besar yang tidak mampu mengelolanya. Ya, big data adalah “bahan bakar” dari AI, melihat teknologi ini membutuhkan informasi yang masif untuk dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan hasil yang berguna, dan ini tidak dapat diperoleh dari pemrosesan data secara manual. Tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi di dalam organisasi, AI juga dapat meminimalisir kesalahan yang kemungkinan akan terjadi. AI dapat mendeteksi sebuah pola yang tidak wajar, seperti email penipuan, dan langsung mengirimkan peringatan tentang aktivitas yang mencurigakan tersebut. Lebih lanjut, AI juga dapat “dilatih” untuk meneliti calon pembeli tentang preferensi belanja mereka dari pola unik yang mereka miliki. Whoa.
Graava, Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Mengedit Momen Terbaik Secara Otomatis Kamu mungkin sudah tidak asing lagi dengan GoPro, action camera berukuran mungil yang mampu merekam video dengan kualitas tinggi. Namun masalahnya setelah merekam kamu pastinya perlu mengedit video tersebut dengan memotong dan menambahkan satu video dan video lainnya sebelum bisa menjadi video yang nyaman untuk ditonton. Hal tersebut sangat memakan waktu, apalagi kamu harus mencari momen yang tepat. Akan tetapi, apa yang terjadi apabila kamu bisa memilih momen terbaik dan langsung menggabungkannya menjadi video? Graava, sebuah action camera yang dilengkapi kecerdasan buatan menjawab semua pertanyaan tersebut. Perangkat ini sangat cerdas karena bisa merekam dan menggabungkan semua momen terbaik sekaligus melalui lima sensor yang dimiliki, yaitu kamera, mikrofon, akselerometer, GPS, dan sensor detak jantung. Sensor kamera dalam Graava bekerja dengan cara mendeteksi segala jenis objek bergerak. Begitu juga dengan mikrofon dan GPS yang secara otomatis akan merekam ketika ada suara dan juga saat pengguna berganti arah gerak. Kemudian sensor detak jantung akan otomatis bereaksi saat pengguna melihat sesuatu yang mendebarkan, dan sensor akselerometer juga akan bereaksi untuk merekam apabila pengguna berubah secara tiba-tiba. Untuk lebih jelasnya berikut adalah video bagaimana cara kerja dari Graava. Setelah pengguna selesai menggunakan Graava, mereka akan mendapat pilihan berapa lama durasi dari video yang mereka inginkan. Sedangkan rekaman video yang tidak diedit akan tetap tersimpan dalam memori Graava. Berikut adalah video yang dihasilkan dari kecerdasan buatan yang dimiliki oleh Graava. Perangkat ini sekarang masih dalam tahap pre-order dengan banderol harga promo $250 (sekitar Rp3,5 juta). Harga tersebut nantinya akan naik menjadi $400 (sekitar Rp5,6 juta) setelah masa pre-order selesai. Jadi bagaimana pendapat kamu. Apakah cukup tertarik dengan produk ini? Atau tetap memilih GoPro?
Microsoft Memanfaatkan Game Minecraft untuk Mengembangkan Kecerdasan Buatan Setelah Google Deep Mind mencuri perhatian kita dengan AlphaGo, kecerdasan buatan yang berhasil mengalahkan pemain Go terbaik dunia, kini Microsoft tidak ingin ketinggalan dalam ranah kecerdasan buatan dengan mengumumkan sebuah proyek penelitian. Uniknya, mereka menggunakan game sandbox Minecraft untuk melakukan penelitian tersebut. Penelitian kecerdasan buatan menggunakan Minecraft ini menjadi nyata berkat platform bernama Project AIX yang dikembangkan oleh Katja Hoffman. Ia mendapatkan ide untuk menjadikan Minecraft sebagai tempat melatih kecerdasan buatan setelah melihat platform lain yang hanya mengetes AI buatannya dengan menggunakan game simpel dan kurang menantang. Diberitakan dalam blog resminya, para ilmuwan komputer di Microsoft menghabiskan hari-harinya membuat karakter dalam Minecraft agar dapat mendaki sebuah bukit di dunia game. Tugas para ilmuwan Microsoft tidak semudah kelihatannya, karena karakter yang mereka buat tidak boleh diprogram secara spesifik untuk naik ke bukit, melainkan mempelajari sendiri cara untuk sampai ke puncak. Minecraft dinilai sebagai game ideal untuk membantu para ilmuwan melatih kecerdasan buatan. Konsep open-world yang sangat luas dengan berbagai kemungkinan yang mendekati dunia nyata di dalamnya dirasa tepat untuk mengasah kemampuan kecerdasan buatan. Terutama dalam mempelajari keadaan sekitar, mengambil keputusan yang cukup kompleks, mengetahui tujuan, dan memahami konsekuensi. Kecerdasan buatan dalam Project AIX akan diprogram untuk mulai mempelajari segalanya dari nol, seperti orang yang baru pertama kali memainkan Minecraft. Kreasi tidak terbatas yang ada dalam Minecraft dapat membuat kecerdasan buatan lebih bebas diprogram seperti apapun, mulai dari sekadar jalan-jalan, mencari harta karun, hingga membangun struktur bangunan bersama tim. Penggunaan Minecraft untuk melatih kecerdasan artifisial ini juga menguntungkan dari segi finansial dan waktu. Jika peneliti membuat robot sungguhan yang memiliki kecerdasan buatan, melatihnya di dunia nyata, lalu terjadi kegagalan, maka akan cukup banyak uang dan waktu yang dikeluarkan untuk memperbaikinya. Sedangkan dalam Minecraft, tidak jadi masalah ketika berkali-kali ia jatuh ke lava atau tercebur ke dalam sungai. Tim peneliti Microsoft berharap dengan mengasah kemampuan bekerja sama, nantinya kecerdasan artifisial akan dapat membantu manusia dalam menyelesaikan tugas-tugas kompleks di dunia nyata. Tujuan utama Project AIX, menurut Hoffman, selain digunakan untuk penelitian Microsoft, juga diharapkan bisa membantu peneliti kecerdasan arifisial lainnya. Project AIX akan dibuka tengah tahun 2016 dengan lisensi open-source agar dapat diakses secara luas oleh para peneliti kecerdasan buatan yang ingin berlatih menggunakan Minecraft. Semoga Project AIX dapat memacu semangat para peneliti untuk menciptakan inovasi kecerdasan artifisial yang berguna bagi manusia nantinya.
Salesforce Einstein, Kecerdasan Buatan yang Bisa Membuat Model Data Sendiri Salesforce adalah perusahaan penyedia jasa yang bergerak di bidang manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management) dan cloud computing. Keunggulan mereka terletak pada kecanggihan teknologi yang digunakan, salah satunya yaitu integrasi kecerdasan buatan ke dalam berbagai layanan. Platform kecerdasan buatan yang disebut sebagai Einstein ini pertama kali diumumkan Salesforce pada September 2016. Sejak saat itu Salesforce terus mengembangkan serta memperluas jangkauan penggunaan Einstein. Seiring dengan pengumuman jajaran produk yang akan mereka rilis pada musim semi (Maret-Mei) 2017, Salesforce juga membeberkan bahwa Einstein ternyata memiliki fitur spesial, yaitu kemampuan untuk menciptakan model data secara otomatis. Salesforce menyebut prinsip kerja Einstein itu sebagai “menggunakan kecerdasan buatan untuk menghasilkan kecerdasan buatan.” Menurut John Ball, General Manager yang menangani Einstein di Salesforce, ada dua alasan mereka membuat Einstein seperti ini. Pertama, mereka ingin membuat proses integrasi kecerdasan buatan mudah dilakukan oleh konsumen. Tapi di sisi lain, model data yang dihasilkan akan semakin baik justru apabila konsumen bisa memberikan banyak data baru yang beraneka ragam. “Ketika kamu mengkustomisasi dan mengembangkan Salesforce, kamu melakukannya dengan tujuan untuk memodelkan proses bisnismu,” kata Ball. “Einstein bisa melihat metadata yang mendasarinya kemudian menentukan skema dan relasi untuk mengenali data tersebut, misalnya alamat email atau nomor telepon, dan memasukkannya ke dalam data set. Tergantung jenis datanya, proses ini bisa prediktif ataupun tidak, tapi kamu bisa memasukkan data sembarang dan kami akan memrosesnya secara matematis.” Teknologi yang tak terliha Selain menciptakan model secara otomatis, Einstein juga memiliki kemampuan untuk menguji model data yang ia miliki secara terus-menerus. Ia akan menguji model satu dengan model lain, membandingkannya, kemudian memilih model dengan hasil terbaik. Dari sudut pandang konsumen, segala kecanggihan ini sebetulnya tidaklah penting. Yang mereka inginkan adalah produk yang lebih baik, bagaimana pun proses dapurnya. Survei yang dilakukan oleh HubSpot menunjukkan bahwa 63 persen pengguna tidak menyadari bahwa mereka menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Meski tak terlihat menonjol, perkembangan kecerdasan buatan tetap memegang peranan penting dalam kemajuan produk. Salesforce dan IBM pun telah mengumumkan kerja sama untuk menggabungkan manfaat dari Einstein dan IBM Watson. Kita tunggu saja dampak seperti apa yang akan ditimbulkannya di masa depan.
Kecerdasan Buatan Kalahkan Pemain Go Terhebat di Dunia, Apakah Ini Pertanda Buruk? Alpha Go merupakan sebuah proyek kecerdasan buatan (AI) dari Google yang didesain untuk bisa bermain Go, sebuah board game strategi klasik asal Cina untuk dua orang pemain. Jadi kemarin (10/3) Alpha Go berhasil mengalahkan Lee Se-Dol, pemain Go terbaik di dunia asal Korea Selatan. Tidak tanggung-tanggung, Alpha Go bahkan mengalahkan pemegang 18 kali piala dunia bermain Go itu dalam dua kali pertandingan. Kemenangan tersebut membuat banyak ahli sulit untuk memercayainya. Karena untuk bisa mengembangkan algoritma untuk bermain Go sangatlah rumit, tidak semudah game lain seperti Catur maupun Monopoli yang sudah sempat dikembangkan. Go merupakan sebuah permainan strategi yang terdiri dari 19 garis vertikal dan horizontal. Yang mana sang pemain akan meletakkan batu putih atau hitam di garis-garis tersebut untuk mengurung sang lawan. Setelah terkurung, batu itu tidak bisa digerakkan lagi. Kondisi inilah yang menyebabkan Go memiliki sangat banyak kemungkinan untuk bisa menang. Lalu bagaimana Google mengembangkan kecerdasan buatannya? Berdasarkan penjelasan Google, Alpha Go menggunakan kombinasi dari algoritma pencarian Tree dan jaringan syaraf buatan. Singkatnya, pencarian Tree merupakan sebuah algoritma yang digunakan untuk menentukan proses pengambilan keputusan. Kemudian untuk jaringan syaraf, Alpha Go menggunakan dua jaringan syaraf buatan sekaligus. Pertama adalah jaringan Policy yang memungkinkan komputer untuk mengambil langkah-langkah permainan selanjutnya. Kedua, adalah jaringan Value yang akan memprediksi langkah-langkah yang bisa membawa kemenangan. Dua jaringan syaraf buatan tersebut secara tidak langsung telah membuat Alpha Go bekerja layaknya otak manusia. Keduanya bahkan telah dilatih dengan 30 juta langkah yang diambil dari pertandingan-pertandingan yang dimainkan oleh para ahli Go sebelumnya, sampai Alpha Go mampu memprediksi 57 persen permainan. Selain itu, untuk bisa melampaui kemampuan manusia, Alpha Go juga mempunyai kemampuan untuk melatih dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan cara melatih kedua syaraf buatan satu sama lain melalui ribuan kali permainan. Dengan proses tersebut, menurut saya tidak heran apabila Alpha Go berhasil mengalahkan Lee, karena Alpha Go berpikir lebih dalam dan cepat dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Kontroversi kecerdasan buatan Kamu mungkin sudah pernah menonton film iRobot, yang mana para robot memberontak dan membinasakan manusia. Para ahli telah banyak memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan mampu melampaui pola pikir manusia. Sehingga apa yang terjadi pada film tersebut bisa jadi terjadi di masa mendatang. Sesaat setelah pertandingan pertama selesai. Mantan petinggi Google di Cina, Kaifu Lee, mengungkapkan pendapatnya di Sina Tech, salah satu media online di Cina. Menurut Kaifu di masa mendatang akan semakin banyak penerapan kecerdasan buatan. “AI akan digunakan untuk memecahkan masalah, menyelamatkan keterpurukan, dan membuat keuntungan bagi individu maupun perusahaan. […],” ungkap Kaifu. Namun, bukan berarti kecerdasan buatan tidak memiliki dampak buruk. Menurut Kaifu, kecerdasan buatan bisa saja akan menggantikan peran-peran pekerja di masa depan. Dalam 10 tahun ke depan, sangat banyak pekerjaan-pekerjaan yang ada sekarang akan tergantikan oleh komputer. Mesin-mesin akan menggantikan peran suster, akuntan, guru, pengelola keuangan, dan lainnya. Mesin-mesin juga tidak perlu digaji, hanya perlu listrik dan jaringan, dan mereka bisa bekerja selama 24 jam, 365 hari dalam setahun. Sungguh mengerikan, bukan, apabila prediksi itu benar. Bagaimanapun, masa depan sangat sulit untuk diprediksi. Mungkin saja dalam waktu lima tahun ke depan, banyak komputer yang sudah menggantikan peran manusia.
Kecerdasan Buatan Kini Mampu Menulis Novel yang Nyaris Menjadi Pemenang Anugerah Sastra Tahun ini, sebuah anugerah sastra di Jepang yang bernama Nikkei Hoshi Shinichi, berlangsung dengan cukup unik cukup unik. Dari 1.450 karya yang terdaftar dalam penghargaan tersebut, 11 di antaranya dibuat dengan bantuan program kecerdasan buatan (AI). Bahkan, salah satu novel buatan AI yang berjudul The Day A Computer Writes A Novel, berhasil lolos seleksi awal anugerah tersebut. Sayang, novel tersebut akhirnya gagal menjadi pemenang. Satoshi Hase, seorang penulis novel fiksi ilmiah asal Jepang, mengaku kalau ia terkejut dengan susunan novel tersebut yang begitu baik. “Sayangnya, ada beberapa hal yang kurang pas, seperti dalam hal penggambaran karakter, sehingga novel tersebut gagal menjadi pemenang,” ujar Satoshi. Bisakah komputer meniru kreativitas manusia? Selama beberapa tahun terakhir, anugerah Nikkei Hoshi Shinichi memang membuka kesempatan untuk pendaftar non-manusia untuk ikut berkompetisi. Namun baru pada tahun ini benar-benar ada novel buatan AI yang didaftarkan dalam ajang tersebut. Hitoshi Matsubara, seorang profesor di Future University Hakodate, adalah orang di balik pembuatan AI yang menulis novel The Day A Computer Writes A Novel. Ia bersama tim yang ia pimpin terlebih dahulu menentukan alur cerita, jenis kelamin para tokoh, serta kosakata yang akan digunakan. Selanjutnya, secara otomatis AI tersebut langsung menyusunnya menjadi sebuah novel utuh. Matsubara menyatakan kalau selama ini AI hanya digunakan untuk memecahkan masalah dengan solusi yang pasti, seperti yang dilakukan Google dengan permainan Go. “Di masa depan, saya ingin mengembangkan potensi kecerdasan buatan agar bisa meniru kreativitas manusia,” ujar Matsubara. Walau gagal menjadi pemenang, namun lolosnya novel tersebut ke sebuah anugerah sastra merupakan prestasi tersendiri. Secara tidak langsung hal ini menjadi mimpi buruk bagi para penulis yang mungkin akan tergantikan pekerjaannya oleh AI. Namun sepertinya hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Saya membayangkan kalau AI buatan Matsubara nantinya bisa digunakan untuk membantu manusia dalam menyusun sebuah naskah. Untuk menyempurnakan naskah tersebut menjadi karya yang indah, kreativitas penulis manusia tetaplah diperlukan.
Pelajaran yang Saya Dapat dari 100 Startup di Bidang Kecerdasan Buatan Kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence) belakangan ini sedang menjadi topik perbincangan hangat di kalangan para pegiat startup dan investor. Berhubung perusahaan kami, Pi Ventures, adalah modal ventura yang fokus mendukung perusahaan pengguna AI, kami bertemu dengan banyak entrepreneur yang tengah membangun perusahaan di bidang ini. Berinteraksi dengan startup pengguna AI adalah pengalaman yang sangat mencerahkan. Berikut ini beberapa pelajaran yang mungkin bisa berguna bila kamu berencana terjun ke dunia kecerdasan buatan. Mengutamakan teknologi atau bisnis? Biasanya, perusahaan startup mengambil satu dari dua jalan utama: membangun produk yang disruptif kemudian mencari masalah bisnis yang bisa diselesaikan dengannya, atau mengidentifikasi masalah terlebih dahulu baru membuat engine yang bisa menyelesaikannya. Sebagai contoh, bisa saja saya membuat algoritma computer vision yang sangat bagus, kemudian saya aplikasikan di bidang kesehatan atau keamanan. Alternatifnya, mungkin saya memiliki ide tentang masalah industri logistik, kemudian mengembangkan engine kecerdasan buatan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jalur mana pun yang kamu ambil, tidak masalah. Yang penting kamu memiliki wawasan unik tentang teknologi atau persoalan bisnis yang kamu geluti—lebih bagus lagi malah dua-duanya. Kalau tidak demikian, bisa-bisa kamu kehilangan arah. Platform (horizontal) atau aplikatif (vertikal) Keputusan penting lain yang harus diambil oleh perusahaan startup adalah apakah mereka lebih cocok membangun engine yang bisa digunakan oleh produk startup lain, atau membangun seluruh use case vertikal sendiri. Sebagai contoh, baru-baru ini saya bertemu dengan startup yang membuat avatar chatbot B2C dalam bahasa Hindi. Mereka punya dua pilihan: menggunakan data dari chatbot untuk meluncurkan API NLP yang bisa digunakan oleh produk lain (jalur platform), atau mereka meluncurkan sendiri chatbot yang bisa digunakan untuk, misalnya, berinteraksi dengan sebuah bank (jalur aplikatif). Keduanya adalah business case yang sama-sama valid. Kamu bisa memilih jalan berdasarkan kemampuanmu dan skenario pasar. Perlu diperhatikan bahwa bila kamu mengambil cara horizontal/platform, kamu harus sangat ahli di bidang teknologi, dan lebih baik masuk ke pasar seawal mungkin. Sementara untuk cara vertikal/aplikatif, kamu harus sangat paham domain permasalahan. Bila mungkin, mulailah dengan lingkup aplikasi kecil. Tujuannya supaya kamu bisa melakukan bootstrapping dan memiliki nilai bisnis walau dengan jumlah data yang sedikit. Memahami domain permasalahan Misalkan kamu sedang membangun startup dengan jalur aplikatif. Salah satu pertanyaan yang kami, para investor, sering lontarkan adalah sedalam apa kamu mengerti domain permasalahanmu. Sepanjang pengalaman kami menjalin kerja sama, jawabannya bisa bermacam-macam. Di beberapa startup, kemampuan utama para founder adalah teknologi, dan mereka menutup kekurangan wawasan dengan cara belajar atau merekrut konsultan. Sementara startup lain memiliki spesialis domain dalam tim founder mereka. Keduanya sama-sama bisa diterima. Yang jelas di ranah AI aplikatif kamu harus memahami domain masalah untuk membangun solusi yang relevan. Susun strategi penanganan data Data adalah unsur krusial dalam algoritma AI. Maka dari itu, penting untuk mengetahui jumlah data yang kamu butuhkan dan dari mana sumbernya. Untuk membangun solusi yang punya nilai bisnis, kamu harus melakukan bootstrapping dengan jumlah data yang cukup. Banyak solusi inovatif di luar sana yang bisa kamu gunakan untuk memperoleh data awal pengembangan model AI. Mengidentifikasi jumlah dan asal data yang kamu butuhkan itu sangat penting. Salah satu contoh startup teladan adalah Vernacular.ai. Mereka membuat chatbot Facebook bernama Ayesha yang bisa berbincang-bincang dalam bahasa Hindi, melontarkan lelucon, membaca puisi, berdiskusi tentang astrologi, dan banyak lagi. Bot tersebut akhirnya viral, dan mendatangkan banyak data percakapan bahasa Hindi yang bisa mereka gunakan untuk mengembangkan engine NLP (Natural Language Processing). Contoh lain misalnya Locus.sh. Pada awalnya, mereka membuat engine (tanpa AI) pengaturan rute dan alokasi pengiriman barang hiperlokal untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Seiring produk mereka digunakan orang, mereka pun mendapatkan data penting untuk membangun algoritma machine learning (ML) dan deep learning. Sekarang, mereka memiliki solusi yang memanfaatkan data real-time untuk memprediksi hasil. Biaya yang kamu dikeluarkan untuk mengumpulkan data juga perlu diperhatikan. Mengumpulkan data di tahap awal mungkin jauh lebih murah daripada di skala besar. Startup sebaiknya memikirkan cara yang cerdas dan nonlinear untuk memperoleh data engine AI. Strategi penanganan data sering kali menjadi kunci penting dalam membangun engine AI dan bisnis yang unik. Bahkan bisa saja suatu hari nanti kamu lebih dihargai karena data yang kamu miliki, daripada produk yang kamu tawarkan. Pahami perbedaan machine learning dan deep learning Kita sering menggunakan dua istilah ini untuk menyebut hal yang sama, tapi sebenarnya ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Perbedaan paling utama ada pada pendefinisian feature vector set untuk klasifikasi.
Facebook Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Membantu Tunanetra “Melihat” Foto Setiap hari, orang-orang membagikan lebih dari dua miliar foto di Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp. Angka tersebut diungkapkan Facebook melalui blog resminya. Jadi konten visual telah menyediakan sebuah cara yang menyenangkan dan ekspresif bagi orang-orang untuk berkomunikasi secara online. Namun sayangnya konten-konten tersebut tidak bisa dinikmati oleh tunanetra maupun mereka yang mengalami gangguan penglihatan berat. Berdasarkan hasil riset Facebook, terdapat lebih dari 39 juta tunanetra dan lebih dari 246 juta orang yang memiliki gangguan penglihatan. Untuk itu Facebook mengembangkan sebuah teknologi kecerdasan buatan bernama Automatic Alternative Text, yang dapat membantu tunanetra menikmati Facebook seperti pengguna lainnya. Kecerdasan buatan ini akan membacakan deskripsi dari sebuah foto dengan teknologi canggih yang akan mengenali objek-objek di dalamnya. Jadi, saat mengakses Facebook, pengguna yang mengaktifkan fitur Screen Reader di perangkat iOS akan secara otomatis mendengar deskripsi mengenai apa saja yang terdapat di foto. Sebelumnya, tanpa teknologi ini pengguna hanya bisa mendengar nama orang yang membagikan foto tersebut. Sedangkan sekarang mereka bisa menikmati deskripsi yang lebih detail. Sebagai contoh, seseorang bisa mendengar deskripsi “gambar ini terdiri dari tiga orang, tersenyum, di luar ruangan.” Semua itu bisa dilakukan dengan teknologi pengenal objek dari jaringan syaraf buatan yang memiliki miliaran parameter dan telah dilatih dengan jutaan contoh. Dengan teknologi ini, Facebook bisa menjangkau lebih banyak lagi pengguna-pengguna yang belum menggunakan media sosial ini. Automatic Alternative Text baru diluncurkan untuk fitur Screen Reader di perangkat iOS dan menggunakan bahasa Inggris. Ke depannya Facebook akan mengembangkan teknologi ini ke bahasa-bahasa lain. Selain Facebook, perusahaan teknologi lain yang juga sempat mengembangkan teknologi untuk tunanetra adalah Microsoft Cognitive Services. Dengannya developer bisa mengembangkan aplikasi yang lebih manusiawi. Seperti teknologi untuk menganalisis sebuah gambar, pengenalan suara, bahasa, sampai ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Computer Vision API yang sempat digunakan oleh Saqib, salah satu developer ahli Microsoft yang juga seorang tunanetra sejak umur tujuh tahun. Ia mengembangkan sebuah kacamata khusus yang mampu mengenali objek di sekelilingnya, kemudian menghasilkan suara untuk menjelaskan deskripsi dari objek tersebut.
Pengaruh Kecerdasan Buatan di Masa Depan Menurut Founder Baidu Sejauh ini, mungkin belum ada perusahaan Cina lain yang begitu gencar mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti Baidu. Melalui pusat riset Institute of Deep Learning yang dimilikinya, perusahaan yang didirikan Robin Li ini telah lama mendorong kemajuan AI. Baidu telah membuat beragam proyek mulai dari mobil tanpa sopir hingga aplikasi faceswapping real-time. Sebagai pemimpin perusahaan yang serius mengembangkan AI, Robin tentunya tahu banyak tentang bidang ini. Pada acara Yabuli Summer Summit yang diselenggarakan baru-baru ini, Robin berbicara tentang gagasannya mengenai AI. Isi pidato Robin yang berkaitan tentang AI telah kami terjemahkan dan tuliskan dalam artikel ini. Robin Li: “Babak baru internet” Tentang pengembangan AI Di masa depan, sektor apa yang akan melahirkan perusahaan besar, startup, dan perusahaan super progresif? Pertanyaan yang perlu kita pikirkan secara mendalam ini sebenarnya punya jawaban yang simpel. Baru-baru ini, dan khususnya tahun lalu, kita melihat bangkitnya istilah artificial intelligence (AI). Saya pikir babak baru internet nantinya adalah era AI. AI bukanlah konsep baru; sejumlah profesor komputasi MIT menciptakan istilah ini pada suatu hari di musim panas enam puluh tahun lalu. Saat itu, mereka pikir persoalan ini bisa dipecahkan selama satu musim panas. Kenyataannya, lebih dari setengah abad berlalu persoalan AI masih belum bisa dipecahkan. Bahkan hingga saat ini, AI adalah persoalan yang masih sangat, sangat sulit. Tapi kita telah melihat banyak perubahan yang terjadi di bidang AI selama beberapa tahun belakangan, perkembangannya terjadi dengan cepat. Meskipun demikian, figur berpengaruh seperti Bill Gates dan Elon Musk mulai menyerukan risiko AI, dan mengingatkan orang-orang tentang kemungkinan mesin akan mengendalikan manusia di masa depan. Tentu setiap orang punya perspektif sendiri tentang perkembangan teknologi yang cepat seperti ini. Saya dengar seorang ahli menyurati pimpinan pusat di Cina dan menasihati mereka bahwa “AI terlalu dilebih-lebihkan dan tidak punya kegunaan praktis.” Jadi ada pihak yang mengatakan bahwa AI bisa memperbudak manusia, sementara pihak lain mengatakan bahwa AI bahkan tidak bisa membantu manusia. Lalu, apa sebenarnya kegunaan nyata AI? Sebagai entrepreneur, kita harus melihat kegunaan apa yang bisa AI berikan. Pertama, kita perlu menimbang apa yang bisa dilakukan AI sekarang, dan apa yang bisa dilakukannya di masa depan. Kedua, kita perlu memperhitungkan industri apa yang bisa dipengaruhi oleh AI. Pengaruh AI pada industri manufaktur Saya tidak ingin berbicara secara mendalam tentang isu pertama. Sedangkan isu kedua, industri apa yang bisa dipengaruhi oleh AI, adalah hal yang terus kami pikirkan. Saya rasa AI akan mempengaruhi banyak industri. Tapi industri terbesar yang akan terpengaruh adalah: manufaktur. Sekitar lima atau enam tahun lalu, istilah “internet fisik” sangat populer di Cina. Saya selalu bilang bahwa istilah ini sebenarnya sama dengan “Internet of Things.” Tapi tampaknya pada saat itu istilah ini tidak sepenuhnya dipahami, dan bahkan hingga sekarang “internet fisik” bukan pasar yang besar. Dengan bangkitnya pasar mobile, banyak orang menyukai teknologi wearable, jadi mereka pikir teknologi ini telah menjadi pasar yang besar. Tapi menurut perspektif kami, saat ini teknologi wearable masih belum menjadi pasar yang besar. Namun, ketika era AI datang, “internet fisik” akan menjadi sebuah pasar yang besar dan benar-benar mengubah industri manufaktur. Saya pikir, di masa depan, semua manufaktur akan menjadi bagian dari industri AI, atau internet of things. Semua produk akan terhubung dalam jaringan untuk mengirim data kecloud. Mereka akan menggunakan AI untuk menganalisis teknologi-teknologi ini dan memberikan nilai nyata yang lebih bagi konsumen. Itu bukan sekadar imajinasi saya, tapi sudah ada sekarang. Contoh yang tepat? Amazon Echo. Kita tidak tahu jumlah pengguna alat yang dari luar tampak seperti sebuah pengeras suara ini. Kita semua tahu seperti apa pengeras suara yang merupakan produk dari manufaktur tradisional. Tapi ketika produk itu diberi kecerdasan buatan, perasaan yang kita dapat akan benar-benar berbeda. Ketika sebuah produk bisa berbicara denganmu, menjawab pertanyaanmu, bernyanyi atau membaca untukmu, dan banyak lagi. Produk ini membebaskan tanganmu dari hal-hal seperti mengetik password, menekan keyboard, dan membuka aplikasi. Kita akan mendapat pengalaman yang benar-benar berbeda. Jika AI bisa mengubah sebuah pengeras suara, maka ia juga bisa menggantikan peran banyak produk yang kamu beli di masa sekarang. Jadi saya pikir AI akan memberikan dampak besar pada industri manufaktur. dan saya pikir kita perlu memberikan perhatian pada pengembangan teknologi AI dan menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan produksi kita. Pengaruh AI pada industri otomotif Ada satu industri lain yang sangat populer beberapa tahun belakangan dan saya rasa akan sangat terpengaruh oleh AI: industri otomotif khususnya mobil. Jika berbicara tentang mobil di era AI, maka ada dua kubu: produsen mobil tradisional, dan perusahaan seperti Google dan Baidu yang mengembangkan mobil tanpa sopir yang sepenuhnya otomatis. Dua kubu ini masing-masing punya alasan logis. Produsen mobil tradisional berpendapat bahwa otomatisasi penuh adalah persoalan teknologi yang sangat sulit. Oleh karena itu tidak akan bisa dipecahkan selama bertahun-tahun, sehingga untuk menuju otomatisasi, kita perlu bergerak secara bertahap. Tesla [dan fitur asisten sopir “Autopilot” miliknya] adalah contoh yang tepat untuk kasus ini. Produsen mobil tradisional semua fokus mengerjakan Advanced Driver Assistance Systems (ADAS). Padahal ADAS bukan 100 persen otomatisasi. Sistem ini bisa menangani banyak situasi umum yang dihadapi mobil tanpa sopir, tapi pada situasi ekstrem, pengemudi masih harus turun tangan. Lalu, apakah ada masalah tentang sistem tersebut? Isu utamanya adalah keselamatan. Hal ini ditunjukkan oleh kecelakaan Tesla baru-baru ini: sang pengemudi berpikir bahwa mobil tersebut bisa sepenuhnya beroperasi tanpa sopir, padahal otomatisasi mobil tersebut tidak bisa menangani situasi ekstrem. Ketika orang mulai mengandalkan otomatisasi, mereka biasanya menurunkan tingkat kewaspadaan. Dan saat kecelakaan terjadi, mereka tidak punya waktu untuk mendapatkan kembali kontrol. Itulah sebabnya isu keselamatan semakin tinggi pada sistem ini dan ini yang menjadi perhatian kami. Tentu, orang juga masih akan tetap khawatir dengan mobil tanpa sopir yang sepenuhnya otomatis. Bagaimana kamu memastikan bahwa mobil ini bisa menangani 100 persen situasi yang mungkin terjadi? Mesin modern bisa mengalahkan juara dunia catur, tapi dalam hal menyetir saya rasa mesin tidak bisa semahir manusia. Karena memproses sesuatu adalah salah satu hal yang sangat kompleks, masalah utama yang perlu dipecahkan adalah AI, atau khususnya penglihatan komputer. Manusia bisa melihat jika ada anak kecil berlari di depan mobil, tapi apakah komputer bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah seorang anak kecil? Jika ada sebuah hambatan tak bergerak di depan, apakah AI bisa tahu bahwa itu tak bergerak? Jika sedang hujan, jarak penglihatan kita akan terganggu. Tidak seperti manusia yang masih bisa membedakan penghalang-pengalang yang ada di depan, mesin akan mengalami kesulitan. Semua masalah ini perlu jalan keluar, dan secara teknologi, ini adalah hal yang sangat, sangat sulit. Sebelumnya saya telah berbicara tentang apa yang pemerintah bisa lakukan untuk mempercepat datangnya era mobil tanpa sopir. Salah satu ide berani tentang ini adalah memasang chip logam kecil yang bisa dideteksi oleh mobil otomatis sehingga mereka bisa lebih mudah menghindari pejalan kaki, dan tidak menyebabkan bahaya bagi keamanan atau membunuh orang. Ide ini akan memberikan lebih banyak kesempatan bagi kendaraan tanpa sopir untuk berkembang. Dua cara pengembangan mobil ini masing-masing punya pro dan kontra. Industri mobil di Cina sangatlah besar, mungkin senilai triliunan Yuan, dan sulit untuk mengetahui cara mana yang akan menang. Tapi [di Baidu] kami percaya bahwa era mobil tanpa sopir yang sepenuhnya otomatis akan datang suatu hari nanti. Pengaruh AI pada industri lain Begitulah pengaruh AI pada industri mobil, tapi tidak hanya itu, AI juga akan mengubah industri lain. Contohnya, industri kesehatan dan hiburan yang juga akan mengalami perubahan besar. Belakangan ini perawatan pribadi menjadi sangat populer di dunia kesehatan. Tapi obat mana yang cocok digunakan oleh tiap-tiap individu? Kita perlu menganalisis gen pasien. Gen mana yang serupa, dan apakah orang dengan gen tersebut menderita penyakit yang sama? Obat apa yang sensitif bagi mereka? Ada yang mengatakan bahwa kemoterapi hanya menolong satu dari enam orang; tapi orang yang seperti apa? Para dokter dan teknologi AI medis bisa bekerja sama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Industri hiburan juga akan berubah secara signifikan. Semua orang tahu bahwa virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) akan menjadi bentuk konten masa depan, tapi AR juga menghadapi masalah yang sama seperti yang dimiliki AI dalam hal penglihatan komputer. Ketika kita mengambil gambar video, komputer perlu tahu di mana dan apa yang kita rekam. Teknologi pengenalan suara juga berkembang dengan cepat hingga bisa mengenali dan membedakan kata-kata dari hampir siapapun. Bagaimana hal ini mempengaruhi industri hiburan? Saat ini ketika kita memproduksi sebuah film atau acara TV, kita merekrut aktor terkenal dan mereka harus ada di lokasi pengambilan gambar selama beberapa bulan atau lebih lama. Ketika nanti teknologi suara dan gambar telah sedikit lebih matang, kita tidak perlu lagi merekrut aktor untuk berada di lokasi pengambilan gambar. Yang perlu mereka lakukan hanyalah memberikan wewenang bagi kita untuk menyintesis suara dan menyusun gambar mereka berdasarkan foto. Melalui proses ini, mereka bisa melakukan apapun yang kamu mau. Ketika hal-hal tersebut sudah menjadi kenyataan, maka industri hiburan telah mengalami perubahan yang besar. Apakah prediksi Robin akan menjadi kenyataan? Perubahan seperti apa yang kamu harapkan bisa dilakukan oleh AI?
BIGO LIVE Sikat Konten Pornografi dengan Manfaatkan Kecerdasan Buatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia sempat memblokir tujuh belas Domain Name System (DNS) dan sub DNS yang terkoneksi dengan alamat IP BIGO LIVE pada 1 Desember 2016. Meski pemblokiran itu tidak berpengaruh pada para pengguna yang mengakses layanan melalui aplikasi mobile, pihak BIGO LIVE tetap menganggap pemblokiran tersebut sebagai masalah serius. BIGO LIVE tidak berdiam diri setelah mengalami masalah pemblokiran DNS. Mereka bereaksi cepat dengan mengoptimalkan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk memblokir pornografi maupun konten negatif lainnya. Akurasi teknologi AI yang diterapkan BIGO LIVE dalam memblokir konten negatif diklaim terus mengalami peningkatan, dari sebelumnya hanya 90 persen menjadi 94 persen. AI akan mempelajari konten-konten yang mengarah ke hal negatif, sehingga membuat akurasinya semakin meningkat dalam melakukan pemblokiran. Teknologi AI juga akan memberikan peringatan pada pengguna yang mulai menyiarkan konten negatif sehingga berfungsi sebagai alat pencegahan. Selain mengandalkan teknologi AI, pihak BIGO LIVE juga melakukan pengawasan secara manual dengan memperkerjakan tiga ratus karyawan di Cina yang bertugas memonitor siaran para penggunanya selama 7 x 24 jam. Ketatnya penyaringan konten yang dilakukan BIGO LIVE mulai berdampak pada para pengguna aktifnya. Valen Fan selaku Marketing Country Manager Bigo Technology Pte. Ltd. beberapa waktu lalu mengungkap bahwa pengguna aktif BIGO LIVE menurun sekitar tiga puluh persen sejak penyaringan ketat ini diterapkan. Menurut Valen, pihaknya tak mempermasalahkan hal tersebut karena BIGO LIVE ingin mendorong penggunanya menyiarkan konten positif seperti memamerkan bakat, bernyanyi, dan sebagainya. “Jika bicara tentang pengguna aktif, menurun tiga puluh persen. Itu bukan pengguna yang kami inginkan. Jika datang ke sini (BIGO LIVE) untuk konten pornografi, kami tak bisa melakukannya. Sekarang orang yang mengakses BIGO LIVE sudah menyukai konten lain, seperti bernyanyi, talent show, talk show, mengobrol, kegiatan outdoor, dan sebagainya,” kata Valen. Lantaran saat ini mulai sulit menemukan konten yang mengumbar syahwat, beberapa pengguna di Indonesia yang mungkin terkejut dengan kebijakan baru BIGO LIVE menumpahkan pendapatnya melalui kolom komentar di Google Play Store. “User kita di Indonesia mulai berkomentar. Kenapa? Karena mereka tak bisa lagi menemukan konten pornografi. Menyiarkan pornografi akan diblokir. Jika melihat Google Play, kamu bisa lihat komentar yang sangat lucu, (seperti) ‘Kenapa BIGO LIVE tidak ada pornografi lagi?'” kata Valen. Gift Bakal Hangus BIGO LIVE menjadi sangat populer belakangan ini lantaran para penyiar bisa menerima gift atau hadiah dari para pemirsanya. Bila sudah mencapai poin tertentu, hadiah itu bisa dicairkan dalam bentuk uang.Menurut Valen, ada orang yang memang menyiarkan konten positif, namun ada juga yang mengambil jalan pintas dengan menyiarkan konten negatif seperti pornografi. Bagi pengguna yang masih nekat menyiarkan konten pornografi, BIGO LIVE akan memblokir akun mereka secara permanen dan poin yang mereka dapatkan tak akan bisa dicairkan. “Mereka yang melakukan pornografi secara live pasti kami blokir. Kalau sudah diblokir, Beans (hadiah) dan lainnya hilang … jika mereka melakukan hal yang buruk, mereka tak akan mendapat apa pun,” tegas Valen. Bila sebuah akun di BIGO LIVE sudah diblokir permanen, maka cukup ribet bagi seorang pengguna untuk membuat akun baru. Pengguna tersebut tak bisa membuat akun baru hanya dengan mengganti kartu SIM, karena mereka harus mengganti ponsel yang digunakan demi bisa membuat kembali akun di BIGO LIVE. Hukuman pemblokiran akun secara permanen seharusnya membuat para penyiar di BIGO LIVE berpikir dua kali ketika berniat menyiarkan konten negatif, mengingat mereka harus keluar modal yang cukup lumayan demi membuat akun baru. Menurut kamu, apakah aturan yang diterapkan oleh BIGO LIVE efektif dalam mengurangi atau bahkan menghilangkan pornografi serta konten negatif lainnya?
Inteligensi Buatan, Ketika Fiksi Menjadi Nyata Setelah sekian lama, Skynet akhirnya berhasil dikalahkan pada awal bulan Juli lalu. Sungguh merupakan perjuangan yang panjang bagi umat manusia untuk akhirnya bisa terbebas dari teror rasa takut dan ancaman kepunahan. Seandainya bukan karena post-credit scene yang menunjukan bahwa Genysis masih hidup, kisah Terminator kita yang dimulai sejak tahun 1984 pasti sudah berakhir. Untungnya, Terminator hanyalah fiksi. Bukannya dikejar-kejar oleh robot humanoid milik Skynet, kita justru menikmati peperangan tersebut sebagai hiburan. Saya tidak pernah menonton serial TVnya, tapi 5 buah film layar lebar Terminator selalu membuat saya penasaran dengan kemungkinan diciptakannya Inteligensi Buatan (Artificial Intelligence [ AI]), dan bagaimana hal tersebut akan berdampak secara nyata. Selain Terminator, ada beberapa film layar lebar lainnya yang berusaha menggambarkan masa depan di mana keberadaan AI dapat terealisasikan. Akan tetapi, saat ini masa depan yang seperti itu mungkin saja sudah ada di tangan kita. Google sudah mengembangkan AI yang bukan hanya mampu menganalisis bagaimana pusat data mereka “berperilaku” dan kemudian mengatur pusat data tersebut, tapi juga berkembang secara intelektual dengan mempelajari data melalui jaringan pusat data Google dan interaksi virtual dengan manusia. Sebagaimana telah diberitahukan oleh pihak Google, AI yang mereka ciptakan dapat bermimpi seperti manusia. AI tersebut dalam mimpinya menghasilkan gambar-gambar abstraktif berdasarkan data-data yang sudah dipelajarinya. Definsi “mimpi” di sini tentunya cukup berbeda dengan mimpi dalam tidur kita sehari-hari karena mesin tidak sungguh-sungguh tertidur. Gambar-gambar abstraktif yang ada tergantung pada lapisan jaringan saraf artificial (layer of Artificial Neural Network [ANN]) — piranti lunak yang terdiri dari nodus yang saling terhubung (interlinked nodes), yang berdasarkan model dari struktur biologis otak — yang bisa kita pilih lapisan mana yang mau kita tingkatkan aktivitasnya. Setiap jaringan memiliki 10-30 lapisan, dan mereka berfungsi dengan tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, lapisan yang lebih rendah memproyeksikan abstraksi sederhana karena lebih sensitif terhadap pola sederhana seperti sudut dan orientasi/arah, sedangkan lapisan yang terletak pada level lebih tinggi berfungsi untuk memproduksi fitur kompleks dan objek secara keseluruhan. Ketika tim proyek AI ini mengobservasi lebih detil terhadap apa yang terjadi pada setiap lapisan, mereka menemukan bahwa data yang diproses pada setiap lapisan diinterpretasikan secara beragam. Hal ini juga menghasilkan gambar-gambar yang sangat berseni dan juga mirip dengan imajinasi anak-anak atau dengan pareidolia (menganggap gambar atau pola-pola acak mirip seperti wajah). Seperti otak kita yang mengasosiasikan informasi terhadap satu sama lain pada setiap strukturnya, kemudian secara metafora ditunjukan melalui mimpi, demikian pula bagaimana ANN melihat dunia. Contohnya, awan dapat terlihat seperti burung atau domba. Jaringan saraf artificial ini merupakan algoritma yang terkomputerisasi yang dapat membaca suatu pola dan membuat keputusan berdasarkan pola tersebut. ANN ini tidak semata-mata mengimitasi inteligensi otak manusia, tapi sebagai sebuah mesin ANN dapat bekerja lebih cepat dan efisien daripada kebanyakan otak manusia. Beberapa tahun lalu, keberadaan AI hanyalah sebuah fiksi ilmiah yang mungkin tidak kita ekspektasikan akan menjadi nyata. Mirip seperti ketika tidak ada orang yang percaya Benjamin Franklyn dapat “menjinakan” petir dengan memahami karakteristik dari listrik, atau seperti ketika Wright bersaudara dapat menciptakan kendaraan terbang. Semuanya berawal dari fiksi ilmiah yang kemudian berubah menjadi fakta. Sejak Alan Turing menciptakan mesin yang dapat memecahkan kode Enigma pada Perang Dunia kedua, yang mana mesin ini merupakan embrio dari yang sekarang kita sebut sebagai komputer, kemajuan teknologi kita saat ini sudah jauh sekali dibandingkan dengan apa yang para pendahulu kita bisa bayangkan. Apabila kita bisa membawa penemuan-penemuan kita saat ini ke masa lalu, mereka mungkin akan menganggap kita sebagai nabi yang mempraktikkan mukjizat atau sihir. Mungkin terdengar paranoid kalau saya bilang sangat mungkin suatu hari nanti AI yang sedang dikembangkan dapat menjadi terlalu cerdas dan bisa melampaui manusia, kemudian seperti Skynet berusaha meneliminasi manusia. Secara realistis, memang AI yang saat ini dikembangkan hanyalah mesin elektronik dan berpikir berdasarkan kode algoritma. Mesin ini tidak dapat berbuat apa-apa tanpa manusia mengoperasikannya. Pun demikian, seandainya ada hal yang harus kita pelajari dari sejarah fiksi ilmiah, adalah bahwa fiksi yang ada tersebut cukup ilmiah untuk bisa menjadi kenyataan. Bahkan Lubang Hitam (Black Hole) yang Einstein awalnya bilang hanyalah sebuah hipotesis dan tidak mungkin sungguh-sungguh ada, beberapa tahun kemudian dia harus menyesal pernah mengatakannya setelah ditemukan melalui Teleskop Hubble bahwa Lubang Hitam memang ada. Seberapa jauh sebuah perkembangan teknologi dapat dikategorikan sebagai aman dan tidak merusak? Haruskan ada pembatasan terhadap sejauh apa orang-orang diizinkan untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka? Apakah ada parameter di mana sebuah perkembangan ilmu pengetahuan dikatakan melanggar nilai-nilai moral? Akan sangat merepotkan apabila kita berujung menciptakan AI seperti Skynet. Seolah kita tidak menunggu hari penghakiman (Judgment Day) yang ditentukan oleh Tuhan, tetapi kita sendiri yang menyebabkannya melalui AI. Tentunya kita berharap banyak keajaiban baru melalui perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat memajukan peradaban umat manusia dan mempermudah keseharian kita, dan pekerjaan kita dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Akan tetapi, mungkin seringkali kita melupakan risiko yang mengintai di balik kemajuan sains, seperti dinamit yang diciptakan oleh Alfred Nobel pada 1867 dengan tujuan untuk membantu pertambangan, tapi justru disalahgunakan untuk membunuh. Hal ini merupakan pertanyaan filosofis yang pada akhirnya hanya bisa terjawab secara retrospektif, yang mungkin bisa kita tanyakan kepada AI itu sendiri. Chatbot yang dikembangkan oleh Oriol Vinyal dan Quoc Le di Google dapat berbincang-bincang dengan memprediksi kalimat berikutnya dari kalimat yang sudah diberikan sebelumnya, atau kalimat-kalimat yang ada di keseluruhan percakapan. Chatbot ini mengatakan bahwa tujuan dari hidup adalah untuk melayani demi manfaat dan kebaikan yang lebih besar, dan tujuan dari kematian adalah untuk memiliki hidup. Chatbot ini juga berpendapat bahwa tujuan menjadi cerdas adalah untuk menemukan tujuan kecerdasan itu sendiri. Mungkin sama halnya seperti kita, Inteligensi Buatan akhirnya akan mencari alasannya mengapa dia diciptakan dengan kecerdasan sedemikian rupa, dengan melayani untuk manfaat dan kebaikan yang lebih besar sebagaimana ia ungkapkan.
Perjalanan Layanan Konsultasi Berbasis Chat Buatan Bridestory, Hilda Ikhtisar Dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan lewat aplikasi Hilda, Bridestory akhirnya paham bahwa para pengguna sebenarnya ingin dipilihkan vendor terbaik, dan berbuah fitur Find Me Vendor Ke depannya Bridestory akan menghadirkan fitur kecerdasan buatan di dalam Hilda Sebagai marketplace vendor pernikahan, bisnis Bridestory berkembang dengan cukup baik sejak didirikan pada tahun 2014 yang lalu. Saat ini mereka telah mempunyai tiga puluh ribu vendor pernikahan, dengan kunjungan bulanan mencapai lima ratus ribu. Mereka pun tidak hanya beroperasi di Indonesia, namun juga di Singapura dan Filipina. Meski begitu, mereka pun terus berusaha untuk menambah layanan, salah satunya dengan menghadirkan layanan konsultasi pernikahan berbasis chat yang bernama Hilda. Lewat layanan tersebut, mereka menyiapkan sejumlah konsultan pernikahan yang bisa memandu para pengguna untuk menemukan vendor yang tepat. Bagaimana sebenarnya perkembangan layanan yang mulai diluncurkan pada bulan April 2016 tersebut hingga kini? Berikut penjelasan dari Lead Engineer Bridestory Tirmidzi Faizal Aflahi. Versi beta yang fokus pada pemberian voucer Pada awalnya, Bridestory menghadirkan Hilda sebagai sebuah aplikasi baru yang terpisah dengan aplikasi mobile mereka. Hal ini mereka lakukan agar layanan baru tersebut bisa langsung mereka hapus apabila gagal. Kami pun tidak ingin mengganggu stabilitas dari aplikasi mobile kami. Karena layanan chat jelas mempunyai karakter yang berbeda dengan aplikasi biasa,” jelas Tirmidzi. Untuk menarik pengguna, Bridestory pun memberikan harga lebih murah untuk layanan yang pengguna pesan lewat Hilda. Mereka mulai memberikan beberapa pertanyaan kepada pengguna, yang nantinya akan menentukan vendor seperti apa yang cocok untuk mereka. Fitur ini mereka beri nama Wedding Brief. Kami pun tidak ingin mengganggu stabilitas dari aplikasi mobile kami. Karena layanan chat jelas mempunyai karakter yang berbeda dengan aplikasi biasa Menurut Tirmidzi, aplikasi tersebut terbukti bisa bertahan dengan jumlah pengguna yang mencapai sekitar lima ribu orang, meski baru enam bulan didirikan. Para konsultan pernikahan pun bisa menerima hingga 150 pesan per hari lewat aplikasi tersebut. Pengguna yang tidak terlalu memikirkan harga Dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan lewat aplikasi Hilda, Bridestory akhirnya paham bahwa para pengguna sebenarnya ingin dipilihkan vendor terbaik. Itulah mengapa mereka menghadirkan fitur Find Me Vendor di pembaruan aplikasi tersebut di akhir tahun 2016. “Sejak saat itu, konversi pengguna yang akhirnya memesan vendor dari kami naik sekitar tiga puluh persen,” jelas Tirmidzi. Namun di saat yang sama, Bridestory juga mengetahui kalau para pengguna mereka ternyata tidak terlalu memikirkan soal diskon ketika memilih vendor. Mereka hanya ingin vendor tersebut memberikan layanan terbaik, sesuai yang mereka harapkan. Gabungkan aplikasi Hilda dengan Bridestory Setelah merasa bahwa Hilda memang mempunyai potensi yang baik, Bridestory pun menyatukan layanan chat tersebut di aplikasi utama mereka pada pertengahan tahun 2017 ini. Dalam waktu yang sama, mereka pun mulai menetapkan biaya konsultasi sebesar Rp5 juta yang harus dibayarkan di awal. Dengan langkah tersebut, layanan Hilda pun mengalami kenaikan jumlah pesan yang masuk sebesar tiga ratus persen. Setiap harinya, mereka bisa menerima sekitar tiga ratus pengguna baru yang ingin menggunakan layanan tersebut. “Ke depannya, kami juga ingin menambahkan fitur kecerdasan buatan di dalamnya, agar kami bisa menjawab lebih banyak pertanyaan pengguna. Saat ini sendiri tim konsultan pernikahan kami masih di bawah sepuluh orang,” pungkas Tirmidzi.
Panduan Pemula dalam Memahami Machine Learning, Deep Learning, dan AI Perkenalkan, ini Samantha. Ia adalah asisten pribadi kamu yang datang dari tahun 2025. Ia bisa memilah email, mengatur perencanaan rapat, bahkan memesan kebutuhan harian kamu. Ia juga dapat melukis maupun merangkai puisi. Ia teman terbaikmu. Ia merupakan kecerdasan buatan (AI) dari film Her, yang menggambarkan bagaimana Siri, dengan kemampuan yang telah jauh lebih ditingkatkan, dapat mengubah kehidupan manusia. Saat ini, perusahaan teknologi berskala besar maupun kecil berlomba-lomba untuk mewujudkan hal tersebut. Kamu pun pasti pernah membaca berita mengenai ini. Kamu juga pasti pernah mendengar jargon seperti AI, pembelajaran mesin (machine learning), deep learning, jaringan saraf (neural networks), atau pemrosesan bahasa alami (natural language processing). Mungkin kedengarannya sedikit membingungkan. Oleh karena itu, mari kita simak penjelasan dasar mengenai konsep ini dan keterkaitannya. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan buatan atau AI. Sederhananya, AI adalah suatu cara untuk menjadikan komputer berpikir secerdas atau melampaui kecerdasan manusia. Tujuannya adalah agar komputer dapat memiliki kemampuan untuk berperilaku, berpikir, dan mengambil keputusan layaknya manusia. Ada dua macam kecerdasan buatan: AI dengan kemampuan terbatas, atau AI lemah AI jenis ini dirancang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sederhana. AI macam ini sudah ada di sekitar kita dan mereka bahkan mampu mengalahkan manusia dalam permainan catur, Jeopardy! (acara kuis di AS), dan yang terbaru, Go. Asisten digital seperti Siri dan Cortana mampu memberi kita kabar mengenai cuaca. Selain itu mobil kendali otomatis juga sudah berseliweran di jalanan. Namun, kemampuan mereka terbatas. Mobil kendali otomatis tak dapat diajak bermain catur. Siri tak dapat membaca dan menghapus email tidak kamu perlukan. Kemampuan AI di level ini sangatlah terbatas dan tak mampu melakukan suatu hal di luar program orisinalnya. AI dengan kemampuan tak terbatas atau AI kuat Dari titik ini kita mulai memasuki ranah fiksi ilmiah. Samantha merupakan definisi yang paling pas untuk mendeskripsikan hal ini. Ia dapat mempelajari hal-hal baru dan memodifikasi basis kodenya sendiri. Ia dapat mengalahkanmu dalam permainan catur dan dapat menjadi sopir pribadi kamu. Anatomi AI Kini kamu paham bahwa AI dengan kemampuan tak terbatas adalah tujuan akhirnya. Bagaimana kita sampai ke sana? Ada lima hal yang perlu dikuasai AI tersebut: 1. Persepsi: Layaknya manusia, sebuah komputer memerlukan panca indra untuk berinteraksi dengan dunia. Namun, pada komputer jumlahnya bisa lebih dari lima. Komputer dapat dilengkapi dengan indra yang tak dimiliki manusia. Penglihatan maupun pendengaran yang luar biasa? Semuanya dapat terwujud lewat bantuan mesin. 2. Pemrosesan bahasa alami (NLP): Selain kemampuan pengindraan, AI juga harus mampu menyampaikan bahasa secara lisan maupun tulisan. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi kalimat dan memahami perbedaan, aksen, dan maknanya. Ini adalah tugas yang sangat sulit bagi mesin, mengingat kalimat yang sama dapat mengandung arti yang berbeda-beda tergantung pada konteksnya. 3. Menyampaikan pengetahuan: Setelah AI mampu mengindra berbagai hal—objek, manusia, konsep, kata, dan simbol matematika—AI harus menemukan cara untuk menyampaikan segala informasi di dunia lewat pemikirannya sendiri. 4. Pengambilan keputusan: Setelah AI mengumpulkan data lewat indranya dan menghubungkan konsep yang ada, AI dapat menggunakan data-data tersebut untuk memecahkan masalah secara logis. Contohnya, perangkat lunak permainan catur dapat mengidentifikasi pergerakan yang dilakukan pemain manusia dan kemudian melancarkan strateginya sendiri 5. Perencanaan dan pemetaan: Untuk menjadi lebih manusiawi, AI tak bisa hanya berpikir seperti manusia. Ia harus hadir diantara kita. Oleh karenanya, para peneliti mencari cara untuk membantu AI memetakan dunia tiga dimensi dan merencanakan rute paling efektif. Kemampuan yang ada pada mobil kendali otomatis jelas harus semakin ditingkatkan, sebab satu kesalahan saja dapat membahayakan nyawa manusia. Kamu dapat menemukan keterkaitan antara kelima hal ini dalam ranah tertentu seperti machine vision, yakni bidang yang digunakan dalam melakukan pencitraan dan analisisnya untuk menyelesaikan permasalahan. Contohnya Facebook, yang mempelajari foto-foto yang kamu unggah di media sosial mereka untuk menyarankan siapa saja yang harus kamu tag. Uniknya, hasilnya bisa akurat. Mobil kendali otomatis mungkin merupakan implementasi machine vision paling kompleks saat ini. Ia harus mampu mengenali rambu-rambu lalu lintas, mengamati kondisi lalu lintas, dan memerhatikan keberadaan manusia, objek, maupun mobil lainnya. Ia juga harus tetap berfungsi dalam keadaan cuaca dengan visibilitas yang paling buruk sekalipun, siang dan malam, serta di jalanan yang layak maupun tidak layak untuk dilalui. Hal-hal yang diperlukan untuk sampai kesana Sebenarnya ini bukanlah semua konsep yang benar-benar baru. Konsep di atas pernah dipaparkan pada awal tahun 1956 pada konferensi Dartmouth yang kerap diklaim sebagai tonggak ranah informasi di bidang AI. Meski diperlukan waktu berpuluh-puluh tahun hingga teknologi dapat sejajar dengan imajinasi manusia, pada akhirnya kita mungkin sudah berada di ambang revolusi AI, dengan investasi VC yang semakin berlimpah, semakin menjamurnya perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka yang ikut terlibat pada penelitan dan pengembangan, serta semakin banyaknya kegunaan AI dalam kehidupan kita. Salah satu faktor sahih yang berkontribusi terhadap perkembangan AI adalah Hukum Moore, yang memungkinkan terciptanya mikroprosesor dengan kemampuan komputasi yang lebih besar dalam ukuran yang lebih kecil. Kemampuan komputasi telah mencapai titik dimana AI telah berfungsi dengan baik dan harganya juga semakin terjangkau. Big data adalah ranah lain yang ikut berperan dalam kebangkitan AI: Google membuat terobosan pada tahun 2012 kala mereka menciptakan suatu jaringan saraf yang telah disuplai dengan data berukuran sangat besar dan terdiri dari 10 juta video YouTube secara acak. Hasilnya? Jaringan saraf tersebut mampu mempelajari rupa kucing tanpa diajari oleh manusia. Tingkat akurasinya dalam mengidentifikasi hewan berbulu ini mencapai 75 persen.
Pemanfaatan AI dan Machine Learning Pada Perusahaan Untuk Meningkatkan Kualitas Bisnis Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta teknologi machine learning mungkin belum familier di telinga para penggiat teknologi tiga atau empat tahun yang lalu. Tetapi kini, hampir semua perusahaan yang berbasis teknologi berlomba-lomba untuk dapat memanfaatkan potensi dari kedua hal tersebut. AI dan machine learning kini telah mengubah cara bisnis untuk berinteraksi dengan konsumen. Dengan automasi dan personalisasi yang kerap disebut sebagai “the next big thing” di dunia teknologi, namun kini sudah banyak perusahaan yang telah memulai untuk menerapkan machine learning ke dalam bisnis mereka — bahkan sejak teknologi ini belum populer. Pada artikel kali ini, saya akan membahas beberapa perusahaan yang telah berhasil memanfaatkan kekuatan AI dan machine learning di dalam bisnis mereka. IBM Berbicara tentang IBM, mungkin kamu masih ingat momen ketika AI buatan IBM berhasil memenangkan kuis Jeopardy pada tahun 2011. Kini Watson telah jauh berkembang menjadi sebuah teknologi yang dapat mempelajari perilaku secara mandiri. Watson telah membantu manusia untuk mendiagnosis berbagai tipe kanker — bahkan menurut klaim IBM, jauh lebih akurat dibandingkan onkolog biasa. Watson juga kini telah mampu untuk menulis lagu serta memproduksi trailer film sendiri. Ketika Watson diminta untuk mengobati kanker, ia mampu untuk membaca setengah juta hasil riset medis hanya dalam waktu lima belas detik. Hasilnya? Watson diminta untuk menjadi penasihat di salah satu rumah sakit di New York, untuk membantu dokter mendiagnosis serta melakukan tindakan yang tepat untuk berbagai kasus. Watson didesain untuk mengonsumsi data dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari cara otak manusia untuk mengonsumsi informasi. Berdasarkan data yang ada, Watson akan mengolahnya, mempelajarinya, dan mempraktekkan kemampuan yang biasanya dilakukan oleh manusia. Dengan kecepatan pemrosesan yang demikian cepat, Watson diharapkan dapat membantu bisnis untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang mereka hadapi dengan cepat serta mengubah cara bisnis untuk menggunakan data dalam setiap keputusan yang mereka gunakan. Netflix Salah satu contoh penggunaan kecerdasan buatan di Netflix adalah dengan merekomendasikan Black Mirror atau serial dan film lain kepada audiens, memanfaatkan data perilaku pengguna mereka. Berkat teknologi ini, Netflix mampu meraup hingga US$1 miliar (sekitar Rp14,2 triliun) selama satu tahun karena mereka berhasil memberikan konten yang tepat kepada penggunanya. Selain itu, Netflix juga menggunakan sebuah algoritme khusus yang bernama Dynamic Optimizer untuk menganalisis setiap frame dalam sebuah serial atau film yang ditonton penggunanya. Ini dilakukan agar Netflix dapat menyajikan konten dengan kecepatan terbaik tanpa mengurangi kualitas video yang ada. Dengan bantuan Dynamic Optimizer, Netflix mampu menghadirkan seluruh konten yang mereka miliki dengan kualitas maksimum, tanpa khawatir akan kecepatan internet dari pengguna mereka. Google Mungkin sebagian besar dari kita tidak akan heran apabila anak perusahaan dari Alphabet ini masuk ke dalam daftar kali ini. Beberapa tahun belakangan, Google kini telah melebarkan sayap mereka ke berbagai industri, seperti teknologi anti-aging, peralatan medis, dan yang mungkin paling menarik bagi mereka para penggiat teknologi — neural network. Yang paling terlihat dari berbagai pengembangan dan riset Google terhadap neural network belakangan ini adalah DeepMind network, sebuah mesin yang dapat “bermimpi”. Teknologi ini adalah yang juga digunakan Google Deep Dream untuk mengolah gambar biasa menjadi sebuah gambar yang “psychedelic” memanfaatkan berbagai objek yang ada di internet. Menurut Google, perusahaan ini berusaha untuk “meneliti seluruh aspek dari machine learning”. Ini membuat mereka juga mengembangkan berbagai algoritme klasik — yang digunakan pada produk mereka yang lain, seperti Natural Language Processing, penerjemah suara dan tulisan, sistem prediksi, dan tentu saja mesin pencari mereka. Baidu Seakan tidak mau ketinggalan dari Google, Baidu juga memiliki ambisi tersendiri ketika mereka menginvestasikan sumber daya yang ada ke dalam berbagai pengaplikasian kecerdasan buatan. Selain memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas mesin pencari mereka, Baidu juga mengembangkan berbagai produk AI — yang salah satunya adalah Deep Voice. Deep Voice adalah sebuah teknologi yang dikembangkan oleh Baidu, yang memungkinkan sebuah deep neural network untuk dapat menghasilkan suara manusia secara sintesis dari data yang didapat oleh mesin. Suara manusia ini memiliki tingkat kemiripan yang cukup tinggi, menjadikannya sulit dibedakan dengan suara bicara dari manusia biasa. Teknologi ini juga mampu untuk mempelajari keunikan yang ada pada suara dan memproduksi kembali suara tersebut dengan akurasi yang hampir sempurna. Deep Voice 2 — iterasi terbaru dari teknologi Deep Voice — menjanjikan dampak yang lebih mendalam pada natural language processing, teknologi yang ada di belakang fitur pencarian suara dan sistem pengenalan suara. Penerapan Deep Voice 2 ini mengambil bagian besar untuk pengembangan teknologi pencarian suara, serta berbagai penggunaan lain yang potensial, seperti kemampuan untuk menerjemahkan suara secara real-time serta sistem keamanan biometrik. Kini, Baidu tengah mengembangkan Deep Voice 3, sebuah arsitektur neural network teranyar mereka yang memungkinkan Baidu untuk membuat suara sintesis memanfaatkan ribuan macam suara manusia yang ada di seluruh dunia — dengan kemampuan yang lebih cepat dibanding Deep Voice 2. Pinterest Tidak peduli apakah kamu adalah seorang pengguna rutin atau belum pernah menggunakan situs web mereka sebelumnya, Pinterest adalah salah satu tempat yang menarik untuk dijelajahi di ranah maya. Karena fungsi utama dari media sosial ini adalah untuk mengurasi konten yang telah ada, adalah langkah yang tepat bagi Pinterest untuk berinvestasi di teknologi yang menjadikan proses kurasi menjadi lebih efektif. Inilah awal dari perjalanan Pinterest dalam memanfaatkan machine learning di bisnis mereka. Pada tahun 2015, Pinterest mengakuisisi Kosei, sebuah perusahaan machine learning yang memiliki spesialisasi untuk mengaplikasikan sistem tersebut untuk keperluan komersil. Secara khusus, Kosei membuat algoritme untuk memungkinkan pengguna menemukan konten yang lebih relevan lewat berbagai rekomendasi yang diberikan. Kini, machine learning telah menyentuh seluruh aspek yang ada pada bisnis Pinterest. Dari mulai pengelolaan spam, konten, dan iklan, hingga mengurangi angka churn pada pengguna mereka yang berlangganan newsletter. Beberapa perusahaan di atas adalah contoh dari sekian banyak bisnis yang berhasil memanfaatkan AI dan machine learning untuk meningkatkan kualitas bisnisnya — sekaligus kualitas hidup manusia secara luas. Bagi kamu yang sedang mengelola atau menjalankan sebuah bisnis, mungkin sekarang adalah saat yang tepat bagi kamu untuk memanfaatkan kekuatan dari kecerdasan buatan untuk meningkatkan kualitas serta menghadirkan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi pengguna.
Bos AI Google: Machine Learning dengan Prasangka adalah Bahaya Sesungguhnya Ikhtisar Kepala Pengembangan AI Google John Giannandrea mengutarakan kecemasannya akan bahaya machine learning. Jika dikembangkan dengan data serta algoritme yang bias, dapat berakibat hasil keputusan yang tidak adil Kepala Pengembangan AI di Google John Giannandrea, dalam sebuah konferensi yang membahas hubungan antara manusia dan kecerdasan buatan, mengutarakan kecemasannya terhadap potensi bahaya yang dimiliki oleh AI. Disadur dari pemberitaan MIT Technology Review, bahaya AI menurutnya bukanlah berasal kemungkinan senjata pembunuh otomatis. “Bahaya keamanan yang sesungguhnya, jika Anda ingin menyebutnya demikian, adalah ketika kita memberikan data yang bias kepada sistem machine learning, mereka akan menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak adil,” tuturnya. Giannandrea memiliki alasan yang cukup kuat mengapa kita perlu mengkhawatirkan hal ini, mengingat peran AI sebagai pengambil keputusan akan semakin signifikan di masa mendatang. Dalam merancang sebuah machine learning, seseorang harus memiliki pemahaman yang dalam terhadap masalah yang akan dihadapi, apalagi ketika kita berbicara tentang bidang yang sangat krusial seperti medis atau hukum. “Sangat penting bagi seorang developer untuk berlaku transparan saat merancang machine learning. Mereka harus bisa menjelaskan data apa saja yang digunakan untuk melatih AI tersebut. Jika tidak, AI yang mereka bangun berisiko memiliki prasangka,” lanjut Giannandrea. “Jika seseorang menjual kepada kamu sebuah AI black box (sistem tanpa dokumentasi dan cara kerja yang jelas) untuk pengambilan keputusan medis, saya tidak akan mempercayai hasil dari sistem tersebut.” COMPAS, bukti nyata bahaya machine learning Nyatanya, model machine learning dengan sistem black box sudah memiliki dampak yang cukup besar pada hidup sebagian orang. Machine learning bernama COMPAS besutan perusahaan bernama Northpointe menawarkan sebuah sistem yang mampu memprediksi kemungkinan seorang narapidana kembali melanggar hukum. Northpointe tentu tetap menjaga kerahasiaan cara kerja sistem COMPAS sebagai bentuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual mereka. Tetapi sebuah investigasi dari ProPublica menemukan bukti bahwa model yang digunakan COMPAS terindikasi tidak adil bagi kaum minoritas. Seruan bahaya AI dari berbagai pihak Giannandrea bukanlah satu-satunya figur penting yang menyerukan potensi bahaya AI di masa mendatang. CEO SpaceX dan Tesla Elon Musk terbilang cukup vokal dalam menyerukan pendapatnya tentang bahaya AI yang menurutnya, lebih berbahaya ketimbang bahaya Korea Utara. Tidak tanggung-tanggung, Musk memprediksi bahwa AI bakal menjadi penyebab utama Perang Dunia ketiga. Perihal potensi bahaya tersebut, Giannandrea berharap agar orang-orang tidak ambil pusing. “Saya tidak setuju dengan ide tentang munculnya kecerdasan buatan super yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia. Saya mengerti mengapa orang mencemaskan hal ini, tetapi saya rasa kita terlalu banyak memberikan mereka kredit. Saya tidak melihat adanya lompatan teknologi yang menyebabkan hal tersebut [Perang Dunia AI] menjadi mendesak.”
Akuisisi AI “Adik” Siri, Samsung Tantang Apple dan Google Pada bulan Mei 2016 yang lalu, Dag Kittlaus dan Adam Cheyer yang merupakan sosok di balik pembuatan Siri, memperkenalkan sebuah software kecerdasan buatan (AI) baru yang bernama Viv. Kittlaus bahkan mengklaim kalau Viv bisa mengungguli kemampuan “sang kakak” yang kini tertanam di jutaan perangkat iPhone dalam beberapa hal. Namun, pada tanggal 6 Oktober 2016 ini, produsen smartphone Samsung mengumumkan kalau mereka telah mengakuisisi Viv dengan nominal yang tidak disebutkan. Hal ini diyakini merupakan usaha Samsung untuk tetap bisa bersaing dengan Siri, Google Assistant, Cortana milik Microsoft, serta Alexa yang dibuat oleh Amazon. Selama ini, Samsung merupakan satu-satunya produsen smartphone yang mampu menantang keperkasaan Apple. Untuk melakukannya, Samsung mengandalkan spesifikasi smartphone yang mumpuni, desain produk yang baik, serta kemampuan canggih dari sistem operasi Android yang mereka gunakan. Sayangnya, Samsung saat ini tengah menghadapi sebuah ancaman. Selain isu meledaknya produk smartphone terbaru mereka, Google yang selama ini mereka anggap sebagai mitra kini justru berubah menjadi calon pesaing. Hal ini ditunjukkan dengan peluncuran smartphone “buatan” Google yang bernama Pixel. Samsung sebenarnya telah berusaha mengantisipasi hal tersebut. Itulah alasan mereka kini mulai gencar mempopulerkan sistem operasi milik mereka, Tizen. Tampaknya, Samsung menyadari bahwa untuk tetap bertahan di bisnis smartphone, mereka juga harus membuat sendiri software yang berada di balik smartphone tersebut. Dengan kehadiran Viv, Samsung kini punya “senjata” yang kian lengkap untuk menantang Apple dan Google. Mereka bahkan bisa menambahkan Viv ke dalam platform Internet of Things (IoT) SmartThings yang telah mereka akuisisi pada tahun 2014 dengan nilai US$200 juta (sekitar Rp2,6 triliun). “Samsung menjual 500 juta perangkat setiap tahun. Jika kamu melihat bagaimana kesiapan kami untuk mengembangkan distribusi, tampaknya wajar apabila visi kami dan Samsung bisa sejalan,” ujar Kittlaus. Menarik untuk ditunggu bagaimana Samsung akan memanfaatkan Viv dalam produk-produk mereka. Besar kemungkinan kalau kita akan segera melihat sebuah produk Samsung dengan sistem operasi Tizen dan kecerdasan buatan Viv di dalamnya.
Gandeng Kata.ai dan Accenture, Telkomsel Hadirkan Layanan Chat Bot Bernama Veronika Ikhtisar Chat bot Veronika memungkinkan kamu untuk menukar (redeem) Telkomsel Poin mengecek dan mengisi ulang pulsa, membayar tagihan, membeli paket data, melaporkan keluhan, dan membuat janji datang ke Grapari. Ke depannya, layanan chat bot ini juga akan dilengkapi dengan kemampuan untuk menerima perintah dalam bentuk suara. Pada tanggal 17 Agustus 2017 yang lalu, perusahaan telekomunikasi tanah air Telkomsel mengambil langkah yang cukup berani dalam hal pelayanan pelanggan. Bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia tersebut, mereka menghadirkan layanan chat bot yang bisa melayani para pelanggan mereka lewat Facebook Messenger, LINE, hingga Telegram. Chat bot tersebut mereka beri nama Veronika. Untuk menghadirkan layanan ini, Telkomsel menggandeng perusahaan konsultasi Accenture dan startup tanah air yang bergerak di bisnis chat bot, yaitu Kata.ai. Telkomsel pun menjadi perusahaan telekomunikasi pertama di Asia Tenggara yang menghadirkan layanan seperti ini. Veronika sendiri merupakan layanan yang bisa memudahkan kamu dalam menukar (redeem) Telkomsel Poin, mengecek dan mengisi ulang pulsa, membayar tagihan, serta membeli paket data. Selain itu, kamu pun bisa memanfaatkan Veronika untuk membuat janji datang ke Grapari, hingga melaporkan keluhan. Untuk berkomunikasi dengan Veronika, kamu bisa menggunakan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Saat ini, Veronika memang masih mengharuskan kamu untuk mengetik. Namun ke depannya, layanan chat bot ini juga akan dilengkapi dengan kemampuan untuk menerima perintah dalam bentuk suara. “Kami berharap keunggulan dari teknologi kecerdasan buatan ini tak hanya bisa meningkatkan efisiensi dari proses penanganan keluhan pelanggan, namun juga bisa meningkatkan pendapatan Telkomsel dari berbagai produk mereka,” tutur Irzan Raditya, CEO dan co-founder dari Kata.ai, kepada Tech in Asia Indonesia. Kata.ai sendiri merupakan startup yang memang fokus menghadirkan layanan chat bot untuk pelanggan korporat. Saat berdiri pertama kali pada tanggal 2 Juni 2015, mereka sebenarnya muncul dengan nama YesBoss dengan layanan utama berupa asisten virtual untuk pelanggan individual (B2C). Mereka pun memutuskan untuk menutup layanan tersebut dan beralih ke pasar B2B pada bulan Oktober 2016. Selain dengan Telkomsel, Kata.ai juga telah bekerja sama dengan Unilever dalam pengembangan layanan chat bot yang bernama Jemma. Di Indonesia sendiri, telah ada beberapa startup yang juga menghadirkan layanan chat bot, seperti Bang Joni. Berbeda dengan Kata.ai, Bang Joni justru menghadirkan layanan untuk pengguna individu dan juga bisnis (B2C dan B2B). Menarik untuk ditunggu bagaimana kedua startup ini berusaha mendorong penggunaan teknologi chat bot yang masih relatif baru di tanah air.
Artificial Intelligence, Media Sosial, dan Masa Depan Pemasaran Digital Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini memungkinkan komputer, robot, hingga software bisa berpikir layaknya manusia. Kemampuan yang ditanamkan pada AI ini berdasar pada penelitian yang dilakukan terhadap cara otak manusia bekerja, bagaimana manusia belajar, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah. AI juga rupanya memberikan banyak keuntungan bagi media sosial. Beberapa platform besar telah menginvestasikan cukup banyak waktu dan uang untuk meneliti potensi AI.Linkedin mengakuisisi Bright.com pada 2014 karena teknologi machine learning miliknya. Mereka percaya teknologi Bright.com bisa meningkatkan akurasi pemberian rekomendasi karyawan ataupun lowongan pekerjaan bagi pengguna Linkedin. Perusahaan riset pasar Forrester bahkan memprediksi di tahun 2017 ini, investasi terhadap kecerdasan buatan akan meningkat sebesar 300 persen. Prediksi tersebut disebabkan oleh kemampuan AI dalam mengolah data menjadi insight yang berguna. Hal tersebut dapat membantu para penjual yang kini marak menggunakan media sosial sebagai sarana pemasaran. Dengan 2,4 miliar orang di dunia yang saling berinteraksi dan berbagi konten melalui media sosial, serta kecanggihan AI yang berkembang cukup pesat, sepertinya AI dan media sosial akan memiliki masa depan yang cerah di ranah marketing. Pertambahan insight di ranah pemasaran Ada miliaran interaksi dan post yang dibagikan di media sosial setiap hari. AI mampu mengolah jumlah informasi yang sangat besar tersebut, kemudian mengambil intisarinya untuk menunjukkan perilaku para pengguna media sosial. Dengan AI, tidaklah sulit untuk memahami maksud dari tulisan kamu di sebuah post, hingga proses seseorang dalam mengambil keputusan sebelum membeli sebuah barang. Kemampuan tersebut membantu platform media sosial untuk menyajikan konten yang benar-benar sesuai dengan ketertarikan kamu. Jadi, lini masa kamu selalu diisi oleh post atau konten yang relevan. Konten di media sosial yang lebih sesuai dengan minat masing-masing pengguna ini memiliki banyak sisi yang bisa dieksplorasi dari segi pemasaran. Dari situ, kemudian muncul beberapa cabang baru di ranah pemasaran untuk meningkatkan pehamaman penjual terhadap pelanggan dan menentukan strategi. Di antaranya adalah, audience clustering yang membantu penjual lebih mendalami pengelompokan target, predictive marketing yang bisa diandalkan untuk memprediksi tren ataupun pengambilan keputusan pengguna, dan brand sentiment analysis yang dapat membantu penjual memahami respons pembeli terhadap sebuah produk. Memahami makna gambar tanpa kata Media sosial adalah salah satu tempat yang paling disukai orang untuk berbagi konten, termasuk gambar atau foto. Pada tahun 2016 saja, sebanyak 3,2 miliar gambar dibagikan setiap hari di media sosial. Facebook adalah salah satu platform media sosial yang cukup memperhatikan kesukaan orang berbagi foto di media sosial. Raksasa teknologi ini mengembangkan teknologi facial recognition yang dapat meningkatkan akurasi identifikasi wajah seseorang ketika kamu melakukan photo tagging. Tak hanya sampai di situ, Facebook tengah mengarahkan pengembangan teknologi tersebut untuk tujuan bisnis. Nantinya, algoritme AI milik Facebook dapat memberikan penawaran khusus atau diskon secara real time kepada pengguna yang mengunggah foto mereka di hotel, restoran, atau pusat perbelanjaan. Pada tahun 2015, Pinterest mengakuisisi penyedia layanan machine learning Kosei. Akuisisi tersebut bertujuan untuk meningkatkan teknologi visual graph milik Pinterest agar dapat membantu brand menjangkau orang yang tepat di waktu yang tepat. Dengan begitu, penjual dapat memasarkan produk melalui gambar untuk menarik target yang lebih sesuai. Saat pengguna media sosial membagikan sebuah gambar, belum tentu mereka menyertakan caption atau hashtag yang menyebutkan merek terkait. Hal ini mungkin agak menyulitkan penjual yang ingin mencari tahu reaksi konsumen terhadap suatu produk di media sosial. Kemampuan AI dalam memproses gambar akan sangat membantu dalam kondisi tersebut. Perusahaan dapat mengotomatiskan pencarian dan identifikasi gambar yang berkaitan dengan sebuah brand tertentu. Jadi nantinya, keyword tidak akan diperlukan lagi dalam mencari gambar. AI sudah bisa melihat di mana saja gambar logo sebuah brand atau produk tertentu dan memberikan informasi yang relevan terkait reaksi pengguna walaupun tanpa mereka menyebutkan merek. Chatbot siap berkuasa Sebuah riset menyebutkan, 85 persen aktivitas customer service akan dibantu oleh AI pada tahun 2020. Ini artinya, sebentar lagi kamu akan banyak berinteraksi dengan chatbot saat menghubungi layanan pelanggan suatu perusahaan di media sosial. Dalam beberapa hal, mesin memiliki kelebihan dibandingkan manusia. Manusia bisa lelah dan mengantuk, sementara mesin tidak. Alih-alih membuat para pegawai customer service harus terjaga di malam hari demi melayani pengguna yang melayangkan komplain di tengah malam, AI bisa menggantikan tugas mereka dengan chatbot di media sosial. Chatbot bisa memberikan respons otomatis yang lebih cepat meski di jam yang tidak normal. Kemampuan AI dalam membaca pola dan perilaku konsumen juga dapat membantu chatbot dalam memberikan respons yang sesuai. AI memang sangat membantu media sosial dalam memberikan user experience yang baik dan meningkatkan interaksi pengguna. Kombinasi AI dan media sosial juga memberikan berbagai kemudahan bagi penjual dan meningkatkan strategi pemasaran ke level selanjutnya. Namun, kecanggihan AI ada baiknya tidak membuat kita terlalu manja dan menyerahkan semuanya pada produk-produk AI. Bagaimana pun juga, pemasaran yang terbaik adalah saat membuat orang tersentuh secara emosional melalui interaksi dengan manusia lain. Kebijakan dan keseimbangan dalam menyambut perkembangan teknologi mutlak diperlukan. Maka, keberadaan AI sebaiknya menjadi “pembantu” manusia dalam berpikir dengan lebih efisien, alih-alih menggantikan otak manusia dengan komputer.
Alibaba Gunakan AI untuk Memprediksi Pemenang Kontes Menyanyi di TV Perbincangan mengenai kecerdasan buatan (AI) seringkali memunculkan gambaran seperti dalam film Terminator, yaitu dunia yang dikendalikan oleh robot super cerdas. Padahal, AI juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat—contohnya memprediksi pemenang reality show di TV. Baru-baru ini, staf Alibaba menyiapkan AI rancangan mereka untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang I’m a Singer musim ini, acara realitas yang begitu digandrungi di Cina. Dengan menganalisis sekumpulan big data, AI ini diharapkan dapat mengetahui opini para juri sebelum mereka mengatakannya langsung—dan menentukan siapa pemenang acara tersebut. Kita sedang membicarakan data super besar Sepintas, cara kerja AI Alibaba mirip dengan cara analisis berbasis Twitter, yang pernah digunakan untuk memprediksi pemenang politik, perubahan pasar saham, dan hal-hal lainnya berdasarkan kicauan para pengguna media sosial. Menggunakan kemampuan AI untuk menganalisis jaringan media sosial agar bisa memprediksi sesuatu bukanlah hal yang baru—hal semacam ini juga pernah dilakukan oleh beberapa startup kecil. Namun, jika mempelajari pendapat dan diskusi di jagat maya—yang mungkin dapat meramalkan bagaimana seorang calon bisa menang berdasarkan pemungutan suara—AI milik Alibaba juga diharapkan mampu menandingi komentar para juri. Menurut penuturan Alibaba, teknologi rancangan mereka dapat menilai kualitas vokal si penyanyi, lagu membandingkan hal tersebut dengan faktor lainnya seperti pemilihan lagu dan respons penonton setiap menitnya. AI ini akan menghimpun informasi selama malam puncak I’m a Singer, dan akan menampilkan hasilnya untuk dibandingkan dengan penilaian juri manusia. Ada banyak data yang dilibatkan di sini. Bahkan terlampau banyak. Sehingga agak aneh rasanya memanfaatkan teknologi secanggih ini untuk memprediksi hasil sebuah program reality show, alih-alih untuk hal yang lain yang lebih bermanfaat seperti memprediksi pasar saham atau cuaca. Namun, tujuan prediksi ini memang sebagai demonstrasi. AI bernama “Ai” yang dirancang oleh anak perusahaan cloud computing Alibaba ini diharapkan dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih aktual, mulai dari prediksi tren sosial hingga asisten pribadi. Proyek ini dipimpin oleh Dr. Min Wanli, kepala ilmuwan AI di Alibaba Cloud, yang telah bergabung sejak 2013. Sebelumnya ia pernah mengadakan penelitian di IBM TJ Watson Research Center—tempat lahirnya AI Watson. Sama halnya seperti Ai, Watson juga pernah terlibat dalam acara TV. Bisa jadi suatu hari nanti AI milik Alibaba akan beradu dengan AlphaGo rancangan Google dalam sebuah permainan. Mungkin seperti itulah kiamat yang digambarkan oleh film Terminator bermula.
Seberapa Besar Kontribusi Teknologi AI pada Bisnis Bukalapak? Bukalapak meyakini teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memiliki banyak potensi untuk digunakan di semua lini bisnis, termasuk e-commerce yang menjadi bisnis intinya. Salah satu penerapan teknologi AI di Bukalapak yakni guna meningkatkan nilai transaksi di platform mereka, dengan menampilkan rekomendasi produk sesuai ketertarikan pengguna.Achmad Zaky selaku founder dan CEO Bukalapak menjelaskan bahwa teknologi AI sudah sangat berkembang di perusahaannya, karena bisa memahami karakteristik pengguna. Semakin sering pengguna berinteraksi dengan sistem Bukalapak, seperti melihat-lihat produk atau membeli sesuatu, maka AI akan mempelajari hal tersebut guna membantu pengguna menemukan barang sesuai kebutuhannya. Misalnya, ketika seorang pengguna sedang membandingkan produk jaket motor, maka AI akan mempelajarinya dan bisa menampilkan produk jaket motor lain yang spesifikasinya mendekati keinginan. AI bahkan bisa menampilkan produk pendukungnya seperti sarung tangan, helm, hingga sepatu biker. Dengan memanfaatkan teknologi tersebut, Bukalapak mampu membukukan transaksi tambahan yang nilainya diklaim lebih dari Rp50 miliar per bulan hanya dari bantuan AI. “Lewat pengembangan AI ini, pengguna bisa merasakan pengalaman belanja yang nyaman,” ujar Zaky. Tingkatkan respons customer service Penerapan teknologi AI tak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai transaksi. Bukalapak juga menggunakan AI untuk meningkatkan respons petugas layanan pelanggan mereka. Seiring dengan pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna Bukalapak dari tahun ke tahun, pihaknya memanfaatkan AI untuk efisiensi bisnis. Pertumbuhan tim operasional tak perlu setinggi pertumbuhan transaksi yang terjadi. Dalam praktiknya, AI yang bertugas untuk membantu bagian customer service ini menganalisis tulisan terkait permasalahan yang dialami pengguna. AI juga melakukan estimasi terkait tingkat urgensi permasalahan dan menentukan tim mana yang paling tepat untuk membantu pengguna secepatnya. Teknologi AI di Bukalapak turut dibekali kemampuan mengidentifikasi pelanggan-pelanggan yang tergolong VVIP, sehingga customer service mereka mampu memberikan pelayanan yang optimal. Tak hanya pelanggan VVIP, AI juga mampu membantu mengenali para pelapak baru yang membutuhkan bantuan pengingat terkait pengiriman barang. “Sentuhan manusia wajib ada meskipun menggunakan AI, terutama untuk customer service. Dengan AI, manusia dapat memahami permasalahan dan menemukan solusi lebih cepat,” jelas Zaky. Bukalapak bukan satu-satunya e-commerce yang memanfaatkan AI dalam meningkatkan efisiensinya. JD.com yang juga yang memiliki program pengembangan AI menerapkannya pada drone, robotik, mesin otomatis, teknologi supply chain. Selama lebih dari satu dekade, JD disebut mampu meningkatkan margin secara signifikan dengan memanfaatkan teknologi AI.
Era AI Tidak Terjadi di Masa Depan, Tetapi Sekarang! Saya sudah berkecimpung di industri teknologi selama delapan tahun dan merasa beruntung bisa mengakses sejumlah teknologi keren seperti layar sentuh inframerah, virtual reality (VR), teknologi penangkap gerakan 3D, teknologi pengenalan wajah, dan hologram. Namun, dari sekian banyak teknologi yang ada, tidak ada yang lebih menggelitik minat saya dibanding kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Arti AI bagi saya Saya selalu merasa terpesona dengan komputer AI, meski dulu waktu kecil, saya menyebutnya robot. Dan sama seperti anak kecil lain, saya merasa mereka luar biasa. Saya ingat betapa terobsesinya saya ketika film Terminator 2 dirilis. Arnold Schwarzenegger berperan sebagai sebuah mesin cerdas yang ditugaskan untuk melindungi seorang manusia bernama John Connor. Saya ingat bagaimana saya meminta teman saya, Ellison, untuk berpura-pura mengganggap saya sebagai robotnya selama seminggu. Meski keinginan menjadi terminator sudah lama berlalu, minat saya terhadap AI dan teknologi tetap berlanjut. Seperti apa AI saat ini? AI merupakan cabang dari ilmu komputer yang berhubungan dengan kecerdasan perangkat lunak atau mesin. Banyak orang salah paham dengan AI. Bagi mereka, AI adalah entitas cerdas yang punya kesadaran diri untuk bisa menghancurkan manusia nantinya–padahal kenyataannya tidak demikian. Saat ini, teknologi seperti itu belum ada. Umumnya, teknologi AI yang ada saat ini mengkhususkan diri hanya dalam satu area; misalnya Deep Blue milik IBM diajarkan cara bermain catur, sedangkan mobil Tesla diajarkan cara mengemudi mobil. Jadi, kita tidak bisa meminta Deep Blue untuk mengendarai mobil atau sebaliknya, meminta mobil Tesla untuk bermain catur. AI sendiri memiliki banyak sekali area penelitian seperti pengenalan gambar, pengenalan suara, pengolahan bahasa alami (PBA), serta analisis dan diagnosis ilmiah. Kemunculan chatbot ’Chatbot’ telah menjadi semacam jargon yang sering dibicarakan orang-orang. Lalu, apakah sebenarnya chatbot itu? Chatbot adalah sebuah layanan yang dibekali dengan pertanyaan dan jawaban tetap yang memungkinkan pengguna berinteraksi melalui chatting antarmuka dan menerima informasi tentang topik tertentu. Implementasi paling dasar dari teknologi ini melalui seksi FAQ sederhana yang memungkinkan seseorang untuk bertanya. Pertanyaan itu nantinya akan direspons oleh chatbot. Namun, selain implementasi dasar tersebut, teknologi ini tentunya juga bisa berkembang lebih lagi. Kamu juga bisa mengembangkan sebuah chatbot penjualan yang membantu pengguna mencari produk tertentu. Alih-alih menghabiskan banyak waktu menelusuri laman situs, pengguna bisa langsung mengatakan produk yang mereka inginkan kepada chatbot. Contoh implementasi dari chatbot ini adalah iklan interaktif. Dengan iklan ini, kamu hanya perlu berjalan menuju billboard dan berkata ‘tunjukkan koleksi pakaian pria,’ maka konten akan berubah sesuai permintaan kamu. Jadi, kamu tak perlu lagi melihat konten iklan umum atau yang tidak sesuai dengan kebutuhanmu. Chatbot di kehidupan nyata Konsep chatbot pada dasarnya adalah meniru pengalaman berbicara manusia di dunia nyata. Bedanya, pengalaman ini didapat melalui komputer yang tampak cerdas. Ikea telah menjadikan chatbot sebagai bagian integral dari strategi keseluruhan mereka. Anna, bot layanan pelanggan milik perusahaan tersebut, menjawab pertanyaan dan memberikan saran melalui Twitter dan email. Anna memiliki kemampuan untuk memberi pilihan cara berkomunikasi yang beragam bagi konsumen. Dan, jika diperlukan, bot tersebut juga bisa mengalihkan permintaan konsumen untuk ditangani oleh manusia nyata. Dengan kata lain, chatbot mempersingkat penjualan dan layanan pelanggan dengan balasan otomatis. Hal ini menjamin konsistensi dan efisiensi dalam penjualan atau pengalaman layanan pelanggan. Bagi konsumen, teknologi ini menawarkan cara yang lebih sederhana untuk mengakses informasi spesifik yang mereka minati. Kini, semakin banyak perusahaan yang mulai menggunakan chatbot. Uber misalnya, perusahaan ini memastikan layanan mereka sudah dilengkapi chatbot ketika merilis API mereka di China tahun lalu. Selain memberi kesempatan bagi developer untuk mengintegrasikan fungsi Uber ke dalam aplikasi pihak ketiga, perusahaan ini juga bekerja sama dengan sebuah startup AI, Raven Tech. ‘EVA’, asisten virtual Uber, memungkinkan pengguna di wilayah tertentu untuk memesan layanan Uber, berbincang tentang perjalanan dan mendiskusikan harga. Peluncuran Facebook ‘M’ menjadi pertanda adanya peningkatkan minat global terhadap chatbot. Sepertinya kita tengah memasuki fase teknologi selanjutnya, yakni sebuah layanan cerdas dan responsif yang sepenuhnya berfokus memuaskan dan memenuhi kebutuhan pengguna. Lebih nyata dari sebelumnya Dalam hal chatbot, negara Timur ternyata sudah lebih maju daripada negara Barat. Asisten virtual kini tersedia untuk melayani pengguna aplikasi chatting maupun konsumen sebuah merek. Jika konsumen ingin terhubung lebih dekat dengan peritel atau layanan yang mereka pilih, mereka hanya perlu membuka layanan pesan yang mereka gunakan setiap hari, lalu ajukan pertanyaan. Integrasi teknologi AI dalam kehidupan kita sehari-hari bukanlah sesuatu yang baru. Integrasi ini tidak terjadi di masa depan–ini sudah terjadi sekarang. Mungkin tampak menakutkan dan rumit, tapi seperti yang dikatakan John McCarthy (orang yang menciptakan istilah AI), “Begitu teknologi ini berhasil [diterapkan], tidak akan ada lagi yang menyebutnya AI.”
Apa Tujuan Grab Bangun Laboratorium AI bersama NUS? Pada tanggal 20 Juli 2018, Grab mengumumkan kerja sama dengan National University of Singapore (NUS). Mereka sepakat mendirikan laboratorium pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Singapura. Proyek yang mulai dibangun dengan investasi awal sejumlah SG$6 juta (sekitar Rp63 miliar) ini merupakan laboratorium AI pertama di bawah naungan Grab. Bertempat di NUS Institute of Data Science di Kent Ridge, laboratorium yang diberi nama Grab-NUS AI Lab akan dikelola oleh 28 orang peneliti gabungan dari Grab dan NUS. Peneliti akan memanfaatkan lebih dari tiga Petabytes data yang telah Grab kumpulkan untuk mengidentifikasi cara meningkatkan mobilitas dan kenyamanan perkotaan di Asia Tenggara. Lebih lanjut, CEO Grab, Anthony Tan, menjelaskan bentuk kerja sama dan tujuan pembentukan Lab. Dalam acara bertajuk Jakarta Tech Talk pada tanggal 2 Agustus 2018, Grab memaparkan perkembangan implementasi machine learning dalam platform mereka serta rencana proyek yang akan Lab tersebut laksanakan. Penelitian AI yang Grab dan NUS laksanakan memiliki tiga tujuan utama: Meningkatkan efisiensi dan keandalan transportasi platform Grab Memecahkan tantangan yang dihadapi kota-kota Asia Tenggara, seperti kemacetan atau kenyamanan hidup. Menunjang penelitian AI serta mengembangkan sumber daya manusia di Singapura sehingga berdampak positif terhadap wilayah sekitarnya. Untuk mencapai tujuan, ada lima kategori proyek AI yang mereka kembangkan, yaitu: Penumpang Kategori riset ini merujuk kepada pengembangan algoritme untuk personalisasi layanan dengan cara meneliti kebutuhan dan preferensi penumpang. Riset bertujuan mewujudkan prediksi yang lebih tepat terhadap pilihan layanan berdasarkan analisis aktivitas pengguna. Pengemudi Tidak hanya penumpang, mereka juga mempertimbangkan membuat layanan yang lebih akomodatif bagi pengemudi berdasarkan preferensi dan perilaku mereka. Algoritma Grab akan meneliti data lokasi kesukaan atau kebiasaan kerja pengemudi untuk disesuaikan dengan pesanan yang masuk. Salah satu tujuannya yaitu untuk mengurangi pembatalan pesanan oleh pengemudi. Lokasi Kategori riset ini bertujuan memetakan secara efektif posisi kendaraan bergerak serta mengidentifikasi titik penting (points of interest). Mereka berharap dapat menggunakan AI untuk mempelajari dan merekomendasikan landmark lokal secara visual sebagai patokan arah dan lokasi penjemputan. Perusahaan online-to-offline (O2O) ini juga berencana melakukan ekspansi algoritma untuk mengoptimalkan rute kendaraan roda dua termasuk di berbagai kota di Indonesia. Mereka akan melakukan pemetaan jalan di wilayah urban – terutama jalan-jalan kecil – guna mencari rute yang lebih efektif untuk kendaraan roda dua. Lalu lintas Grab ingin mengembangkan algoritma yang lebih efektif dalam mendeteksi peristiwa dan kondisi lalu lintas seperti kecelakaan atau kemacetan secara real-time. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan estimasi akurat terkait waktu perjalanan dan penjemputan pengemudi. Manajemen big data Lab ini juga akan mengembangkan penggunaan basis graphic processing unit (GPU) dalam machine learning serta manajemen data. Mereka berencana mengeksplorasi analisis visual untuk trajectory data atau data pergerakan objek seperti kendaraan dan manusia.
Neural Machine Translation Buat Hasil Terjemahan Google Translate Lebih Akurat Pada bulan November 2016 yang lalu, Google telah meluncurkan sebuah sistem penerjemahan baru untuk Google Translate, yang bernama Neural Machine Translation (NMT). Pada tanggal 27 April 2017, sistem yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan tersebut telah bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia di situs dan aplikasi mobile Google Translate, serta lewat fitur penerjemahan otomatis di browser Chrome. Berbeda dengan sistem lama yang digunakan Google Translate, teknologi ini didesain untuk tidak melakukan penerjemahan per kata, melainkan per kalimat. Mesin ini pun telah bisa mengenali kata yang menunjukkan jenis kelamin tertentu, sehingga kata “boy” tidak lagi diterjemahkan sebagai “anak”, melainkan langsung diartikan sebagai “anak laki-laki”. Hal ini memungkinkan NMT untuk mengurangi tingkat kesalahan penerjemahan hingga lebih dari 55 persen. Untuk melatih mesin yang berada di balik NMT, Google Translate menggunakan open source library khusus machine learning yang dikembangkan oleh Google, yaitu TensorFlow dan Tensor Processing Units. Mereka memasukkan banyak sekali kalimat beserta terjemahannya ke dalam mesin tersebut agar bisa melakukan penerjemahan dengan lebih baik. “Untuk penerjemahan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris dan sebaliknya, kami memasukkan ratusan juta kalimat beserta terjemahannya. Sedangkan untuk bahasa lain seperti Bahasa Perancis, kami melatih mesin tersebut dengan memasukkan lebih dari satu miliar kalimat,” jelas Macduff Hughes, Engineering Director untuk Google Translate. Kalimat-kalimat yang digunakan untuk melatih mesin NMT tersebut didapat Google Translate dari berbagai konten di dunia maya, serta dari hasil terjemahan komunitas pengguna mereka yang tersebar di berbagai negara. Untuk bisa menerjemahkan sebuah bahasa baru dengan baik, Hughes menyatakan kalau Google Translate hanya perlu melatih mesin penerjemahan NMT selama dua hingga empat minggu. Saat ini, NMT telah bisa kamu gunakan untuk menerjemahkan Bahasa Inggris ke 41 bahasa lain di seluruh dunia. Namun Hughes mengakui kalau NMT masih mempunyai beberapa kekurangan. Masih ada beberapa nama orang atau istilah yang mungkin salah diterjemahkan oleh NMT. Sebagai contoh adalah nama pemain sepak bola dari klub Leicester City, Danny Drinkwater, yang masih diterjemahkan sebagai “Danny Minum Air”. “Ke depannya, kami ingin membuat mesin penerjemahan Google Translate agar lebih memahami konteks. Mereka harus memperhitungkan lokasi di mana sang pengguna berada, arti dari kalimat sebelumnya, serta mengambil referensi dari artikel lain di internet,” tutur Hughes. Kehadiran NMT seperti menandai penerapan teknologi kecerdasan buatan dan machine learning di berbagai bidang. Di tanah air sendiri telah ada sebuah startup bernama Nodeflux yang memnafaatkan teknologi serupa untuk untuk memantau jumlah orang yang ada di suatu tempat secara otomatis hanya dengan video CCTV.
Skill Penting di Era Artificial Intelligence MEPNews.id – Diam-diam, suka atau tak suka, tidak diragukan lagi, kita telah berhubungan dengan apa yang biasa disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). AI, juga disebut machine intelligence (MI) adalah kecerdasan buatan yang ditunjukkan oleh mesin. Ini beda dengan natural intelligence (NI) alias kecerdasan alami yang ditampilkan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya. Saat belanja online, saat melihat produk ‘suggested for you‘, melihat iklan yang muncul di Facebook, atau melihat deposit di bank menggunakan ATM, sebenarnya kita sudah berhadapan dengan AI. Industri lain, mulai dari kesehatan, trasnportasi, kebugaran, media, hingga aplikasi perjodohan, juga mengadopsi AI untuk mengoptimalkan dan mengotomatisasi proses. AI sudah dikenal dunia akademis sejak 1990-an, namun pemanfaatannya baru beberapa tahun terakhir dan sekarang popular. AI adalah apa yang dikenal sebagai forward model dalam ilmu komputer. Ia membuat keputusan berdasarkan masukan ke dalam model, antara lain data berupa gambar, angka, atau sesuatu yang bersifat matematis dan terukur. Misalnya, mesin permainan catur. Model ini mampu memodifikasi prediksi berdasarkan dinamika arus input. Semakin lama dan banyak menerima input, model ini ‘makin cerdas’ dalam arti semakin banyak tebakan yang bisa dibuatnya tentang perilaku masa depan. Ini berbeda dengan backward model, atau algoritma komputer prediktif non-AI. Dalam backward model, prediksi dibuat berdasakan kumpulan data masa lalu dan parameter unik yang dipilih pada saat model itu dibangun. Misalnya, robot las di pabrik mobil. Oleh karena itu, backward model tidak memiliki kemampuan untuk memodifikasi perkiraan atau prediksi. Berapa kali dan berapa banyak backward model diberi umpan data, ia akan selalu memberikan jawaban atau reaksi yang sama untuk titik data yang sama. Mengapa sekarang AI digunakan secara lebih umum daripada sebelumnya? Pertama, berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan di balik pengembangan algoritma. Kedua, dengan banyaknya data yang dihasilkan, ini menjadi saat yang tepat untuk menggunakan forward model. Salah satu prinsip utama perancangan algoritma untuk AI adalah harus ada cukup data ‘pelatihan’ yang digunakan untuk ‘melatih’ model sebelum ia dapat membuat prediksi berarti. Jumlah ini bisa berkisar dari 10.000 titik data dan lebih banyak lagi. Kelimpahan data ini tidak ada dalam kapasitas yang sama sebelumnya seperti sekarang. Dengan prevalensi komputasi berkecepatan tinggi, inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan forward model. Sekarang, mari kita lihat apa yang AI bisa lakukan dan tidak bisa lakukan. AI mampu mereplikasi dan mengotomatisasi keputusan berdasarkan parameter tertentu yang dimasukkan ke dalam program. Namun, tidak peduli berapa hebat kekuatannya, AI tidak dapat menjadi kreatif. Sejauh ini, AI hanyalah program yang dapat dengan cepat dan efisien mencocokkan dan memilah data, tapi tidak dapat membuat keputusan kreatif mengenai berbagai hal, gagasan atau sesuatu. Meski bisa mereplikasi perilaku, AI sejauh ini tidak memiliki imajinasi. Itu karena AI hanya algoritma dengan teknik optimasi dan regresi fungsional canggih. Ini beda dengan otak manusia. Selambat apa pun kecepatan berfikirnya, otak manusia itu kreatif dan imajinatif. Manusia mampu memikirkan sesuatu dan mengimajinasikan hal-hal yang kemudian bisa diwujudkannya. Kata Walt Disney, “Jika bisa memimpikannya, Anda bisa melakukannya.” Sejauh ini, AI tidak bisa melakukan imaji atau berfikir kreatif. Lebih tepatnya, apa yang bisa dilakukan AI adalah tugas berulang dengan tingkat yang sangat efisien. Jadi, di zaman AI, kreativitas manusia harusnya lebih premium daripada sebelumnya. Dengan demikian, akan semakin banyak industri memanfaatkan power AI sehingga dapat menyebabkan berkurangnya tenaga kerja di bidang-bidang yang membutuhkan tugas berulang-ulang. Sebaliknya, sebagaimana disarankan DR Anna Powers untuk Forbes edisi 31 Desember 2017, dunia akan membutuhkan lebih banyak kreativitas yang hanya didapatkan dalam otak manusia. Jangan takut menghadapi era AI. Kecerdasan buatan itu buatan manusia. Kecerdasan alami kita itu buatan Tuhan.
Kesempatan AI di Indonesia AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan merupakan istilah favorit di kalangan startup Asia Tenggara. Mereka dengan tugas sebagai public relation mengenakan istilah AI sebagai untuk semua cakupan teknologi seperti machine learning, pemrosesan bahasa, serta pengenalan gambar. Namun demikian, hal tersebut adalah pusat dari sebuah revolusi yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan dunia, dan AI sangat membantu bisnis-bisnis untuk menjadi lebih efisien, menghasilkan pemasukan uang dari sumber baru, serta meningkatkan terhadap banyak akses seperti transportasi, kesehatan, dan sumber edukasi. Beruntungnya, Indonesia memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah wadah uji coba yang sempurna bagi pelaku startup yang berniat untuk menjajal bidang revolusioner ini. Utamakan Data Elemen mendasar di segala tingkatan teknologi adalah data. Tanpa kumpulan banyak data yang dapat dianalisa dan dipahami, bagian "pembelajaran" di machine learning tidak akan terwujud. Menurut Sachin Chitturu, digital core leader untuk Asia Tenggara di perusahaan McKinsey & Company, data lah yang menjadi kelemahan para pelaku startup di Asia Tenggara. Mereka kerap menemui rintangan terbesar di bagian data. Sitturu mengatakan, "data merupakan celah terbesar bagi startup," sebutnya tahun lalu di Tech in Asia Jakarta 2017. "Pilihan untuk mereka adalah mengumpulkan data tersebut secara individual, yang sudah pasti akan memakan waktu, atau berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan besar." Hanya sebagian kecil dari perusahaan di Asia Tenggara yang memiliki dasar mengenai pelanggan dalam skala besar yang dapat diujicobakan kepada algoritma AI. Menurut Chitturu, biasanya hal serupa dimiliki oleh dua golongan: telcos dan bisnis yang bergerak cepat (FCMG). Bekerjasama dengan perusahaan bergolongan tersebut merupakan awal yang baik bagi startup berbasis AI, tambahnya. Hal tersebut merupakan sebuah hal yang menguntungkan segala pihak atau virtuous circle. Jika startup memiliki teknologi yang dapat memudahkan cara kerja perusahaan dengan meningkatkan efisiensi atau membuat aliran pendapatan baru, maka mereka akan menjadi partner yang menjanjikan. Sebagai partner, startup dapat mendapat keuntungan dengan mendapatkan akses ke pusat konsumer dan banyak data berharga yang dikelolanya. Sebagai timbal balik, hal tersebut juga mengasah dan meningkatkan kemampuan AI milik startup, membuatnya menjadi partner yang lebih menjanjikan terhadap perusahaan-perusahaan yang berurusan langsung dengan pelanggan. Virtuous Circle Sebuah kolaborasi serupa terjadi diantara Kata.ai sebuah developer chatbot asal Indonesia dan Telkomsel, anak perusahaan Telkom, perusahaan telco terbesar di Indonesia. "Kami dapat melihat jumlah data yang mereka kumpulkan.. dan bisnis mereka bertumbuh dalam dua digit setiap tahunnya," ucap co-founder serta CEO Kata.ai Irzan Raditya. Dengan jumlah pelanggan yang begitu banyak seperti ini muncul lah kebutuhan interaksi dengan mereka lebih besar, bertambah pula beban kerja admin - dan yang tidak dapat dihindarkan, keluhan yang juga lebih banyak. AI chatbot milik Kata.ai dapat menangani beban kerja tersebut untuk Telkomsel, membuat pegawai operator jaringan dapat lebih berfokus pada urusan yang membutuhkan kemampuan manusia. Indonesia Menjuarai Cara lain memanfaatkan dataset yang lebih besar adalah dengan meluncurkan teknologi AI di pasar besar. Dan Indonesia sangat cocok terhadap kebutuhan tersebut di Asia Tenggara, terhitung sekitar separuh total populasi di Asia Tenggara dan dengan variasi demografik secara luas."Nilai meningkat seiring dengan meningkatnya skala," ucap Chitturu. "Jika dibandingkan berusaha di Singapura dengan lima juta jiwa, dengan Indonesia dengan 260 juta jiwa - skala ekonomi, biaya peningkatan sangatlah lebih baik." Namun, masih ada beberapa rintangan signifikan untuk dapat diatasi sebelum Indonesia dapat memulai mengkapitalisasi potensi tersebut. Tantangan terbesar adalah, akses terhadap talent, sebut Chitturu, meski ia menambahkan meskipun ini juga merupakan permasalahan global. "Bahkan perusahaan id Amerika pun juga mengalaminya. Karena terbatasnya jumlah ilmuwan data, dan sekalipun ada untuk menggaji mereka tidaklah murah." Sansan - sebuah startup asal Jepang yang menggunakan fitur AI untuk mendigitalisasi kartu bisnis dan membuat sebuah jaringan sosial dari data - mempekerjakan 10 hingga 15 ilmuwan data tergantung bagaimana anda menyebutnya, sebut COO Rio "PopEye" Inaba. Ia menyarankan para pelaku startup untuk melakukan usaha lebih dalam memahami para ilmuwan data tersebut menyangkut hal yang mereka cari dalam pekerjaan jika ingin menggaet ahli AI dengan mudah.
Mengapa Adopsi Artificial Intelligence Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara? Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar dan konsultan terkemuka IDC yang bertajuk "IDC Asia / Pacific Enterprise Cognitive / AI survey" menyoroti bahwa adopsi Artificial Intelligence (AI) di kawasan Asia Tenggara sedang meningkat. Tingkat adopsi AI saat ini mencapai 14% di seluruh Asia Tenggara, naik 8 persen dibandingkan tahun lalu, hal ini menandai langkah yang jelas oleh perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara telah mulai memakai AI / kecerdasan kognitif untuk operasinal mereka. Menemukan insight bisnis yang akurat telah menjadi pemicu adopsi AI, hal ini menurut lebih dari setengah (52%) responden, naik dari posisi ke-3 tahun 2017 lalu. Hal ini menyatakan bahwa kematangan dalam cara perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara memanfaatkan AI untuk meningkatkan bisnis mereka. Peringkat ke-2 mengapa banyak yang mulai memakai AI di Asia Tenggara adlah peningkatan proses otomatisasi (51%), dan peningkatan produktivitas (42%). Menurut laporan IDC, 24,6% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI, tertinggi di Asia Tenggara, diikuti oleh Thailand (17,1%), Singapura (9,9%) dan Malaysia (8,1%). AI di Asia Tenggara paling banyak dimanfaatkan untuk peramalan pasar algoritmik (17%), dan manajemen aset dan infrastruktur otomatis (11%). “AI sudah memberikan dampak positif yang sudah terlihat di dunia perbankan, manufaktur, kesehatan dan lembaga-lembaga pemerintah, ada potensi bahwa akan lebih banyak organisasi di Asia Tenggara yang akan memanfaatkan AI untuk menciptakan nilai yang berbeda. Kami berharap investasi di AI akan terus meningkat di kawasan ini, karena semakin banyak organisasi mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data dan analisis dapat membantu mengungkap insight-insight baru. Organisasi yang tidak memasukkan AI dalam operasi bisnis mereka akan kalah dengan kompetitor mereka yang memiliki AI dalam hal prediktabilitas, efisiensi, dan inovasi yang lebih besar ”kata Chwee Kan Chua, Direktur Riset Global, Big Data dan Analytics dan Kognitif / AI, IDC Asia / Pasifik. Meskipun ada kenaikan adopsi AI di kawasan ini, namun masih tertinggal jauh dengan adopsi AI di China maupun Korea Selatan. Sebagai contoh, lebih dari 80% perusahaan di China dan Korea Selatan percaya bahwa kemampuan AI akan sangat penting bagi keberhasilan dan daya saing organisasi di tahun-tahun mendatang, dibandingkan dengan kurang dari 40% perusahaan di Singapura dan Malaysia. Kurangnya Skills & Knowledge (23%) dan High Cost of Solutioning (23%) adalah salah satu hambatan yang paling sering menjadi alsan mengadopsi AI, menurut para responden. Meskipun adopsi keseluruhan di Asia Tenggara tertinggal di belakang Asia / Pasifik (kecuali Jepang), ada tanda-tanda yang jelas bahwa kawasan ini akan segera menyusul dengan cepat . Sebagai contoh, 34% organisasi di Malaysia memiliki rencana untuk mengadopsi AI dalam dua tahun mendatang, yang tertinggi kedua di antara negara-negara Asia / Pasifik. Mengapa Indonesia bisa memiliki tingkat adopsi yang paling besar di Asia Tenggara, mengalahkan Singapura yang merupakan negara maju? Hal ini bisa terjadi berkat cepatnya pertumbuhan perusahaan internet di Indonesia. Kini, perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia tengah bersaing ketat. Mereka berlomba-lomba untuk menyediakan jasa angkutan online, pembiayan mikro, e-commerce dan juga gaming. “Indonesia adalah market yang sempurna untuk berkembangnya AI. Fundamental dari AI dan analitik betul-betul bergantung pada ketersediaan data dan Indonesia saat ini sudah pasti memiliki volume dan skala data yang tepat, yang jelas sekali akan alasan perlunya berinvestasi di AI,” kata Peter Sugiapranata, Country Manager, SAS Indonesia. Tantangan bagi Indonesia adalah untuk benar-benar membayangkan bagaimana AI dan analitik dapat menjadi satu hal yang bisa membawa diferensiasi di dalam bisnis," ujarnya. Pasar Indonesia mirip dengan Tiongkok. Keduanya memiliki populasi yang besar dan pemerintah tidak segan untuk meningkatkan pengeluaran untuk membangun infrastruktur. Anehnya, meski tingkat adopsi AI Indonesia paling tinggi, tapi 59 persen responden Indonesia tidak memiliki rencana untuk mengadopsi AI dalam 5 tahun ke depan.
Survei: 87% Perusahaan Indonesia Melirik Teknologi AI Jakarta - Teknologi Artificial Intelligence (AI) yang merupakan kecerdasan buatan pada sistem, pada tahun mendatang diprediksi teknologi ini akan digunakan oleh banyak perusahaan-perusahaan secara global, terutama di Indonesia sendiri. Hal tersebut disampaikan oleh Accenture sebuah perusaahan layanan konsultasi dan solusi profesional global yang rutin melakukan survei setiap tahun. Di tahun ini mereka mengusung tema "Teknologi untuk Manusia" yang melibatkan 5,400 responden pelaku bisnis teknologi dari 31 negara dan 16 industri. Dari hasil survei tersebut didapatkan Indonesia memiliki persentase sebesar 87% sedangkan responden global sebesar 79% di mana mereka setuju bahwa teknologi AI akan merevolusi cara mereka memperoleh informasi dan berinteraksi dengan pelanggan. "Indonesia sekarang merasa bisnis mereka sangat akan terpengaruhi dengan kehadiran teknologi AI, bahkan kedepannya AI ini akan menjadi juru bicara meski bukan secara harfiah tapi ini adalah gabungan bagaimana customer akan berkomunikasi dengan perusahaan tersebut. Di Indonesia AI akan mulai populer," ujar Engkun W. Juganda, Managing Director - Resources, Technology Consulting, di Kantor Accenture, Kamis lalu (23/2/17). Menurutnya teknolgi AI di tahun 2017 akan mulai mencapai tahap maturity dan akan semakin banyak dipergunakan di berbagai area dan bisnis. Ia mencontohkan teknologi AI yang sudah diterapkan salah satunya di perusahaan mobil, di mana mobil tersebut sudah ada yang dapat menyetir dan memarkir sendiri. Lewat surveinya dapat dilihat mulai ada kesadaran para pelaku bisnis di Indoensia mau global akan kehadiran teknologi AI yang pada akhirnya mereka akan bersiap-siap untuk melakukan investasi yang lebih serius di bidang teknologi. "Perkembangan teknologi ini sangat mempengaruhi kehidiupan kita sebagai pebisnis maupun sebagai masyarakat. Kemudian teknologi ini, terutama yang berhubungan dengan AI akhirnya akan menjadi sangat manusiawi di mana akan sangat dimudahkan untuk melakukan hal-hal yang dulunya sangat susah dilakukan." tandas Engkun. (jsn/yud)
China Jor-joran Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan Jakarta - Tianjin, sebuah kota pelabuhan di sebelah utara China, akan menganggarkan 100 miliar yuan atau sekitar USD 16 miliar untuk mendukung pengembangan artificial intelligence di kotanya. Kota ini juga menganggarkan 10 miliar yuan (USD 1,5 miliar) lagi untuk mengembangkan pabrik cerdas. "Anggaran ini disahkan untuk mempercepat dan memperluas teknologi industri cerdas di kota," kata Wakil Walikota Tianjin Sun Wenkui seperti dikutip detikINET dari Xinhua, Kamis (17/5/2018). Anggaran 100 miliar yuan akan diinvestasikan di industri-industri berkembang seperti robot cerdas, perangkat keras dan perangkat lunak, termasuk 30 miliar yuan untuk mengembangkan perangkat cerdas dan peningkatan kecerdasan dari industri tradisional. Anggaran 10 miliar yuan akan digunakan untuk mendukung industri seperti Internet, robotik, integrated circuits, layanan informasi, dan integrasi sipil dan militer. Tianjin juga berkomitmen untuk memberi dukungan finansial dengan nilai maksimal 30 juta yuan (USD 4,7 juta) untuk institusi riset sains di tingkat nasional atau provinsi yang berbasis di Tianjin. Upaya Cina untuk mengembangkan AI di negara sendiri tentu menununjukkan komitmen Cina untuk mengalahkan dominasi Amerika Serikat. Keberhasilan Cina dalam mengembangkan AI juga akan berpengaruh positif terhadap sektor militer dan pertahanannya karena penggunaan AI yang semakin umum di sektor tersebut. (jsn/rou)
Apple Garap Prosesor Khusus untuk Kecerdasan Buatan Jakarta - Proyeksi Apple ke depan sepertinya tak lagi berkutat di perangkat saja. Produsen Cupertino, Amerika Serikat ini mungkin akan makin serius melirik teknologi kecerdasan buatan. Bukti keseriusannya pun tak main-main. Sebab Apple disebut tengah mempersiapkan prosesor khusus yang akan menangani teknologi kecerdasan buatan atau artificial intellegence (AI). Sejauh ini belum jelas ketahuan untuk apa prosesor tersebut didedikasikan. Namun kabar yang beredar menyebut rencana Apple ini erat kaitannya dengan peningkatan kemampuan untuk Siri. Selain itu prosesor yang dimaksud juga disebut bakal menangani pengenalan wajah yang mungkin bakal segera diusung iPhone, termasuk perintah suara. Tapi kalau gosip ini pun benar, sebenarnya hal itu tak mengejutkan. Pasalnya saat ini Siri mendapat tekanan dari banyak pesaing yang bisa dibilang punya kemampuan lebih menjanjikan, sebut saja Microsoft Cortana, Google Assistant, bahkan Bixby kepunyaan Samsung. Sehingga Apple memang harus bisa memberikan suatu yang lebih inovatif kalau tak mau ketinggalan. Apalagi, saat ini Apple juga masih menggunakan kemampuan prosesor utama dan prosesor grafis untuk menangani fungsi-fungsi kecerdasan buatan di perangkatnya, seperti iPhone. Sementara prosesor Snapdragon 835 buatan Qualcomm telah memiliki modul tersendiri untuk menangani kecerdasan buatan. Sejauh ini prosesor buatan Qualcomm itu telah digunakan oleh pesaing terkuat Apple, yakni Samsung di seri Galaxy S8 besutannya. Jadi bukan hal mengejutkan ketika Samsung turut mengumumkan Bixby sebagai asisten digitalnya sendiri bersamaan dengan pengumuman peluncuran seri Galaxy S8. Lebih lanjut, mengandalkan prosesor khusus AI yang tengah digarapnya, Apple juga disebut berencana membenamkan fungsi kecerdasan buatan di aplikasi. Sementara Gene Munster, yang dulunya dikenal sebagai analis Apple mengatakan Apple mengincar 2 area utama untuk membenamkan kecerdasan buatan, yakni di augmented reality (AR) dan mobil otonom. "Inti dari augmented reality dan self-driving cars adalah kecerdasan buatan," kata Munster, seperti detikINET kutip dari Bloomberg, Minggu (28/5/2017). Apple disebut-sebut akan mengumumkan kehadiran chip AI ini pada ajang Worlwide Developer Conference (WWDC) 2017 yang akan digelar pada awal Juni mendatang. Di acara yang sama, Apple juga mungkin akan mengungkap kelahiran iOS 11. Jadi nantikan saja! (yud/yud)